
Teropong Indonesia News
PASURUAN – Ancaman keamanan di ruas Jalan Raya Ngembal, tepatnya di wilayah Bakti Alam, semakin mengkhawatirkan dan seolah tak ada habisnya. Sebuah peristiwa pembegalan kembali terjadi dan menimpa seorang perempuan malang asal Mojokerto. Kejadian naas ini berlangsung pada Sabtu pagi, 2 Mei 2026 sekitar pukul 04.30 WIB, saat korban sedang melintas sendirian di lokasi yang sudah terkenal kelam ini.
Betapa kejam dan beringasnya tindakan para penjahat itu! Di saat pagi masih buta dan suasana sepi tanpa orang, korban tiba-tiba disergap, dipukul, dan dianiaya secara tidak manusiawi. Bukan hanya barang berharganya dirampas paksa hingga tak tersisa, tubuhnya pun babak belur dan berdarah-darah akibat pukulan dan siksaan yang diterima. Apakah hati nurani para penjahat ini sudah benar-benar mati? Bahkan kaum perempuan yang lemah pun tidak mereka kasihani, seolah nyawa dan keselamatan orang lain tidak ada harganya bagi mereka!
Yang paling menyakitkan dan membuat darah warga mendidih adalah fakta pahit ini: lokasi tersebut sudah lama menjadi titik paling rawan dan sarang kejahatan. Pembegalan, perampokan, hingga kekerasan fisik sudah menjadi “menu harian” yang kerap terjadi berulang kali di sana. Dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, kisah korbannya terus bertambah, namun kondisinya tetap sama persis—tidak ada perubahan berarti!
Sudah berkali-kali jeritan hati warga disampaikan, sudah tak terhitung keluh kesah dan laporan dilayangkan, tapi apa balasan yang diterima? Hanya janji manis belaka dan kata-kata kosong tanpa bukti nyata! Seolah-olah keselamatan rakyat hanyalah hal sepele yang bisa ditunda-tunda. Padahal nyawa orang dipertaruhkan setiap kali mereka harus melintas di jalan itu. Di sana, para penjahat berkuasa dan bergerak bebas, sementara warga hanya bisa gemetar ketakutan dan pasrah menjadi sasaran empuk.
“Kapan daerah ini benar-benar aman? Kapan aparat bertindak sungguh-sungguh? Hampir tiap bulan pasti ada saja korban, tapi kenapa keamanan di sana tetap nol besar? Apakah harus ada nyawa yang melayang dulu baru mata aparat terbuka dan mau bekerja? Dasar lemah dan tidak tegas dalam menegakkan hukum!” seru salah satu warga dengan nada marah yang meluap-luap.
Menurut warga, akar masalahnya sangat jelas dan terbuka lebar untuk dilihat: minimnya pengawasan, jarangnya patroli, serta penindakan yang lembek membuat para penjahat merasa kebal hukum dan semakin berani bertindak sewenang-wenang. Jalan raya yang seharusnya menjadi jalur aman dan nyaman kini berubah menjadi jalur maut yang menakutkan, seolah tidak ada perlindungan hukum sama sekali di sana.
JANGAN BIARKAN KEJAHATAN TERUS MERAJALELA!
Warga dengan lantang menuntut dan tidak mau lagi mendengar alasan berbelit-belit atau janji manis yang hanya tinggal kenangan. Sudah cukup rakyat menjadi korban kelalaian dan ketidakpedulian. Pihak kepolisian dan pemerintah daerah dituntut untuk segera turun tangan dan bertindak nyata! Perbanyak pos pengamanan, gelar patroli rutin siang dan malam, pasang titik pantau, dan jatuhkan hukuman seberat-beratnya bagi para penjahat agar mereka kapok dan tidak lagi berkeliaran dengan leluasa menebar teror.
Ingatlah baik-baik: rakyat membayar pajak dan menaruh harapan besar kepada aparat penegak hukum demi menjamin rasa aman. Jangan sampai kepercayaan suci ini dihianati dengan membiarkan kejahatan bercokol dan menguasai jalanan. Jika aparat tidak mampu mengamankan wilayahnya, untuk apa keberadaannya? Bangunlah dan bekerja nyata sebelum korban semakin banyak berjatuhan dan nyawa melayang sia-sia!
Hingga berita ini diturunkan, korban masih dalam penanganan medis untuk memulihkan luka fisik maupun batinnya. Sementara para pelaku masih bebas berkeliaran di luar sana, dan warga terus menanti kapan keadilan serta rasa aman benar-benar diwujudkan, bukan sekadar diucapkan.
Pewarta. : Hasyim/Nasikin





