Teropongindonesianews
BANYUWANGI – Rasa kecewa dan was-was menyelimuti para pedagang di Pasar Wongsorejo. Bagaimana tidak? Setiap hari mereka rutin membayar retribusi sebesar Rp3.000 hingga Rp5.000, namun ketika barang dagangan senilai puluhan juta rupiah hilang dicuri, sistem keamanan pasar seolah lumpuh total. Menyikapi hal ini, Kapolsek Wongsorejo, AKP Eko Darmawan SH, bersama jajarannya proaktif mendatangi Kantor Desa Wongsorejo pada Rabu (28/10/2026) untuk mendesak penertiban keamanan agar kejadian serupa tidak terus berulang.

Pertemuan darurat ini dihadiri Kepala Desa Wongsorejo, Abdul Bakar, Ketua BUMDES sekaligus Pengelola Pasar, Iwan Ardiansyah, Ketua BPD, Babinkamtibmas, serta korban pencurian, Ibu Rasidah. Kehadiran polisi bukan untuk menggurui, melainkan sebagai bentuk kepedulian terhadap rasa aman warga yang terusik.
Korban Curhat: Rugi Rp45 Juta, Bayar Retribusi Tiap Hari!
Ibu Rasidah, seorang pedagang lapak di pasar tersebut, menceritakan kronologi hilangnya barang-barang vital seperti bawang merah, bawang putih, kopi, kacang hijau, beras ketan, merica, dan miri pada Minggu sore (25/10/2026). Total kerugian ditaksir mencapai Rp45 juta.
“Saya bayar retribusi tiap hari, Pak. Dari 3 ribu sampai 5 ribu. Tapi kok keamanannya begini? Ini sudah sering terjadi, hampir tiap setengah tahun ada lagi pencurian,” keluh Rasidah dengan nada kesal. Ia mengaku belum melapor ke polisi karena mencoba menyelesaikan secara kekeluargaan melalui kepala pasar dan desa, namun hasilnya nihil.
Pengelola Pasar “Gagal Fokus”? Baru Tahu Saat Petugas Sakit
Respons dari pengelola pasar, Iwan Ardiansyah, justru memunculkan tanda tanya besar. Ia mengakui baru mengetahui adanya kehilangan pada tanggal 27/10/2026 setelah ditelepon warga, padahal kejadian sudah berlangsung sejak dua hari sebelumnya. Alasannya? Petugas lapangan sedang sakit.
“Kami akan evaluasi hari Jumat nanti. Mungkin perlu pasang CCTV atau upaya lain. Ini tanggung jawab bersama,” ujar Iwan. Namun, pernyataan ini terasa telat bagi pedagang yang sudah kehilangan aset berharga.
Kades Akui: Dana Retribusi “Pas-pasan”, Keamanan Malam Belum Terjamin
Kepala Desa Wongsorejo, Abdul Bakar, memberikan penjelasan yang mungkin mengejutkan banyak pihak. Ia mengakui bahwa pemasukan retribusi pasar yang berkisar Rp3 juta per bulan (dengan rata-rata harian Rp100.000 – Rp130.000) dinilai tidak mencukupi untuk membiayai tenaga keamanan profesional, terutama untuk penjagaan malam hari.
“Uang itu habis untuk bayar karyawan sampah pagi dan operasional dasar. Kalau mau tambah keamanan malam, kita harus bahas lagi dengan paguyuban pedagang. Distribusi dananya memang belum cukup,” akunya jujur.
HIMBAUAN TEGAS KAPOLSEK & DESAKAN TRANSPARANSI:
Menanggapi kondisi ini, Kapolsek Wongsorejo memberikan himbauan keras dan solusi konkret:
1. Transparansi Keuangan BUMDES: Warga berhak tahu rincian penggunaan dana retribusi. Jika alasannya “dana kurang”, maka harus ada audit sederhana. Apakah benar-benar defisit, atau ada kebocoran anggaran?
2. Instalasi CCTV Segera: Jangan menunggu rapat Jumat. Keamanan visual adalah langkah pertama pencegahan. Polisi siap membantu koordinasi teknis jika diperlukan.
3. Gotong Royong Keamanan: Jika anggaran terbatas, libatkan paguyuban pedagang untuk sistem ronda bergilir atau patroli warga dibantu Babinkamtibmas.
4. Lapor Polisi, Jangan Diam: Kapolsek mengimbau korban kejahatan untuk tetap melapor ke kepolisian. Penyelesaian desa baik, tetapi pencurian bernilai besar adalah tindak pidana yang butuh penyelidikan profesional agar sindikat pencuri bisa ditangkap.
“Jangan biarkan pasar menjadi sarang kriminal karena alasan ‘dana kurang’. Keamanan adalah hak dasar pedagang yang sudah membayar retribusi. Kami akan pantau terus perkembangan evaluasinya,” tegas AKP Eko Darmawan.
Pasar Wongsorejo harus bersih dari pencuri, bukan hanya bersih dari sampah. Saatnya pengelola dan pemerintah desa membuktikan komitmen mereka demi kenyamanan rakyat kecil.
Jurnalis: Adi

