Ja’i Ditetapkan Menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia tahun 2021

Teropongindonesianews.com

Setelah melewati proses seleksi administrasi oleh sekretariat warisan budaya tak benda kemudian verifikasi usulan, pemaparan dan sidang akhirnya pada hari Jumat (29/10/2021) Ja’i akhirnya ditetapkan sebagai Warisan Takbenda tahun 2021 dari 28 provinsi.

Terima kasih kepada ibu Paschalia Asri Kepala Seksi Cagar Budaya dan Permuseuman yang telah memberikan kepercayaan pada saya untuk hadir sebagai pendamping dalam sidang yang dilakukan secara zoom pada hari Selasa (26/10/2021) yang lalu. Demikian juga kepada nara sumber/maestro bapak Yan Mopa.

Perihal ini merupakan pengakuan bahwa Ja’i adalah benar-benar tarian tradisional dari masyarakat Ngada yang terdapat pada budaya etnis Ngada di Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Ja’i merupakan tarian tradisional yang dilakukan secara massal dan merupakan ungkapan rasa syukur dan kegembiraan. Tari Ja’i ini merupakan salah satu tarian tradisional yang terkenal dan digandrungi masyarakat Ngada bahkan di seluruh kepulauan Flores. Tarian ja’i biasa ditampilkan dalam berbagai acara seperti perayaan, upacara adat, dan menyambut tamu kehormatan.

Anak muda Ngada saat ini memang sangat gandrung pada Ja’i tetapi dalam konteks profan. Bahkan banyak yang menciptakan dan mengkreasikan Ja’i dalam aneka bentuk. Ini adalah bentuk respon dan tanggapan mereka terhadap lingkungannya, interaksinya dengan alam, serta sejarahnya. Melalui ja’i anak muda merasa punya jati diri. anak muda punya komitmen untuk memajukan penghormatan terhadap warisan budaya tak benda.

Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) warisan budaya tak benda adalah segala praktik, representasi, ekspresi, pengetahuan, keterampilan serta alat-alat, benda (alamiah), artefak, dan ruang-ruang budaya terkait dengannya, yang diakui oleh berbagai komunitas, kelompok, dan dalam hal tertentu perseorangan sebagai bagian warisan budaya mereka.

Warisan budaya tak benda meliputi tradisi dan ekspresi lisan, termasuk bahasa, seni pertunjukan, adat-istiadat masyarakat, ritus, dan perayaan-perayaan. Selain itu, juga pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenal alam dan semesta serta kemahiran kerajinan tradisional.

*John Lobo*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *