Teropong Indonesia News
PASURUAN, 23 Agustus 2026 — Suasana Pasar Purwosari, Kabupaten Pasuruan, tampak sangat padat dan hidup menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Sejak berpuluh tahun silam, menjelang bulan kelahiran Rasulullah SAW selalu menjadi momen yang ditunggu warga. Berbondong-bondong masyarakat dari berbagai pelosok wilayah Kecamatan Purwosari dan sekitarnya memadati pasar untuk membeli aneka buah-buahan guna menyambut hari kelahiran Nabi Besar Muhammad SAW. Tradisi ini telah berakar kuat dan berjalan secara turun-temurun di tengah masyarakat setempat.

Namun di tengah kemeriahan yang tampak, sejumlah warga menyampaikan perasaan dan pengamatan mereka kepada awak media. Warga menyatakan rasa senang sekaligus rasa rindu yang mendalam.

“Kami memang sangat senang menyambut kedatangan bulan Maulid Nabi. Namun jujur saja, suasana saat ini belum bisa dirasakan seramai dan sehangat dahulu, tepatnya saat kami masih kanak-kanak.”
Warga kemudian mengenang kembali kebiasaan yang dulu selalu dilakukan bersama-sama:

“Dulu, setiap kali acara peringatan Maulid Nabi selesai dilaksanakan, suasana begitu meriah dan penuh keakraban. Anak-anak kecil dari berbagai penjuru berkumpul dan dengan gembira saling berebut buah-buahan yang dibagikan warga. Buah-buahan itu sengaja dibawa dan disiapkan oleh masyarakat untuk dibagikan bersama, sebagai wujud syukur dan kegembiraan memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semua anak mendapat bagian, tanpa dipilah dan tanpa syarat tertentu.”
Kini, lanjut warga, tata cara pembagian buah-buahan tersebut telah berubah total. Pembagian yang dulunya dilakukan secara langsung dan merata kepada seluruh anak yang hadir, kini diganti dengan sistem kupon undian.
“Kalau sekarang sudah berbeda. Buah-buahan tidak lagi dibagikan kepada semua anak yang hadir, melainkan diundi melalui kupon yang telah dibagikan. Menurut pendapat kami, hal ini kurang beretika dan kurang pantas. Bagaimana mungkin peringatan Maulid Nabi yang seharusnya penuh kebersamaan dan kasih sayang justru diatur sedemikian rupa, seolah-olah menjadi sistem undian berhadiah atau layaknya arisan?”
Warga pun menyampaikan kekhawatirannya terhadap kelestarian tradisi tersebut ke depan:
“Kami khawatir, jika terus demikian, maka lama-kelamaan makna serta kehangatan tradisi luhur yang telah dijaga leluhur perlahan-lahan akan hilang dan tidak lagi dirasakan oleh anak-anak generasi mendatang.”
Suara warga ini pun menjadi pengingat bersama, bahwa di tengah perubahan zaman, kebersamaan, kesederhanaan, dan keikhlasan dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW senantiasa menjadi hal yang paling utama untuk dijaga. Irawan – Kabiro

