Petani Merugi, Abu Vulkanik Menyebabkan Terpaparnya Lahan Pertanian di Banyuwangi

Teropong Indonesia News-Banyuwangi

– Lahan pertanian milik warga Banyak yang rusak yang diakibatkan Gunung Raung yang terus-menerus mengeluarkan abu vulkanik menyebabkan terpaparnya lahan pertanian di Banyuwangi. Meskipun produktivitas hasil pertanian menurun, namun, Dinas Pertanian dan Pangan Banyuwangi memastikan stok tanaman pangan di Banyuwangi aman, Rabu (10/2/2021).

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Arief Setiawan, mengatakan, abu vulkanik melanda beberapa sentra pertanian di Bayuwangi. Data dinas tersebut menunjukkan luas lahan pertanian yang terkena dampak abu Gunung Raung seluas 440 hektare.

Beberapa tanaman hortikultura di kantong pangan Banyuwangi terkena dampaknya. Yakni di kawasan Kalibaru, Glenmore, Songgon, dan Sempu. Luas totalnya mencapai 440 hektare,” ucap Arief.

Komoditas di lahan yang terkena dampak termasuk padi, bawang putih, bawang merah, daun bawang, petai atau sawi, paprika besar, paprika, mentimun, labu siam, tomat, buncis, terong, dan semangka.

“Namun, hujan abu terjadi saat intensitas hujan di Banyuwangi tinggi. Sehingga abu yang menempel di tanaman akan terbawa air hujan,” imbuhnya.

Arief mengakui abu vulkanik akan berdampak positif bagi kesuburan tanah dalam jangka panjang. Namun yang perlu diperhatikan adalah dampak jangka pendeknya terhadap produktivitas lahan pertanian.

“Biasanya hasil pada masa erupsi akan menurun. Salah satu penyebabnya adalah penumpukan abu di dalam tanah menyebabkan penurunan keasaman tanah (ph) yang berujung pada penurunan produktivitas lahan. Namun di sisi lain, abu vulkanik dapat mengusir hama atau gulma karena makhluk ini tidak dapat hidup di lingkungan yang terlalu asam.

Untuk itu, Arif mengatakan, pihaknya telah mengirimkan Petugas Pertanian Lapangan (PPL) untuk melakukan pengawasan rutin.

“Secara umum petani sudah tahu apa yang harus dilakukan. Mereka bisa menggunakan PPL untuk konsultasi. Tapi kami pastikan Banyuwangi memiliki stok beras dan sayur yang cukup.” Jelasnya.

Eska Wijaya, petani Desa Rowobayu, Kecamatan Songgong yang menanam sawi dan seledri setiap hari, mengakui gegara hujan abu, hasilnya turun tajam.

Ia mengatakan, tanaman yang terkena abu, jika terkena sinar matahari akan layu. Dari panen biasa sayur sawi sebanyak 2 kuintal, kini turun menjadi 30 kilogram saja.

Menghadapi masalah ini, dia kemudian mengambil tindakan antisipasi. “Saya letakkan beberapa batang bambu di setiap barisnya dan ditutup plastik transparan, sehingga tanaman terlindung dari abu. Meski kadang kalau hujan bercampur angin masih ada saja debu yang masuk. Tapi cara ini sangat membantu,” pungkasnya. (Kur)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *