
Teropongindonesianews.com
Oleh : Moh. Taufik, S.I.Kom., MH
Sudah lama rasanya saya tidak merangkai kata. Hari ini, dengan penuh kehati-hatian dan perenungan mendalam, saya mulai mengetik dengan hati yang tenang.
Kebenaran tidak pernah terburu-buru, tetapi ia tidak pernah tersesat. Ia hanya menunggu saat yang tepat untuk berdiri tegak, menampakkan wajahnya, dan mematahkan seluruh kebohongan yang dibangun di atas kepentingan semata.
Dalam kurun satu bulan terakhir—sejak akhir 2025 hingga awal 2026—ruang publik Indonesia diguncang badai informasi yang luar biasa. Media sosial dipenuhi narasi viral, opini yang saling bertabrakan, dan emosi kolektif yang diprovokasi secara masif. Satu nama terus diulang, diangkat, dan dipelintir: MADAS.
Isu ini tidak lagi berhenti di level lokal. Ia menjalar hingga ke tingkat nasional, bahkan internasional. Namun yang disebarkan bukanlah fakta utuh, melainkan potongan-potongan narasi yang dirangkai khusus untuk membangun stigma negatif. Media sosial berubah fungsi; dari ruang dialog menjadi ruang pengadilan instan, di mana vonis dijatuhkan jauh lebih cepat daripada proses klarifikasi.
Segala bermula dari pernyataan seorang pejabat publik, Armuji, yang kemudian berkembang liar di ruang digital. Pernyataan tersebut ditafsirkan secara sepihak, diproduksi ulang tanpa konteks, dan diarahkan seolah menjadi legitimasi untuk menyerang satu kelompok masyarakat. Dari sinilah kegaduhan dimulai.
Narasi kemudian diarahkan pada satu tujuan tunggal: membangun persepsi bahwa MADAS adalah sumber masalah. Isu tambang, kekerasan, hingga penguasaan wilayah—semuanya dilekatkan tanpa dasar bukti yang jelas. Publik tidak lagi diajak berpikir jernih, melainkan digiring untuk membenci.
Puncaknya terjadi pada tanggal 26, ketika kerusuhan pecah di Surabaya. Kantor MADAS dirusak, aksi massa terjadi, dan emosi meledak. Namun ironisnya, justru korban yang kembali disalahkan. Fitnah menemukan momentumnya, dan kekacauan dijadikan pembenaran.
Alih-alih mereda, situasi justru dipelihara. Selama berminggu-minggu, media sosial terus memproduksi kegaduhan. Trending topic dipertahankan, akun-akun anonim dan buzzer bekerja tanpa henti. Identitas dipertentangkan, seolah konflik ini harus terus hidup agar ada pihak tertentu yang diuntungkan.
Di tengah badai itu, tepatnya tanggal 5, Ketua Umum MADAS mengambil langkah yang konstitusional dan bermartabat. Ia melaporkan dugaan pelanggaran UU ITE ke Polda Jawa Timur terhadap akun media sosial bernama Cak J1.
Ini bukan ancaman, bukan pula intimidasi. Ini adalah ikhtiar hukum untuk menghentikan fitnah yang telah melampaui batas kewajaran. Namun sekali lagi, kebenaran tidak diberi ruang. Langkah hukum tersebut justru dipelintir menjadi narasi bahwa pemerintah dan Kota Surabaya “takut” terhadap MADAS. Opini publik dirusak, dan negara hukum digambarkan kalah oleh tekanan. Ini adalah framing yang keji dan menyesatkan.
Tanggal 6, Armuji menyampaikan permintaan maaf secara terbuka. Niat baik untuk meredakan ketegangan justru dijadikan bahan bakar baru. Komentar pedas bermunculan, pemerintah dipermalukan, dan kepercayaan publik dihancurkan oleh narasi yang sengaja dibelokkan.
Situasi semakin keruh ketika rencana penyegelan pada 12 Januari 2026 mengalami penundaan melalui proses pengadilan. Penundaan yang bersifat prosedural dan legal kembali disulap menjadi isu politis. Seolah-olah hukum harus tunduk pada tekanan viral, bukan pada aturan dan keadilan.
Di titik inilah peran akun-akun provokatif semakin nyata. Nama-nama serta kanal tertentu bekerja secara konsisten mempertajam konflik. Surabaya diadu dengan Madura, pemerintah diadu dengan rakyat. Emosi dikapitalisasi demi kepentingan tertentu.
Namun, mereka lupa satu hal: tidak pernah ada permusuhan antara Surabaya dan Madura. Yang ada hanyalah upaya sistematis untuk mengadu domba dua saudara.
Dan seperti semua kebohongan besar dalam sejarah, skenario ini pun mulai runtuh oleh kesadaran publik. Masyarakat perlahan menyadari bahwa mereka sedang dimainkan. Bahwa konflik ini bukan tentang kebenaran, melainkan tentang kepentingan. Dari sinilah arah sejarah berbalik.
Yang terjadi akhirnya bukan perpecahan, melainkan perangkulan , Bukan permusuhan, melainkan persatuan , Bukan kehancuran, melainkan kedewasaan.
Inilah perjuangan MADAS yang sesungguhnya. Bukan dengan kekerasan, bukan dengan amarah, tetapi dengan kesabaran, jalur hukum, dan keyakinan bahwa kebenaran tidak perlu berteriak untuk menang.
Dan bagi mereka yang teguh berdiri dalam martabat dan persaudaraan: Semua akan menjadi MADAS pada waktunya.








