
Yatim Piatu di Manggarai Belum Pernah Terima Bantuan PIP, PSI Dorong Penanganan Cepat
Teropongindonesianews.com
MANGGARAI, NTT – Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Manggarai melakukan kunjungan rumah kepada seorang siswa yatim piatu di Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Sabtu (21/2/2026), sebagai bentuk kepedulian terhadap akses pendidikan bagi anak-anak kurang mampu.
Kunjungan tersebut dipimpin oleh Anggota DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dari Fraksi PSI, Junaidin, bersama Ketua DPD PSI Manggarai Fransiskus Ramli dan jajaran pengurus partai setempat.
Siswa yang kini duduk di Kelas VII SMP Negeri 1 Langke Rembong telah kehilangan ayahnya pada November 2023 dan ibunya pada tahun 2024. Sejak Kelas V Sekolah Dasar, ia telah menjalani kehidupan sebagai yatim piatu dan kini tinggal dengan keluarga dekat yang juga memiliki keterbatasan ekonomi.
Untuk dapat bersekolah di sekolah negeri sesuai sistem zonasi, siswa tersebut terpaksa menumpang dalam Kartu Keluarga (KK) tetangga. Namun, hingga saat ini – baik selama menempuh pendidikan SD maupun SMP – ia belum pernah menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) maupun bantuan sosial lainnya, padahal dukungan tersebut sangat dibutuhkan untuk menunjang kebutuhan sekolah dan sehari-hari.
Mengetahui kondisi tersebut, Junaidin langsung menghubungi Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai untuk meminta perhatian khusus. Tujuannya adalah agar siswa tersebut segera terdaftar sebagai penerima PIP serta mendapatkan perhatian lebih lanjut dari pemerintah daerah.
Selain itu, Junaidin juga berkoordinasi dengan pengurus DPP PSI Ronsi Naga yang fokus pada advokasi hak pendidikan anak yatim piatu di seluruh Indonesia.
“Kami mendorong seluruh kader PSI di Indonesia untuk peduli terhadap kondisi anak-anak kurang mampu, terutama menjelang bulan Ramadhan. Kami akan terus mendata kasus serupa dan memberikan bantuan sesuai kemampuan,” ujar Junaidin.
Ia menambahkan, PSI telah secara rutin menyalurkan bantuan selama hampir satu bulan terakhir, dengan total 100 paket bantuan di Manggarai dan 80 paket sebelumnya di Manggarai Barat.
Junaidin menegaskan bahwa pendidikan adalah hak dasar setiap anak yang harus dijamin. “Kita tidak ingin ada anak sekolah yang terancam putus sekolah karena keterbatasan biaya atau perlengkapan. Khususnya di NTT, kami berkomitmen untuk memastikan tidak ada satu pun anak yang tertinggal dalam akses pendidikan,” tegasnya.
Pihak keluarga dan tetangga menyampaikan rasa terima kasih atas perhatian yang diberikan dan berharap hal ini dapat membawa perubahan positif bagi masa depan anak tersebut.
Langkah ini juga menjadi panggilan untuk pemerintah daerah, dinas pendidikan, dan sekolah melakukan pendataan detail terhadap siswa kurang mampu dan yatim piatu yang belum mendapatkan bantuan yang sesuai, serta menjalin sinergi guna memastikan setiap anak mendapatkan hak pendidikan yang layak dan setara. Herman








