Teropongindonesianews.com – Tokoh Nahdliyin yang dikenal kritis, HRM. Khalilur R. Abdullah S. (Gus Lilur), kembali melontarkan slogan kontroversial namun kian relevan: “Ber-NU Tanpa Ber-PBNU“. Slogan ini pertama kali dicetuskannya pada Januari 2022 di tengah gelombang kecaman publik, yang kini justru terbukti seiring dinamika internal di tubuh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Menurut Gus Lilur, esensi utama menjadi warga NU (Ber-NU) berakar pada praktik keislaman Ahlussunnah wal Jamaah yang kokoh, meliputi:
● Bermadzhab secara konsisten kepada Imam Syafi’i.
● Berakidah mengikuti teologi Imam Asy’ari dan Imam Maturidi.
● Bertasawuf melalui manhaj Imam Junaid al-Baghdadi dan Imam al-Ghazali.
“Mengamalkan tiga cara beragama sesuai ajaran NU di atas tidak perlu ber-PBNU. Para kyai alim NU sudah mengajarkan kami hal tersebut sejak lama,” ujar Gus Lilur.
Slogan penolakan terhadap struktur formal PBNU ini kian menemukan momentumnya pasca-Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur. Gerakan kritis ini bahkan melahirkan berbagai varian slogan akar rumput di tengah warga nahdliyin, seperti “Ber-NU selamanya ber-PBNU sekedarnya” hingga “Ber-NU saklawasè ber-PBNU sak cukupè”.
Kritik tajam Gus Lilur tidak lepas dari kekecewaannya terhadap kualitas kepemimpinan di tingkat pusat. Ia menyoroti kapasitas figur Rais Aam PBNU yang dinilai jauh dari standar keilmuan ulama sepuh masa lalu. Melalui timnya, Gus Lilur pernah merilis video perbandingan analisis anak tingkat madrasah ibtidaiyah yang mengomentari pidato Rais Aam saat penutupan Munas-Konbes NU di Bangkalan dan pembukaan Muktamar di Jombang.
Bahkan, catatan kritis terkait kesalahan pidato dan dugaan plagiasi tersebut sempat dirilis melalui puluhan media massa nasional. Bagi Gus Lilur, warga NU yang berguru langsung kepada para kyai alim di kampung-kampung memiliki batasan moral untuk menolak kepemimpinan struktural yang dinilai tidak merepresentasikan kedalaman ilmu pesantren.
“Karena Rais Aam awam, saya yang berguru pada banyak kyai alim di NU menolak dipimpin kyai awam. Ber-NU tanpa ber-PBNU,” tegasnya menutup pernyataan dengan salam amar makruf nahi mungkar.
BuroTIN/STB

