
Teropongindonesianews.com
SITUBONDO – Sebuah kehormatan yang sangat besar bagi seorang Hosnatun atau yang lebih akrab di Panggil Pak Tutun di undang sebagai Narasumber Workshop Seni Budaya tradisi topeng yang di gelar oleh padepokan seni Mangun Dharmo Tumpang dalam acara Kembul Topeng # 2
Kembul Topeng # 2 yang merupakan perhelatan akbar silaturahmi para maestro topeng se Jawa, Bali dan Madura yang di mulai dari tanggàl 19 Agustus hingga 26 Agustus 2023.

Dalam kesempatan event bergengsi tersebut, Pak Tutun mendapat kesempatan mengisi acara Workhshop di hari ke V dengan tema Topeng Branyak Pesisiran Situbondo.

Acara Workhsop Pak Tutun tersebut di hadiri oleh para senimam, Praktisi Seni dan kalanngan Akademisi, Mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di kota Malang dan Surabaya di antaranya UNMUH Malang, Universitas Negeri Malang, Universitas Brawijaya Malang, UNESA , para Dosen Pendamping, serta Dinas Pariwisata Malang Bidang Kesenian dan Permuseuman.
Di Workhsop tersebut Pak Tutun menceritakan sejarah Topeng Branyak Pesisiran / Pase`se`ran dalam sebuah naskah yang di tulis oleh tim Kurasi melalui file yang di bagikan kepada peserta Workshop.
Berikut kutipan naskah sejarah yang menceritakan sejarah Topeng Branyak Pase`se`ran,
TARI TOPENG BRANYAK PASE`SE`RAN
(Kab.Panarukan / Kab.Situbondo)
Oleh : Hosnatun/P.Tutun
23 Agustus 2023, Kembul Topeng #2, Tumpang Malang
Sekilas Sejarah Tari Topeng Branyak Pase`se`ran (Pesisiran)
Branyak, berasal dari kata Beranjak yang artinya memulai bergerak.
Pase`se`ran atau Pesisiran adalah Area Daratan di sekitar pantai yang dapat di huni dan di tinggali.
Tari Branyak Pase`se`ran adalah , Ungkapan rasa yang di tuangkan dalam gerak wiraga dari sekelompok masyarakat yang mendiami daerah sekitar Pantai dalam balutan irama alam yang di kemas dalam wirama yang menghadirkan rasa pada setiap orang yang memandangnya.
Tari Topeng Branyak Pase`se`ran yang sudah menjadi turun temurun masyarakat pesisiran Kabupaten Panarukan yang dahulunya di masa kerajaan Majapahit bernama Kadipaten Patukangan yang di bawah pimpinan Adipati Suradikara 1359 M.
Tari Branyak Pase`se`ran mulai di perkenalkan kembali sejak tahun 1928 oleh Ki Beng Ramina di Kabupaten Panarukan, hingga Perkembangan Topeng Branyak Pase`se`ran mengalami puncak kejayaannya pada antara tahun 1940 – hingga 1948.
Perkembangan situasi politik kala itu yang masih dalam situasi perang kemerdekaan dan pemberontakan , seni Tradisi Topeng Branyak Pase`se`ran di tahun 1948 mulai meredup, vakum dan nyaris punah.
Pada tahun 1952 Lakon dan Tari Topeng Branyak Pase`se`ran mulai di munculkan kembali oleh Ki Suhara yang masih keturunan tunggal Ki Beng Ramina, yang berhasil membawa seni tradisi Topeng Branyak Pase`se`ran mencapai puncak kejayaannya dengan mendirikan kelompok seni lakon/ cerita yang di beri nama Wayang Topeng Asmoro Kondo yang Booming di tahun 1970 hingga tahun 1980 an .
Lakon Topeng Branyak Pase`se`ran mulai di kembangkan kembali oleh Hosnatun keturunan kedua dari Ki Suhara hingga pada tahun 2000.
Pada tahun 2022 Hosnatun atau lebih di kenal dengan nama Pak Tutun mulai mengembangkan seni tarian topeng baik tradisi maupun kreasi.
Hingga kini Pak Tutun lebih Fokus dan intens dalam mengembangkan Seni Tradisi Topeng yang Berbasis Sejarah yang di dasarkan pada masa Kunjungan Maha Raja Prabu Hayam Wuruk pada tahun 1359 M ke Patukangan, sebagaimana yang termaktub dalam kitab Negarakertagama pupuh 26 sd 28, atau yang lebih di kenal dengan Topeng Majapahitan.
Sebagai pewaris seni tradisi topeng Branyak Pase`se`ran , Pak Tutun kembali mengangkat dan melestariakan dalam bentuk Tarian Topeng Branyak Pase`se`ran untuk kepentingan Edukasi bagi para generasi Penerus Bangsa.
Penulis : Agus Ariyanto/Agus sodu
(Ketua Lembaga Seni Budaya PDM Situbondo , Wartawan Media TIN, K.AP2WS)

Dengan di dampingi ketua lembaga Seni Budaya dan Olahraga Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Situbondo, Pak Tutun melanjutkan mengikuti agenda berikutnya yaitu Pagelaran Tari Topeng pada malam harinya, dengan menampilkan Tari Topeng Mongkor dengan jumlah personil sebanyak 3 orang, di antaranya Amel, Septi dan Yuni.

Berangkat dengan modal Sosial, Pak Tutun bersama rombongan yang berjumlah 7 orang , tetap Optimis dalam berjuang melestarikan dan menegakkan Seni Tradisi Topeng yang berbasis sejarah satu satunya Aset Kabupaten Situbondo, hingga dapat berbicara di kancah Nasional maupun Internasional..
Secara khusus Pak Tutun menyampaikan rasa terimakasih kepada PDM Situbondo dan kepada pihak pihak yang peduli yang telah mensupport perjalanan kegiatan kami, baik berupa materi maupun sekedar do’a, Ungkap Pak Tutun kepada awak media Teropong Indonesia News. (BiroTIN situbondo)




