Teropongindonesianews.com
Dengan dirilisnya tulisan berjudul “NU, Gus Dur, dan Bromocorah Politik”, Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy Al-Alawiy (Gus Lilur) menyatakan sikap.
“Apa yang harus disampaikan sudah saya sampaikan. Apa yang harus dijelaskan sudah saya jelaskan. Apa yang harus disuarakan sudah saya suarakan. SELESAI. Yang belum saya lakukan tinggal MEMIDANAKAN,” tegasnya.
Gus Lilur menjelaskan alasan mengapa ia belum menjalankan perang pidana. Menurutnya, musuhnya adalah orang spesial yang di dalam tubuhnya mengalir darah gurunya, Kiai Bisri Syansuri.
Bapaknya yang hanya seorang petani dusun dan Rois Syuriah MWC NU, yang setiap minggu mengajar ngaji Kitab Ihya Ulumuddin dan jauh lebih alim dari Rais Aam PBNU, pernah mengajarkan:
“Cung, menghormati guru itu seperti membaca sholawat kepada Rasulullah: _Wa ‘ala alihi_. Menghormati guru harus juga menghormati keluarga guru.”
“Di tubuh Ipul Penakut itu ada darah Kiai Bisri Syansuri, pendiri Pesantren Denanyar Jombang tempat saya menimba ilmu, dan itu yang saya hormati,” ujar Gus Lilur.
Namun ia memberi catatan keras, “Beda halnya jika Ipul Kumis Beracun memidanakan saya duluan. Saya akan bersimpuh di pusara Kiai Bisri Syansuri sebelum saya memidanakan Ipul dengan banyak kasus Tipikor secara bergantian sampai Ipul membusuk di penjara.”
Dalam tiga hari terakhir, ada empat orang yang intens berkomunikasi dengan Gus Lilur dengan agenda yang sama: Menjaga NU. Mereka meminta agar kebenaran yang disampaikan tidak sampai meremukkan NU.
“Beliau berempat sepakat dengan saya bahwa memang ada suap dan jual-beli suara di Muktamar ke-35 NU. Hal ini harus diungkap. Setelah diungkap, mereka meminta saya untuk menepi,” ungkapnya.
Permintaan menepi itu dijawab Gus Lilur dengan tiga syarat:
1. Rais Aam tersebut mengundurkan diri.
2. PCNU, PWNU, dan AHWA penerima suap mengembalikan uang suap ke KPK.
3. Ipul dan kawan-kawan tidak mengajak perang pidana. Jika Ipul Kumis Beracun yang munafik itu mengajak perang pidana, sekalipun dibenci seluruh Kyai NU, saya akan memilih berperang dan memidanakan Ipul, Juri, Nusron, Miftahul Akhyar, dan seluruh antek-anteknya.
Gus Lilur menegaskan dirinya sebagai PAMANGKAR – Pejuang Amar Makruf Nahiy Mungkar.
“Menjadi PAMANGKAR itu beribadah kepada Allah, membumikan Al-Qur’an Surat Ali Imran Ayat 104, dan menjalankan perintah Rasulullah. Saya lebih memilih dicintai Allah dan Rasulullah daripada dipuji para Kyai munafik penerima suap muktamar dari Ipul, Nusron, dan Juri Ardiantoro,” tegasnya.
“Pul, Ipul, ayo pidanakan aku Mas Ipul! Aku akan bersimpuh di pusara Kiai Bisri Syansuri untuk pamitan mencukur kumis munafikmu dan memidanakanmu sampai sampeyan busuk di penjara.”
“Tidak semua santri NU bisa diintimidasi. Tidak semua Kyai NU bisa ditakut-takuti.”
Salam Amar Makruf Nahiy Mungkar,
Haji Raden Mas Khalilur Rahman Abdullah Sahlawiy Al-Alawiy
_Cicit Sayyidina Ali – Cicit Ken Arok_
BiroTIN/STB

