
Teropongindonesianews.com
Lampung Barat – Sejak mulanya, proyek pembangunan ruang Tata Usaha (TU) SMP SATAP 2 Lumbok Seminung sudah sangat rentan berpotensi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).
Nilai kegiatan yang mencapai Rp423.168.000 digunakan untuk membangun sekolah yang lokasinya sangat terisolir. Dari hasil penelusuran terungkap jika realisasi pekerjaan itu menggunakan material kualitas rendah bahkan barang-barang bekas.
Sedikit perlu digambarkan, SMP SATAP 2 Lumbok Seminung berada di Pekon Ujung Rembun, Kecamatan Lumbok Seminung, Kabupaten Lampung Barat. Sebuah desa yang hingga tahun 2023 ini masih terisolir karena ketiadaan akses jalan bagi kendaraan yang memadai.
Untuk menuju kesana hanya dapat diakses dengan berjalan kaki selama kurang lebih 4 jam atau mengendarai kendaraan bermotor roda 2 spesifikasi khusus dan skill mengemudi diatas rata-rata dengan kontur jalan setapak yang mendaki.

Dengan kondisi yang demikian sulit itu, pada tahun 2022 pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Lampung Barat mengucurkan anggaran Rp423.168.000, sebuah nilai yang sangat besar untuk pembangunan ruang Tata Usaha ukuran 7×8 meter.
Mengetahui letak geografis dan lokasi pekerjaan yang sangat sulit diakses, serta nilai anggaran yang cukup besar, menggelitik rasa ingin tahu awak media ini untuk melihat secara langsung bagaimana kondisi pembangunan ruang TU yang ada di SMPN SATAP 2 Lumbok Seminung.
Setibanya disana, kecurigaan awal awak media bahwa ada yang tidak beres dengan proyek tersebut terbukti benar, dengan melihat kondisi bangunan serta material yang digunakan.
Untuk material bangunan menggunakan Batako serta kayu bekas, sementara Pasir diperoleh dari kerukan gunung di sekitar Pekon, sedangkan kusen jendela dan pintu sebagian menggunakan barang sisa dari kayu yang ada disekitar lokasi pekerjaan, dimana untuk mengelabui publik dilakukan pengecatan agar terlihat baru.
Dari pengakuan warga sekitar sekolah, diperoleh keterangan jika material yang dilangsir menggunakan kendaraan bermotor Roda 2 hanya semen dan keramik serta bagian atap.
Sementara keluarga dari Peratin setempat membenarkan jika material bekas yang digunakan untuk membangun ruangan TU tersebut diperoleh dari sisa-sisa pembangunan balai Pekon yang tidak habis dipakai.
Melihat fakta demikian, awak media yang turun langsung kelokasi dipaksa berpikir keras soal motif pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat dalam mengucurkan anggaran untuk pembangunan tersebut.
Sebab, jika dalihnya untuk menciptakan pemerataan kualitas pendidikan, seharusnya pihak dinas mempertimbangkan bagaimana kualitas proses belajar mengajar di sekolah itu. Sedangkan dari keterangan yang diperoleh, diketahui jika jumlah murid yang ada disana hanya hitungan jari dan kegiatan belajar mengajar tidak berjalan optimal karena ketiadaan tenaga pengajar, bahkan kepala sekolahnya saja belum tentu sebulan sekali berada di lokasi sekolah untuk menjalankan tugasnya.
Dari sini saja, kita dapat menilai jika semestinya pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat lebih memprioritaskan kepada kualitas belajar mengajar dengan memperbaiki ruang kelas, fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar, ketimbang memperbaiki bangunan TU yang bahkan gurunya saja entah ada dimana, lebih-lebih nilainya hampir mencapai setengah miliar Rupiah.
Ketika masalah pekerjaan yang katanya dieksekusi pihak rekanan ini dikonfirmasikan kepada pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Lampung Barat, justru tidak satupun pejabat disana yang bisa memberikan jawaban. Malah mereka menyarankan agar persoalan ini tidak dipublikasikan karena dikhawatirkan bakal menjadi masalah dikemudian hari.
Dengan hal tersebut, awak media semakin menyakini jika memang terdapat persoalan serius dalam pekerjaan dimaksud yang mengarah kepada indikasi Korupsi, Kolusi dan Nepotisme alias KKN.
Persoalan ini sendiri dikupas secara berseri, karena awak media masih terus berupaya melakukan klarifikasi maupun konfirmasi kepada semua pihak-pihak terkait, agar publik dapat menyimpulkan sendiri apa yang terjadi dengan pekerjaan tersebut. Sehingga dapat memberikan wawasan serta pemahaman yang jelas soal masalah yang ada didalamnya.
Pewarta: (Tim). Editor: Santoso.







