HERI LETE : JADILAH GARAM DAN TERANG DUNIA BAGI ORANG LAIN

Teropongindonesianews.com

Maumere – Menyongsong  pelaksanaan Sinode Keuskupan Maumere tahun 2022, Pusat Pastoral ( PUSPAS) Keuskupan Maumere mengadakan pendampingan dan pelatihan bagi  para guru agama Katolik tingkat dasar dan menengah untuk menjadi  tim fasilitator Sinode Keuskupan Maumere.

Kegiatan   yang bertemakan :  Berjalan bersama untuk mengembangkan  Komunitas Basis Gerejani (KBG)  sebagai komunitas perjuangan, adalah kerja sama antara Lembaga Keuskupan Maumere dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Sikka yang dilaksanakan selama lima hari dari tanggal 16-20 Nopember 2021 di Wisma Nasaret Nelle – Maumere – Flores NTT.

Direktur  Pusat Pastoral Keuskupan Maumere, RD. John Eoh Pr, dalam  kata sambutan mengatakan  Fasilitator  itu sangat penting dalam pelaksanaan Sinode, tim fasilitator ini  bekerja untuk menfasilitasi seluruh  rangkaian  kegiatan  pelaksanaan Sinode. Pusat Pastoral Keuskupan Maumere sangat mengharapkan dukungan dari Kantor Kementrian Agama Kabupaten Sikka lewat para guru agama Katolik untuk menjadi fasilitator Sinode di tingkat Keuskupam Maumere.

RD Jhon menambahkan kegiatan ini  dampingi oleh Lembaga Pusat Penelitian Agama dan Kebudayaan Candraditya Maumere, Pater Hubert Thomas Hasulie SVD, dengan menggunakan metode Analisis Sosial ( Ansos ).

Metode ini sangat membantu fasilitator untuk menganalisis masalah-masalah yang terjadi  di tengah masyarakat, baik di komunitas basis gerejani maupun di paroki serta Keuskupan.

Kepala Kantor Kementerian Agama  Kabupaten Sikka, Yosep  Heribertus Reda Lete, S.Ag., MAB, dalam  acara penutupan kegiatan pelatihan fasilitator Sinode memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini, bahwa pemerintah dan pihak gereja selalu berjalan bersama dalam  memberikan pelayanan dan pendampingan terhadap umat atau masyarakat.

” Selama ini seolah –olah ada dikotomi antara pemerintah dengan gereja, Pemerintah dianggap hanya berurusan dengan dunia profan sedangkan gereja  hanya berurusan hal-hal rohani, Kini saatnya kita harus berjalan bersama “, Ujarnya.

Di katakannya lagi bahwa Guru agama tidak boleh hanya mengurus  hal-hal rohani saja, tetapi juga berpikir tentang masalah kehidupan ekonomi umat,  ” Bagaimana mungkin umat bisa berdoa dengan khusuk kalau umat lapar ? “, Jelasnya, Di tambahkannya bahwa Guru agama  pagi ke sekolah untuk mengajar peserta didik dan sore hari sebagai katekis untuk melaksanakan pelayanan pastoral di kombas dan di paroki, Tugas ini sebagai sebuah panggilan sesuai misio canonik. Peserta fasilitator diharapkan  dapat menggunakan metode analisis sosial secara tepat sehingga dapat menemukan akar permasalahan yang dialami umat   sekaligua dapat menemukan jalan keluar secara persuasif dan selalu  menampakan kegembiraan, “Jadilah garam dan terang dunia  bagi orang lain“, Tegasnya.

Para fasilitator sinode tingkat keuskupan  yang sudah dibekali dengan materi akan memberikan  latihan bagi kepada  fasilitator tingkat komunitas umat basis  , lingkungan serta paroki diseluruh  Keuskupan Maumere.

 

Agus Badjo Wartawan / Kepala Biro Sikka Media TIN 

 

 

 

.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *