Teropong Indonesia News
BANYUWANGI, BONDOWOSO — SITUBONDO – Krisis bahan bakar minyak yang melanda dua kabupaten di ujung Jawa Timur ini bukan sekadar soal antrean panjang di pom bensin. Di balik keluhan warga yang mengular setiap hari, tersembunyi masalah logistik yang pelik: jalur distribusi utama dari Depo Pertamina Tanjung Wangi terhambat parah di kawasan Pelabuhan Ketapang, memutus aliran pasokan ke Bondowoso dan Situbondo yang selama ini sangat bergantung pada jalur tersebut. Ribuan pekerja harian, pengemudi angkutan, nelayan, dan pelaku usaha kecil merasakan dampaknya secara langsung.

Selama ini, pasokan BBM untuk wilayah Bondowoso dan Situbondo bersumber dari Depo Pertamina Tanjung Wangi di Banyuwangi — diangkut lewat jalur darat yang melintasi kawasan pelabuhan Ketapang. Jalur sepanjang sekitar 12–15 kilometer inilah yang kini menjadi titik terberat permasalahan.
Bukan karena stok di depo kosong, stok tersedia cukup. Masalahnya adalah mengirimkannya ke lokasi. Kemacetan luar biasa parah yang berlangsung berhari-hari membuat waktu tempuh mobil tangki yang biasanya hanya delapan hingga sepuluh jam sekali jalan, kini membengkak menjadi 15 hingga 23 jam bahkan ada yang terjebak berhari-hari di tengah jalan.
Penyebab kemacetan itu sendiri merupakan gabungan dari berbagai faktor: proyek perbaikan sarana pelabuhan yang belum selesai, kepadatan lalu lintas penyeberangan ASDP yang terus meningkat, hingga terkadang adanya aksi penyampaian aspirasi pengemudi yang memperlambat bahkan menghentikan sementara pergerakan kendaraan di jalur vital tersebut.
Akibatnya, sebelum kiriman berikutnya tiba, stok di SPBU sudah habis duluan. Terjadi kepanikan — warga berbondong-bondong mengisi berlebihan takut kehabisan, yang justru mempercepat stok habis dan menciptakan lingkaran setan: kiriman terlambat → stok menipis → antrean memanjang → makin cepat habis → kesan seolah BBM langka.
Yang paling terasa dampaknya adalah mereka yang mata pencahariannya bergantung pada kendaraan bermotor setiap hari. Para pengemudi ojek, angkutan desa, truk pengangkut hasil bumi, nelayan yang butuh bahan bakar untuk perahu, hingga pedagang yang harus berkeliling semuanya terimbas.
“Sudah tiga hari ini antre di mana-mana, bisa habis waktu berjam-jam cuma buat dapat bensin. Kalau dapatnya terlambat, seharian tidak bisa keliling, tidak dapat penghasilan. Kasihan anak istri di rumah,” keluh salah satu pengemudi angkutan desa di Bondowoso yang enggan disebut namanya, matanya tampak lelah setelah berjam-jam mengantre.
Di Situbondo, keluhan serupa datang dari pengemudi truk pengangkut hasil bumi. “Barang harusnya sampai pagi, sekarang sore belum sampai. Sayur bisa layu, harga bisa turun. Rugi siapa yang tanggung? Kami yang kecil-kecil ini yang menanggung semuanya,” ujarnya dengan nada sedih.
Dampak ini bukan sekadar soal terlambat berangkat kerja ini soal mata pencaharian yang terancam setiap hari karena bahan bakar yang sulit didapatkan.
PERTAMINA AMBIL LANGKAH DARURAT, ALIHKAN JALUR PASOKAN
Menyadari ketergantungan pada satu jalur tunggal ini sangat berisiko, Pertamina segera mengambil langkah penanganan darurat. Keputusan diambil untuk mengalihkan jalur pasokan secara total: Bondowoso kini sepenuhnya disuplai dari arah Surabaya, sedangkan Situbondo 80 persen kebutuhannya dialirkan dari jalur yang sama, menyisakan 20 persen yang masih berusaha dikirim dari Tanjung Wangi.
Total pasokan yang dialihkan mencapai 584.000 liter setiap harinya, didatangkan dari berbagai arah — Malang, Madiun, Tuban, hingga Camplong — agar tidak lagi bergantung pada jalur Ketapang yang bermasalah. Selain itu, Pertamina juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan instansi terkait untuk memberikan prioritas perlintasan bagi mobil tangki di jalur yang macet, agar pengiriman bisa berjalan lebih lancar.
“Kami pastikan stok BBM tersedia cukup untuk masyarakat. Masalahnya hanya di jalur pengiriman yang terhambat, bukan di ketersediaan barang. Untuk itu kami alihkan jalur pasokan agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi,” ungkap keterangan resmi Pertamina.
Krisis ini menjadi pelajaran berharga, ketergantungan pada satu jalur distribusi tunggal sangat berisiko bagi ketahanan energi daerah. Apalagi jalur tersebut melintasi kawasan pelabuhan yang padat dan terus berkembang kemacetan seperti ini kemungkinan besar bisa terulang kembali jika tidak ada solusi jangka panjang.
Masyarakat berharap kemacetan di kawasan Ketapang segera tertangani secara menyeluruh bukan sekadar diatur lalu lintasnya sementara, melainkan dibangun solusi yang memadai untuk masa depan. Karena bagi ribuan warga di Bondowoso dan Situbondo, kelancaran jalur itu bukan sekadar soal perjalanan melainkan soal mata pencaharian, ketahanan pangan, dan kelangsungan hidup sehari-hari.
Sampai berita ini diturunkan, upaya pengalihan jalur pasokan terus berjalan. Warga berharap dalam waktu dekat antrean di SPBU akan berkurang dan mereka bisa kembali bekerja dengan tenang — tanpa harus cemas setiap pagi apakah bahan bakar tersedia untuk hari itu. WAHYU

