
Teropong Indonesia News
PASURUAN – Sebuah potret ketertinggalan yang menyayat hati dan bukti nyata pengabaian pembangunan tampak jelas di ruas jalan Kabupaten yang melintasi Dusun Sembung, Desa Jajangwulung, Kecamatan Puspo, Kabupaten Pasuruan. Di saat wilayah-wilayah lain merasakan manfaat kemajuan infrastruktur, akses vital ini hingga hari ini masih berupa jalan berbatu dan makadam kasar, kondisinya persis sama seperti zaman tahun 1980-an puluhan tahun silam.
Yang paling memilukan, kondisi jalan berbatu ini bukanlah baru terjadi kemarin. Jalan ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, namun hingga detik ini, permukaannya sama sekali belum pernah tersentuh aspal. Tak ada perbaikan menyeluruh, tak ada pengerasan struktur, apalagi peningkatan mutu jalan. Jalur ini tetap dibiarkan kasar, bergelombang, penuh lubang, dan dihiasi bebatuan tajam yang mengancam keselamatan. Seolah wilayah ini dicoret dari peta prioritas pembangunan Pemerintah Kabupaten Pasuruan.
Padahal, status jalur ini resmi sebagai jalan Kabupaten, yang berarti tanggung jawab penuh ada di pundak pemerintah daerah. Lebih dari itu, jalan ini merupakan satu-satunya urat nadi akses warga setempat. Setiap hari, ratusan warga harus menderita menempuh jalan yang berubah fungsi: saat musim kemarau berubah menjadi lautan debu yang mengganggu pernapasan, dan saat hujan turun berubah menjadi jalur berlumpur yang licin dan becek.
Pemandangan menyedihkan menjadi hal biasa di sini. Anak-anak sekolah harus berjalan atau bersepeda melewati rintangan berbahaya. Pengendara sepeda motor sering terperosok, ban pecah, hingga jatuh dan terluka berdarah. Para petani kesulitan mengangkut hasil panennya ke pasar, sementara pedagang dan pekerja yang hendak beraktivitas juga harus menelan pahitnya akses yang buruk ini. Hal ini terjadi bertahun-tahun, di tengah klaim bahwa anggaran pembangunan dan pemeliharaan jalan kabupaten digelontorkan setiap tahun.
Puluhan tahun berlalu, berganti kepemimpinan dari satu periode ke periode lainnya, janji-janji manis terus terdengar menggema. Namun realitasnya tetap sama: jalan berbatu masih bertahan, kondisi zaman dulu belum berubah sama sekali. Bagi warga, seolah ada sekat tebal yang membuat mata para pejabat tak sanggup melihat, dan telinga mereka tak mau mendengar jeritan hati warga Puspo. Wilayah ini nyata-nyata dianaktirikan, dikorbankan, dan diabaikan mentah-mentah.
Rasa kecewa dan kemarahan kini memuncak. Warga sudah muak, lelah berharap, dan perlahan kehilangan kepercayaan. Pertanyaan besar terus bergaung di kalangan masyarakat: Bagaimana mungkin akses jalan yang statusnya resmi milik daerah, yang dilewati ribuan warga setiap harinya, dibiarkan mentah begitu saja puluhan tahun lamanya? Ke mana sesungguhnya aliran dana pemeliharaan dan pembangunan jalan yang digariskan negara itu pergi? Di mana letak keadilan pembangunan yang selama ini selalu digembar-gemborkan?
Kondisi jalan ini kini bukan lagi sekadar masalah infrastruktur yang rusak, melainkan bukti hidup dari kelalaian, ketidakpedulian, dan ketidakadilan nyata yang dirasakan rakyat kecil. Masihkah Pemerintah Kabupaten Pasuruan berani mengaku hadir dan bekerja untuk rakyat, sementara akses paling dasar dan vital ini saja tak mampu diperbaiki?
Warga Dusun Sembung dan sekitarnya kini menuntut jawaban, menuntut keadilan, dan menuntut tindakan nyata. Bukan lagi janji kosong yang tak berujung, melainkan perubahan wujud jalan yang layak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi maupun rencana konkret dari Pemkab Pasuruan terkait nasib jalan yang puluhan tahun tak pernah tersentuh aspal tersebut.
(Abd.hasym.Coy)







