
Teropong Indonesia News
BONDOWOSO — Keluhan masyarakat terhadap sistem parkir di RSUD dr. Koesnadi Bondowoso terus bermunculan.
Kali ini, sorotan tajam datang dari keluarga pasien yang menilai pengelolaan parkir rumah sakit milik pemerintah tersebut sudah menyerupai parkir di mall dan pusat perbelanjaan modern.
Parkir di area rumah sakit diketahui dikelola pihak ketiga bernama Royal Parking. Kehadiran perusahaan pengelola parkir swasta itu memicu tanda tanya publik, terutama terkait mekanisme kerja sama dengan pihak rumah sakit maupun Pemerintah Kabupaten Bondowoso.
Sejumlah keluarga pasien mengaku keberatan dengan sistem dan tarif parkir yang diterapkan. Mereka menilai rumah sakit seharusnya mengedepankan pelayanan sosial dan kemanusiaan, bukan justru menerapkan pola komersial seperti pusat perbelanjaan.
“Kalau ke mall mungkin masih wajar. Tapi ini rumah sakit, tempat orang sakit dan keluarga sedang kesusahan. Masa parkirnya dibuat seperti bisnis di pusat belanja,” keluh salah satu keluarga pasien.
Keluhan paling banyak dirasakan keluarga pasien rawat inap yang harus keluar masuk rumah sakit untuk membeli obat, makanan, atau kebutuhan pasien lainnya. Dalam sehari, biaya parkir bisa terjadi berulang kali dan dinilai cukup membebani masyarakat kecil.
Selain tarif, masyarakat juga menyoroti sistem parkir elektronik dan pengelolaan area parkir yang dianggap terlalu berorientasi bisnis. Banyak warga menilai konsep tersebut tidak cocok diterapkan penuh di fasilitas pelayanan publik milik pemerintah daerah.
Sorotan publik kini mengarah pada transparansi kerja sama pengelolaan parkir antara pihak rumah sakit dengan pengelola swasta. Hingga kini belum ada penjelasan resmi secara terbuka mengenai nilai kerja sama, sistem pembagian hasil, maupun dasar penetapan tarif parkir di lingkungan RSUD.
Aktivis masyarakat menilai pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan tersebut. Sebab, pelayanan kesehatan semestinya memberikan kemudahan bagi masyarakat, bukan justru memunculkan beban tambahan di luar biaya pengobatan.
“Rumah sakit daerah itu dibangun dari uang rakyat. Jangan sampai masyarakat yang sedang berobat malah merasa diperlakukan seperti pengunjung pusat perbelanjaan,” ujar seorang tokoh masyarakat Bondowoso.
Masyarakat berharap pihak manajemen RSUD dr. Koesnadi Bondowoso maupun Pemkab Bondowoso segera memberikan klarifikasi terbuka terkait sistem pengelolaan parkir tersebut.
Evaluasi tarif, pemberian dispensasi bagi keluarga pasien, hingga transparansi kerja sama dengan pihak ketiga menjadi tuntutan yang kini mulai ramai diperbincangkan publik. AGUS








