
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta
Setiap tanggal 02 November bagi Orang Katolik adalah suatu hari yang dikhususkan untuk mengenangkan arwah semua orang beriman yang telah meninggal dunia. Seluruh antifon, doa dan nyanyian mengabdi pada liturgi untuk arwah. Busana liturgi berwarna ungu, gloria tidak ada, bacaan diambil dari Leksionarium untuk Arwah. Prefasi Arwah dan berkat Penutup menggunakan rumusan Sollemnitas untuk Arwah. Dekorasi pun sederhana seturut jiwa perayaan itu.
Karena itu sesungguhnya setiap tanggal 02 November Orang Katolik bukan memperingati tetapi mengenangkan arwah semua orang beriman. Penanggalan Litirugi menggunakan rumusan “Pengenangan Arwah Semua Umat Beriman”.
Hal ini untuk membedakannya dari tingkatan perayaan dalam liturgi: Hari Raya (Sollemnitas), Pesta (Festum) dan peringatan (memoria). Jadi tanggal 02 November bukanlah peringatan, tetapi Pengenangan Arwah Semua Umat Beriman, yang meskipun terjadi bersamaan dengan hari Minggu.
Terkait dengan Pengenangan ArwaH Semua Umat Beriman yang selalu jatuh pada tanggal 02 November setiap tahun, saya teringat akan pepatah Latin atau ungkapan ini: “Hodie Mihi, Cras Tibi” = Hari ini saya, besok Anda.
Ungkapan ini menegaskan bahwa kematian adalah bagian integral, yang tak terpisahkan dari kehidupan semua umat manusia. Ia tidak bisa dimandatkan dan tidak bisa dihindari. Dia selalu mengintai setiap orang bagaikan bayangannya.
Tapi justeru di sini letak kebijaksanaan iman seseorang. Bahwa kefanaan hidup justeru membuat seseorang untuk hidup lebih bermakna, lebih berkualitas dan lebih siap dalam iman, harapan dan kasih untuk kembali kepada Tuhan kapan pun dan di mana saja. Jika demikian tidak ada yang hilang dalam perjalanan pulang kepada-Nya. Atau kehendak Allah agar “jangan ada yang hilang” menjadi nyata bagi setiap orang yang selalu ada pengharapan.
“Jangan ada yang hilang”, sesungguhnya sebuah ungkapan yang mengandung makna terdalam tentang kehendak terbesar dari Allah yakni Keselamatan semua umat beriman. Karena itu pengharapan, keyakinan dan kepasrahan terutama dalam konteks kepercayaan bahwa betapa besar kasih setia Allah harus tetap dinyalakan. Dia tidak pernah menginginkan dan atau Dia tidak rela satu pun hilang melainkan terselamatkan. Putra-Nya Yesus Kristus adalah pemenuhan atas kekekalan janji dan kasih setia-Nya itu.
Yesus menegaskan hal ini dalam bacaan Injil pada tanggal 02 November: “Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman”.
Yesus menegas dirinya adalah utusan Allah dan Dia jadi jaminan bahwa tidak ada yang hilang. Dialah Jalan, Kebenaran dan Hidup, jaminan keselamatan itu sendiri. Allah menghendaki semua orang yang telah diberikan-Nya kedapa Yesus, jangan ada yang hilang. Tapi memperoleh kebangkitan dan keselamatan kekal melalui Putera-Nya Yesus Kristus.
Janji Tuhan selalu menentrampakan hati setiap orang yang percaya kepada Putera-Nya. Setiap orang yang percaya kepada Kristus sebagai jembatan yang menghubungkan kehidupan fana dan kehidupan kekal akan selalu sampai kepada keabadian di surga.
Melalui Sengsara, Wafat dan Kebangkitan-Nya, Dia telah menyiapkan tempat bagi kita dan telah mengubah makna kematian menjadi pintu masuk menuju kepenuhan kasih Allah. Allah tidak ingin satu pun dari umat beriman binasa. Karena kasih-Nya yang begitu besar, tidak seorang pun hilang binasa dalam perjalanan menuju keabadian, tapi memperoleh kepenuhan dan suka cita abadi di Surga.
Yesus memiliki tanggung jawab besar dan betapa besar kasih setia-Nya terhadap kita. Ia tidak hanya menebus dosa-dosa, tetapi juga memelihara dan menjamin perjalanan kehidupan setiap orang yang dicintai-Nya dengan kebangkitan kekal setelah perziarahan hidupnya di dunia.
Kasih-Nya bukan cinta sesaat apalagi sesat, melainkan janji yang kekal, melampaui waktu dan bahkan kematian. Namun kasih itu menuntut tanggapan dari pihak orang beriman. Kita dipanggil untuk tinggal dalam Kristus, jika tidak ingin hilang di jalan menuju keselamatan kekal di surga.







