
TeropongIndonesiaNews.com
Hujan deras yang mengguyur wilayah Desa Cambir Leca, Kecamatan Satar Mese Barat, selama dua hari dua malam berturut-turut, menyebabkan terjadinya longsor di kawasan tersebut.
Berdasarkan informasi dari salah satu warga Desa Cambir Leca, Remigius Mangsi, peristiwa longsor terjadi pada 9 September 2025. Longsor ini menimbulkan dampak serius bagi masyarakat setempat, terutama para petani yang tengah mempersiapkan musim tanam.
Remigius menjelaskan bahwa material longsoran menutup saluran irigasi utama, yang menjadi sumber pengairan bagi sejumlah lahan persawahan di desa itu. Akibatnya, aliran air ke area persawahan terhenti total.
Remigius menjelaskan bahwa material longsoran menutup saluran irigasi utama, yang menjadi sumber pengairan bagi sejumlah lahan persawahan di desa itu. Akibatnya, aliran air ke area persawahan terhenti total.
“ Kami sangat khawatir akan terjadi gagal tanam dan gagal tumbuh bagi tanaman yang sudah ditanam, karena kekurangan air dan berdampak pada hasil panen tahun ini,” ungkapnya.
Mengetahui kejadian tersebut, masyarakat segera melakukan gotong royong untuk membersihkan material longsoran. Warga secara swadaya berupaya membuka kembali saluran irigasi dengan peralatan seadanya agar air dapat kembali mengalir ke lahan pertanian. Meski demikian, proses pembersihan cukup sulit karena banyaknya tanah dan batu yang menimbun jalur air.
Remigius menambahkan bahwa peristiwa ini telah dilaporkan ke Pemerintah Desa, namun warga belum mengetahui sejauh mana tindak lanjut dari laporan tersebut.
Kepala Desa Cambir Lecar menjelaskan bahwa peristiwa kerusakan irigasi tersebut sudah dilaporkan oleh penjabat desa mekar dari Cambir Lecar.
“Peristiwa ini sudah dilaporkan oleh penjabat desa, karena wilayah itu merupakan desa mekar dari Cambir Lecar. Harapan kami, irigasi itu segera dibenahi kembali karena air dari sana sangat penting untuk kehidupan masyarakat,” ujarnya, Selasa (11/11/2025).
Ia menambahkan, pemerintah desa bersama masyarakat telah berupaya melakukan perbaikan sementara secara swadaya, menggunakan bahan seadanya seperti bambu, agar aliran air tetap dapat dimanfaatkan oleh para petani.
“Kami sudah berusaha memperbaiki dengan memanfaatkan bambu, tapi sifatnya hanya sementara. Kami berharap pemerintah daerah bisa segera turun tangan untuk memperbaikinya secara permanen,” katanya.
Menanggapi itu, Anggota DPRD Kabupaten Manggarai dari Fraksi Partai NasDem, Adrianus Nanggur, mendesak pemerintah daerah agar segera menindaklanjuti persoalan kerusakan bendungan irigasi Wae Mau I yang terjadi sejak September lalu di desa Cambir Leca.
Menurut Adrianus, peristiwa tersebut sudah disampaikan melalui pandangan umum Fraksi NasDem pada rapat paripurna DPRD beberapa waktu lalu. Namun, hingga saat ini belum ada tindak lanjut dari instansi terkait.
“Kejadian ini terjadi sejak bulan September di desa saya. Kami sudah sampaikan melalui pandangan fraksi Partai NasDem, dan laporan juga telah dikirim ke dinas terkait serta ditembuskan ke kantor DPRD. Tapi sampai hari ini belum ada realisasi,” ungkap Adrianus, Rabu (11/11/2025).
Ia menegaskan, bendungan Wae Mau I memiliki peranan penting bagi masyarakat, terutama dalam mengairi lahan pertanian. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah segera merealisasikan penanganan bencana tersebut sesuai dengan komitmen yang pernah disampaikan dalam sidang paripurna.
“Air dari bendungan itu sangat vital untuk persawahan masyarakat. Kami sudah sampaikan melalui pandangan umum fraksi, dan waktu itu pihak eksekutif menjanjikan akan menindaklanjuti. Namun ternyata sampai sekarang belum ada realisasi. Nanti kami akan sampaikan lagi dalam rapat berikutnya,” tambahnya.
Adrianus berharap pemerintah daerah tidak menunda-nunda lagi penanganan kerusakan bendungan tersebut, mengingat dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat petani di wilayah Satarmese.
Pewarta – Herman








