Teropongindonesianews.com
NTT – Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA), Lahir dari Rahim Gereja Katolik Nusa Tenggara dan Kongregasi Serikat Sabda Allah (SVD). Nama Widya Mandira, yang berarti “Menara Ilmu Pengetahuan”, dicetuskan pertama kali oleh Almarhum P.Dr. Van Trier, SVD Pada Tahun 1958.
Pada hari Raya Kabar Sukacita, 25 Maret 1982, Dewan Pimpinan YAPENKAR, dengan surat keputusan nomor 01 Tahun 1982, menyatakan berdirinya Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira).
Kuliah pertama terjadi pada tanggal 24 September 1982, dan tanggal ini kemudian ditetapkan sebagai DIES NATALIS UNWIRA.
Tepat hari ini, 24/09/2021 bertempat di Gedung Rektorat UNWIRA Kupang dilangsungkan acara ramah tamah memperingati hari berdirinya Universitas Katolik Widya Mandira Kupang.

Sebagaimana pantauan tim Teropongindonesianews.com di lokasi resepsi, acara ini sedianya akan dimulai pada pukul 10.00 WITA.
Selain tamu undangan yang hadir di lokasi, panitia juga menanyangkan moment bahagia ini secara daring. Sehingga sekitar pukul 09.30 peserta sudah mulai melakukan registrasi untuk berpartisipasi daalam acara ini.
Perayaan Dies Natalis UNWIRA tahun ini bersamaan dengan pelantikan rektor periode 2021-2025. P. Dr. Philipus Tule SVD kembali menjabat untuk periode kedua. Acara pelantikan Rektor Unwira sendiri terjadi pada pagi hari.
P. Yulius Yasinto SVD., MA., M. Sc. Selaku ketua pengurus YAPENKAR (Yayasan pendidikan Katolik Arnoldus) bertugas untuk melantik rektor baru.
Menurut P. Yulius proses pemilihan rektor Unwira periode 2021-2025 telah dimulai pada bulan April yang lalu dan berjalan dengan lancar, demokratis dan terbuka.
Pater Rektor sesudah dilantik, dalam sambutannya mengucapkan syukur berlimpah karena masih dipercayakan untuk menahkodai UNWIRA pada periode empat tahun kedepan. Ia pun sempat menjelaskan pandangan ilmu pengetahuan tentang usia dan menyebut beberapa tokoh yang tetap sukses walau di usia senja.
Mereka adalah Mao Zedong (di Cina dan revolusi kebudayaan), Kemal Ataturk (di Turki dan modernisasinya), Paus Benediktus dan Paus Fransiskus, Yosef Naisoi ( Wagub NTT) dan ia menyebut dirinya sendiri dalam bilangan itu.
“saya sangat bersyukur atas mandat dan kepercayaan dari Senat Akademik UNWIRA dan Yayasan Pendidikan Arnoldus yang masih memercayai saya mengemban tugas mulia ini. Meski dipandang dari segi usia saya bisa tergolong orang yang rentan terhadap cap alz-heimer ataupun gerontokrasi (= regime para pemimpin usur).
Namun karena dukungan berbagai pihak yang bersemangat muda, saya masih dinilai mampu untuk menakodai bahtera Unwira pada periode empat tahun ke depan,” ungkap Pater Philipus.
Sebagai seorang hebat yang tetap berkarya di usia senja, ia tetap menimba inspirasi dari Alan Deutschman dalam bukunya Change or Die: Three Keys in Changing Life (2007).
Ia yakin dengan berpikir, merasa dan bertindak (think, feel and act) atau dalam three critical keys yakni; relate, repeat and reframe lembaga Unwira tetap konsisten dalam penerapan standar mutu dan pelaksanaan Tri Dharmanya, di tengah era disrupsi, baik oleh teknologi canggih (Revolusi Industri 4.0) maupun oleh pandemi Covid-19.
Ia percaya, dengan kerja sama yang baik dengan semua komponen civitas academica Unwira dan Yapenkar, bisa menghantar Unwira sesuai panduan pada Peraturan Menteri Ristek dan Dikti No. 44 tahun 2015 tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi dan Renstra Unwira 2017-2021.
Kurikulum tetap mengacu pada pada Kerangka Kwalifikasi Nasional Indonesia (KKNI) yang telah dimulai sejak semester gasal TA. 2017/2018 dan mengikuti Renstra Unwira 2021-2026.
Di akhir sambutannya, ia menekankan pentingnya kinerja penelitian dan publikasi serta adanya pembukaan prodi baru seperti Antropologi Budaya dan Agama, Teknologi Pangan dan Prodi Guru Komputer.
Hal-hal ini merupakan hasil pengamatan akan Kebutuhan situasi NTT, demi terciptanya peningkatan kwalitas SDM dan Unwira bisa menjadi salah satu PTS yang maju dan Bermutu di NTT dan Indonesia.
Regina selaku Ketua Senat Mahasiswa periode 2021-2022, “saya melihat sosok Pater Rektor sebagai pribadi yang penuh totalitas dalam membangun Unwira dan memberikan ruang bagi mahasiswa untuk bersuara dalam menunjukkan eksistensi diri mereka sebagai pribadi.
Ia pun berharap agar Rektor Unwira bisa terus membawa Unwira kearah yang lebih positif, mengemban tugas dengan penuh tanggung jawab dan penuh cinta.”
Salah seorang alumni yaitu Arnold Feka, S. Fil. Yang dalam kesibukannya belajar teologi pada Universitas Pontifikat/Kepausan Comillas, Madrid-Spanyol turut memberikan komentar mengenai Pater Rektor.
Menurutnya Pater Rektor yang sempat juga menjadi dosennya dalam mata kuliah islamologi adalah pribadi yang berwibawa dan disiplin dalam menata sistem yang ada.
Ia berharap agar bisa terus mengembangkan pendidikan tidak hanya dalam hal intelek tetapi juga hal-hal lainya seperti karakter kepribadian, menanamkan nilai-nilai moral dan mendorong kearah pancasilais.
Sosok Pater Rektor mendapat banyak tempat di hati mahasiswa dan bahkan alumni.
Ia berjuang dengan keras dan total untuk menciptakan kemajuan ilmu pengetahuan bagi para mahasiswanya. Ia berdiri bagai menara ditengah pandemi.
Y. Riberu




