
Teropong Indonesia News
SUMENEP – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilaksanakan di Kecamatan Bluto, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, kembali menuai sorotan tajam dari masyarakat. Kali ini giliran Dapur Al-Azhar Aeng Dake yang menjadi pusat perhatian usai sejumlah wali murid melayangkan protes keras terkait kualitas makanan yang diterima anak-anak mereka, Sabtu (4/4/2026).
Keluhan muncul setelah para siswa menerima dan mencoba mengonsumsi makanan tersebut. Orang tua menilai bahwa sajian yang diberikan tidak hanya terlihat sangat sederhana, tetapi juga tidak mencerminkan standar “bergizi” sebagaimana nama program yang diusung.
Kondisi Makanan Dikeluhkan Berbau dan Lengket
Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya mengaku kecewa karena makanan yang dibagikan kondisinya tidak layak konsumsi. Menurutnya, nasi yang diterima terasa lengket dan mengeluarkan bau yang tidak sedap, layaknya nasi yang sudah basi.
“Kondisinya berbau dan lengket seperti nasi basi, tidak layak untuk dimakan. Akhirnya makanan ini baru saja kami buang karena baunya sudah tidak enak,” ungkapnya dengan nada kesal.
Anggaran Rp10 Ribu Dipertanyakan
Selain masalah kualitas, orang tua juga mempertanyakan besaran anggaran yang dialokasikan per porsi. Mereka menilai, jika dilihat dari tampilan dan isinya, nilai makanan tersebut jauh di bawah standar Rp10.000 yang selama ini disebut-sebut.
Kritikan juga dilayangkan terkait kesamaan porsi antara siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Padahal, kebutuhan kalori dan porsi makan tentu berbeda antara kedua jenjang pendidikan tersebut.
“Serius nanya, apakah ini benar sampai seharga Rp10 ribu? Porsinya sama saja antara SDN dan SMP, isinya pun minim. Kalau melihat tampilan seperti ini, rasanya sulit sekali disebut sebagai menu bergizi lengkap,” tegasnya.
Orang tua lain menambahkan bahwa pihaknya tidak menuntut makanan yang mewah, namun setidaknya harus memenuhi standar kesehatan dan gizi.
“Kami tidak menuntut yang mahal atau mewah. Tapi kalau membawa nama ‘Makan Bergizi’, minimal harus terlihat jelas protein hewani atau nabatinya, dan sayur yang layak. Jangan sampai anak-anak hanya kenyang secara fisik, tapi gizinya nol,” tambahnya.
Minta Transparansi Anggaran
Merespons hal ini, para wali murid berharap adanya transparansi penuh dari pihak pengelola dapur maupun penyelenggara program. Mereka ingin kejelasan mengenai rincian anggaran dan standar resep yang digunakan.
“Kalau memang anggarannya di bawah Rp10 ribu, sampaikan saja secara jujur dan terbuka. Biar tidak ada asumsi yang melenceng di masyarakat. Yang penting anak-anak makan enak dan sehat,” ujar salah satu orang tua.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan maupun klarifikasi resmi dari pihak pengelola Dapur Al-Azhar Aeng Dake maupun pihak terkait mengenai keluhan kualitas makanan dan soal rincian anggaran tersebut.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi sesuai dengan kode etik jurnalistik yang berlaku. Kritik ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian agar program MBG benar-benar berjalan sesuai tujuan mulianya, yaitu mencerdaskan generasi bangsa melalui asupan gizi yang baik. RAHMAN






