MENANG-KALAH PILKADES WOKOWOE

Teropongindonesianews.com

Dionisius Ngeta
(Putera Nagaroro-Nagekeo,
Bekerja Di YASBIDA Maumere)

Rabu, 17 Nopember 2021, gelanggang pentas Pilkades Wokowoe, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo, NTT memperebutkan mandat dan kedaulatan masyarakat dilangsungkan sebagaimana dijadwalkan panitia.

Politik dengan selebrasi kutak-katik dan tiki-taka ala permainan “Berca” sudah dimainkan para kandidat bersama timnya.

Strategi tiki-taka dengan selebrasi kutak-katik adalah strategi dan cara memperebutkan suara rakyat dan menggalang dukungan berbagai elemen masyarakat.

Ada kesemaan nilai yang harus dan pasti dijadikan pegangan, pedoman bahkan menjadi “goal” (tujuan) dan kultur pada setiap pertandingan, entah pertandingan politik seperti Pilkades Wokowoe atau partandingan lainnya seperti sepak bola. Nilai-nilai kebersamaan, sportivitas dan kejujuran merupakan kualitas dan keadaban kemenangan dari sebuah pertandingan memperbutkan kemenangan atau mandat dan kedaulatan rakyat.

Mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) berpesan kepada para atlet sebelum melepaskan kontingen penyandang disabilitas DKI dan Kontingen Santri Pesantren DKI menuju Pekan Olahraga dan Seni antar Pondok Pesantren Nasional (Pospenas) VII:

“Saya selalu katakan, saya tidak pernah berpikir untuk mengejar juara 1, bagi saya juara satu itu adalah excess (kelebihan) kita ketika tekun bertanding. Target kita bukan juara satu, tapi memupuk kebersamaan, sportivitas dan kejujuran,” (Detikcom, Selasa, 4/10/2016). Nilai-nilai tersebut mestinya menjadi kultur dan peradaban baru dalam berpolitik, memperebutkan suara rakyat. Bukan asal atau soal kalah atau menang.


Meperkuat Kebersamaan
Kebersamaan adalah rahim yang mengandung dan melahirkan eksistensi dan aktivitas politik. Eksistensi dan aktivitas politik tidak lain untuk kebaikan bersama (bonum commune). Politik lahir dari sejarah dan keseharian hidup manusia.

Karena itu politik merupakan aktivitas manusia, terjadi dalam kehidupan bersama dengan manusia dan memiliki tujuan untuk kepentingan manusia, demikian Aristoteles.

Dalam kebersamaan itu, manusia mengaktualisasikan dirinya sebagai makhluk sosial dan makluk polis (zoon politikon). Kodratnya sebagai makhluk sosial dan makhluk polis diungkapkan dalam kebersamaan (communio) dan dalam kebersamaan itu pula tujuan politik bisa tercapai.

Sebagai sebuah pertandingan dengan berbagai macam selebrasi politik, Pilkades Wokowoe merupakan aktivitas persaudaraan, kekeluargaan dan kebersamaan. Sebuah aktivitas yang melibatkan manusia, dengan tujuan untuk kepentingan manusia yakni kebaikan bersama masyarakat Wokowoe. Dalam konteks ini, Pilkades Wokowoe bukan sebuah pertandingan apalagi perang para kandidat untuk sebuah kemenangan tetapi sebuah kontestasi bersama untuk sebuah kepentingan bersama, kepentingan masyarakat.

Bagaimana dan apapun selebrasi politiknya dan hasilnya, nilai dan kultur kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan dan kebersamaan harus tetap dijaga agar tidak tercabik-cabik ketika ada yang mengalami kemenangan tertunda.

Kemenangan bukan tujuan dari sebuah kontestasi politik tetapi hasil dari sebuah perjuangan dalam kebersaman sebagai makhluk sosial dan makhluk polis demi kepentingan bersama. Semua kontestan tentu sudah berjuang maksimal. Apapun hasilnya, kandidat dan tim pemenangan harus memiliki kebesaran hati dan kekuatan jiwa untuk menerima dan siap menang dan siap kalah.

Karena kalah-menang tidak ada yang abadi. Kalah menang bisa datang dan kemudian pergi. “Kalah jadi abu, menang jadi arang”, demikian pepata klasik.

Siapapun atau kandidat mana pun yang menjadikan kalah atau menang sebagai tujuan maka ia sedang menjalani hidup yang palsu. Sejatinya, Pilkades Wokowoe bahkan hidup ini bukanlah soal kalah atau menang. Pilkades Wokowoe bukan perlombaan, bukan pula perang/pertempuran.

Pilkades Wokowoe bahkan hidup ini adalah sebuah pertandingan yang membutuhkan kebesaran hati dan kekuatan jiwa demi bonum commune. Hati dan jiwa yang membuat kita melampaui kalah atau menang dan mampu melihat keadaan dengan jernih, tanpa ambisi tanpa rasa takut karena bagaimana pun juga kita tetap bersama baik sebagai yang mendapat mandate masyarakat Wokowo maupun yang belum.

Tak perlu takut atau menyesal saat kalah tapi tak perlu sombong saat menang. Kita tidak bisa menang, kecuali jika kita belajar bagaimana untuk kalah.
Meningkatkan Sportivitas
Dalam Piala Dunia tahun 2014, Kroasia memang akhirnya kalah.

Namun dunia mencatat bahwa mereka memiliki sportivitas yang tinggi. Kroasia meraih kemenangan moral, kemenangan tertinggi dalam persaingan!
Sportivitas memang pahit karena ia mengharuskan kita untuk lebih menjunjung etika dan moral daripada hasil kemenangan.

Muara sportivitas adalah keluhuran nilai. Etika dan moral mengorientasikan manusia pada proses menemukan kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kepantasan.

Dalam persaingan, etika dan moral menuntut kita untuk mengutamakan martabat dalam meraih kemenangan. Karena itu, orangtua kita mengatakan, “Untuk apa menang, sukses, dan kaya raya jika kamu tidak terhormat?”

Filsuf peraih hadiah Nobel, Albert Camus, menyebut sportivitas sebagai nilai yang membangun karakter manusia, tak ada hubungan secara langsung dengan kekalahan dan kemenangan. Kekalahan dan kemenangan adalah akibat dari perjuangan.

Sportivitas mengutamakan proses, mengajarkan manusia untuk menemukan nilai-nilai ideal berupa kejujuran dan keadilan yang bermuara pada martabat.
Kompetisi dalam memperebutkan suara rakyat perlu dikembalikan pada kultur sportivitas. Saling menghormati antar kandidat menjadi keniscayaan dalam membangun demokrasi yang bermartabat. Basis persaingan harus dikembalikan pada visi, misi, dan program, bukan kebencian dan permusuhan. Pilkades Wokowoe dimaknai dan dipahami sebagai bagian dari kultur demokrasi untuk mewujudkan kesejahteraan kolektif. Kultur demokrasi selalu berbasis pada etika, moral, dan etos sehingga memberikan inspirasi dan pencerahan kepada publik. Inilah demokrasi yang bijak, jujur cerdas dan visioner. Saya percaya para kandidat adalah agen kebudayaan, bukan sekadar menjadi pemburu kemenangan dan kekuasaan yang mengorbankan peradaban dan kebersamaan.

Oleh karenanya tekad untuk melakukan perubahan di desa sesuai dengan visi-misi yang diusung terutama menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan, kekeluargaan, persahabatan, transparansi, sporitivitas, jujur dan pemerintahan yang bersih dan dapat dipertanggungjawabkan sebagai kultur dan peradaban baru dalam menjalankan roda pemerintah di berbagai level adalah sebuah keniscayaan sebagai wujud tanggungjawab moral terhadap mandat rakyat.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *