
Teropongindonesianews.com
JEMBER- Hantaman ekonomi global menjadikan kehidupan masyarakat semakin mengalami persoalan kompleks. Sebab kehadiran media digital dan alat-alat canggih menggeser semua eksistensi peran tenaga manusia menjadi tenaga mesin, misalnya dari sektor pertanian kini di desa-desa sudah hadir alat canggih yang mengurangi tenaga manusia, berupa mesin bajak sawah, mesin alat tanam, dan juga mesin panen baik padi ataupun jagung. Dari sektor perdagangan kini berbagai platform digital juga turut mewarnai kehidupan masyarakat di segala penjuru dunia termasuk di Indonesia. Seperti adanya toko online berupa tokopedia, lazada, Shopee, go Food, Go Jek, Go Car dan berbagai jenis pelayanan online lainnya.
Fenomena ini tidak dapat dipungkiri dan merupakan sebuah niscaya dalam kehidupan bermasyarakat sehingga hal ini merubah nilai dan cara pendang masyarakat serta menunut livestyle menjadi kehidupan yang glanmor, konsumtif dan mendorong manusia untuk malas-malasan sebab semua aktivitas yang seharusnya menggunakan tenaga manusia berubah menjadi tenaga mesin seakan manusia merupakan raja yang tinggal memerintah dan terus dilayani.
Ada efek positif dan negatifnya, yakni secara peradaban dapat dikatakan maju dan melek teknologi, namun di sisi lain bagi masyarakat kecil yang tidak sanggup berkompetisi melawan realitas global akan semakin terkikis dan bahkan terjajah secara ekonomi di negeri sendiri. Misalnya di sektor pertanian menanam atau memanen tentu memerlukan banyak tenaga namun hadirnya alat canggih tersebut banyak tenaga yang tidak terpakai sehingga melahirkan pengangguran-pengangguran buruh tani yang penghasilannya bertumpu pada pekerjaan di pertanian tersebut. Begitu pula sektor perdagangan, hadirnya media online akan membuat kurang maksimalnya penjual yang secara langsung.
Hal inilah yang menjadi kegelisahan tokoh muda Nahdhatul Ulama asal kecamatan Mumbulsari-Jember Arif Humaidi. Pemuda kader penggerak angkatan 2021 ini melihat realitas warga masyarakat sekitar yang membutuhkan uluran tangan untuk mendapatkan suplay pendapatan ekonomi berupaya untuk sedikit meringankan beban mereka dengan mendirikan sebuah kampung yang dikenal dengan Kampung Muamalah.
Kampung Muamalah hadir dalam rangka menjawab tantangan ekonomi Global bagi masyarakat kecil yang tidak berdaya menahan hantaman gloalisasi. Melalui program ekonomi produktif berupa kerjasama bagi hasil dengan masyrakat sekitar Arif Humaidi meciptakan terobasan baru dengan sistem bagi hasil yang betul-betul membuat masyarakat senang. Yaitu bagi hasil sebanyak 45% yang sebelumnya belum pernah ada pada setiap aktivitas kerjasama di masyarakat Mumbulsari-Jember.
Selain bagi hasil tersebut, Arif Humaidi juga melakukan pemberdayaan masyarakat untuk berfikir produktif dalam hal ekonomi. Pemberdayaan itu beruoa peningkatan sumberdaya manusia melalui pelatihan perah susu kambing, sablon bagi pemuda, dan juga pembuatan serbuk jamu tradisional. Dengan adanya skill yang dimiliki masyarakat terkait tiga skill ini Arif berharap akan mendongkrak penghasilan masyarakat dan mengasah kemmapuan serta menggali potensi diri dalam hal perekonomian.
Masyarakat yang membutuhkan itu merupakan tanggung jawab kita bersama, lanjut dia, agar harta benda yang kita miliki tidak hanya beredar pada orang-orang tertentu, sebab bagi yang kaya harta benda yang dimiliki terdapat hak-hak saudara kita sesama muslim, ujar arif.
Tatang/ Zbaed







