
Teropong Indonesia News
GRESIK – Bulan Juni telah tiba. Bagi mereka yang setia pada ajaran dan perjuangan Bung Karno, pergantian halaman kalender ini bukan sekadar urutan waktu semata. Bulan Juni dikenal sebagai Bulan Marhaen, momen spesial bagi para pengikut Marhaenisme untuk merenung, mengevaluasi, sekaligus meneguhkan kembali tekad perjuangan demi cita-cita luhur bangsa.
Kini, Indonesia tengah berada dalam himpitan ketidakpastian ekonomi. Nilai tukar dolar AS yang menembus angka Rp17.800-an menjadi bukti nyata tekanan yang ada. Ironisnya, muncul pandangan yang menganggap “rakyat kecil tidak butuh dolar”, seolah gejolak ekonomi makro tidak berdampak pada kehidupan sehari-hari. Padahal, nyatanya kaum marhaenlah yang paling merasakan imbasnya. Pernyataan semacam ini menjadi sinyal nyata bahwa politik kebangsaan dan kerakyatan sedang dipertaruhkan. Sekat pemisah antara kaum atas dengan rakyat jelata, antara masyarakat kota dengan warga desa, makin terlihat jelas dan berpotensi memecah belah persatuan bangsa.
Cita-cita mulia rakyat untuk hidup senasib seperjuangan, mencapai kesejahteraan bersama, dan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, dirasa kian menjauh. Hal ini tak terlepas dari pengelolaan negara yang dinilai masih banyak bernafaskan oligarki, yang menjauhkan kebijakan dari kepentingan rakyat banyak.
Bagi kaum Marhaen, Pancasila adalah landasan utama dalam memandang dan menafsirkan kehidupan bernegara. Di dalam roh Marhaenisme, terkandung dua asas besar: Sosio-Nasionalisme dan Sosio-Demokrasi. Namun, realita yang terjadi saat ini tampak bertolak belakang dengan nilai-nilai tersebut. Kebijakan pemerintah yang berdampak pada turunnya daya beli, menjamurnya jeratan utang pinjaman online, maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terselubung, tingginya angka pengangguran, hingga meningkatnya kriminalitas dari pencurian kendaraan bermotor hingga begal, menjadi bukti bahwa ketenangan hidup rakyat sedang terganggu.
Sungguh ironis bila negeri ini masih disebut gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerta raharja, padahal di sudut-sudut negeri, kaum marhaen hidup dalam kekhawatiran dan kesulitan.
Bung Karno telah berteriak lantang kata “MERDEKA” jauh sebelum tahun 1945. Namun, hingga hari ini, kemerdekaan yang sesungguhnya—kemerdekaan dari kemiskinan, ketakutan, dan penindasan—belum sepenuhnya terasa. Kaum marhaen merasa masih berjuang membebaskan diri dari cengkeraman baru, yang serupa dengan zaman kolonial dan imperialisme dulu. Mereka berjuang mempertahankan hak atas tanah tempat berpijak, sesuai semboyan sedumuk batuk senyari bumi, ngukuhi tanah garapan. Sayangnya, kehadiran para mafia tanah di berbagai tempat kembali membuat rakyat kecil tak berdaya mempertahankan haknya sendiri.
Bulan Juni atau Bulan Marhaen hadir sebagai alarm peringatan. Saatnya menggugat negara: apakah kehadiran negara hanya sebatas membangun identitas bangsa dan karakter, ataukah benar-benar menjamin persamaan nasib seluruh rakyat? Inilah saatnya menanamkan kembali rasa patriotisme yang sejati, sesuai prinsip Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta Tanah Air adalah sebagian dari iman).
Nafas oligarki disebut sebagai musuh utama dari Sosio-Demokrasi, karena sistem inilah yang menjauhkan rakyat dari cita-cita kesejahteraan dan keadilan sosial. Oleh karena itu, dengan semangat Bulan Marhaen, sudah saatnya moral pemerintah digugat. Demokrasi harus dihidupkan kembali dalam bentuk yang sehat, disertai gerakan kolektif yang berani “menggebrak meja” kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat.
Pesan Bung Karno kembali menggaung: “Hanya bangsa yang berani mengambil nasib dalam tangan sendiri yang akan berdiri kuat.”
Selamat datang Bulan Marhaen. Perlu dipahami satu hal penting: kemiskinan tidak akan bisa dilawan dengan bantuan sosial, hibah, atau belas kasihan semata. Kemiskinan harus dilawan dengan keadilan, rasa aman, ketenangan hidup, kebijakan redistribusi yang adil, dan semangat Berdikari.
Cukup sudah kaum marhaen hanya dijadikan objek statistik di lembar data BPS. Saatnya rakyat kecil bangkit menjadi subjek yang menentukan arah dan tujuan Republik ini.
Merdeka..!!!
RED





