PROGRAM KEWIRAUSAHAAN MASUK SEKOLAH MENEGAH ATAS DI NAGEKEO MELALUI BUDAYA TENUN IKAT

Teropongindonesianews.com

Boawae-Nagekeo- Pembukaan sosialisasi program kewirausahaan ‘ Tenun Ikat ‘  yang diselenggarakan oleh SMAS St. Fransiskus Boawae sebagai sekolah klaster wirausaha Tenun Ikat yang dihadiri oleh 5 sekolah  tingkat SMA/SMK  Kabupaten Nagekeo sebagai sekolah imbas.

Kegiatan ini dilaksanakan di halaman tengah SMAS St. Fransiskus Xaverius Boawae yang lebih dikenal dengan sebutan Smafix Boawae. Kegiatan ini akan berlangsung dari tanggal 29 september – 3 Oktober.

SMAS Fransiskus Xaverius Boawae, Nagekeo menyelenggarakan sosialisasi program kewirausahaan tenun ikat yang difasilitasi oleh pemerintah pusat.

Acara pembukaan sosialisasi ini dihadiri oleh Matias Sudin sebagai Korwas mewakili kepala dinas pendidikan propinsi, Domi Sola sebagai pengawas SMA/SMK, Diperindag kabupaten Nagekeo ibu Matilde Jawa Ria, Keenam sekolah imbas yakni SMAS St. Clemens Boawae, SMAN 1 Boawae, SMAN 1 Mauponggo,  SMAS Setiawan Nangaroro dan SMAN 1 Aesesa. Hadir juga para Nara sumber yakni ibu Maria Goreti tuda, ibu Sofia owa, ibu Klara Maria Agnes Wona, ibu Fransiska Lodo.

Dalam sambutan pembukaan, BPK Bruno Kewo, S.Fil, mengucapkan terima kasih kepada para peserta dari kelima sekolah imbas yg diwakili oleh seorang siswa dan guru pendamping dari masing- masing sekolah, para narasumber dan proficiat kepada guru dan para siswa smafix yang dipercayakan oleh pemerintah sebagai sekolah klaster wirausaha tenun ikat di kabupaten Nagekeo.

Beliau juga menginformasikan bahwa kegiatan dimaksud merupakan lanjutan dari kegiatan Bimtek di Bogor yang dihadiri olehnya sebagai kepsek dan penanggung jawab sekolah klaster wirausaha tenun ikat.

Menurutnya kegiatan ini juga adalah kegiatan saling berbagi ilmu pengetahuan dan ketrampilan tenun ikat yang dapat dijadikan wirausaha perseorangan maupun kelompok.

Selanjutnya dalam sambutan kepala dinas pendidikan propinsi yang diwakili oleh oleh Korwas, BPK Matias Sudin menegaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler dan mulok tenun ikat di sekolah merupakan kegiatan ketrampilan untuk menyelamatkan budaya menenun di kabupaten Nagekeo.

Peserta yang hadir dalam kegiatan hari ini adalah pelaku pertama yang menghidupkan kembali tenun ikat yang kurang diminati lagi oleh anak- anak zaman sekarang atau anak-anak milenial.

Dia berharap semoga dalam kebersamaan dan saling berbagi setiap siswa dari kelima sekolah yg mewakili para siswa di sekolah masing-masing dapat berkolaborasi dan menghasilkan kain tenunan yang berkualitas serta motif yang disentuh oleh teknologi sehingga mampu menarik minat masyarakat untuk membeli dan memakainya karena kualitas kain tenun sekarang sudah menurun kualitasnya.

Orang hanya sekedar-sekedar saja menenun untuk memenuhi kebutuhan pemakai dalam acara-acara adat. Kain tenun hadir hanya sebagai lambang dan penunjuk identas pemakai saja.

Kegiatan menenun yang dikembangkan oleh SMAS St. Fransiskus Xaverius Boawae merupakan bagian dari tradisi budaya Nagekeo demi pelestarian budaya tenun yang harus diwarisi oleh generasi muda.

Warisan ini dipandang sebagai harta berharga milik masyarakat Nagekeo yang bernilai tinggi untuk dikembangkan.

Kegiatan menenun di Smafix sudah dimulai sejak diberlakukan PJJ ( Pembelajaran Jarak Jauh ) di pertengahan tahun 2019 pada masa pandemi covid- 19.

Ada misi dan tujuan kegiatan menenun yang dilakukan oleh para siswa Smafix yakni membantu siswa dalam melestarikan budaya menenun, mempromosikan budaya tenun ikat Nagekeo dan membantu para siswa dan siswi untuk menghasilkan pendapatan sendiri.

Eksistensi sanggar tenun ikat lebih diutamakan kepada kualitas proses produksi menjadi selembar kain dengan proses produksi yang bersifat manual sehingga dalam kegiatan sosialisasi ini menghadirkan Nara sumber yang berkompeten untuk memberikan materi berkaitan dengan tenun ikat.

Ibu Maria Goreti Tuda memberikan materi penerapan Aplikasi Tenun Kain Kimia, Ibu Sofia Iwa memberikan materi penerapan Aplikasi Kain Ragi, Ibu Klara Maria Agnes Wina tentang usaha dengan metode penjualan asar manual dan digital Marketing dalam dunia usaha, dan Ibu Fransiska Lodo memberikan materi usaha metode pemasaran hasil tenun ikat.

Diulasan-ulasan materi selama sosialisasi oleh para Nara sumber, Lebih lanjut Bruno selaku kepsek Smafix  menyatakan bahwa memproduksi kain yang berkualitas itu tidak mudah dan membutuhkan waktu yang cukup lama.

Hal inilah menjadi alasan dasar mengapa harga kain tenun relatif lebih mahal jika dibandingkan dengan kain batik.

Beliau juga mengajak semua peserta untuk sama-sama melestarikan warisan budaya bangsa khususnya kabupaten kita Nagekeo dengan mulai mencintai dan menggunakan produk hasil anak bangsa.

Albert

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *