
Teropongindonesianews.com
(Borong-Manggarai Timur) – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Manggarai Timur (Kemenag Matim) Rabu (27/07/2022) gelar kegiatan sosialisasi nilai moderasi beragama bagi kalangan umat Kristen Kecamatan Kota Komba Kabupaten Manggarai Timur. Kegiatan bertajuk Dialog Moderasi Beragama dan Pencanangan Tahun Toleransi 2022 dilaksanakan di Gereja Jemaat GMIT Imanuel Waelengga diikuti perwakilan umat, tokoh agama dan penyuluh agama Kristen non PNS Kantor Kemenag Matim.

Kepala Kantor Kemenag Matim Anselmus Pangabean, S. Ag membuka kegiatan dimaksud sekaligus tampil sebagai narasumber utama didampingi Penyelengara Kristen Kantor Kemenag Matim Heronimus Radja, S.Th dan Ketua Majelis Klasis Flores Barat Pendeta Merkury Deltario Sine, S.Th.
Kakankemenag Matim Anselmus Panggabean, S.Ag mengawali paparannya dengan menggambarkan maksud dan tujuan sosialisasi nilai moderasi beragama sebagai salah satu program prioritas Kementerian Agama selain Transformasi Digital, Revitalisasi KUA, Cyber Islamic University, Kemandirian Pesantren, Religiousity Index, dan Pencanangan Tahun Toleransi 2022.
Menurut Anselmus Panggabean, tujuan dilaksanakan kegiatan ini adalah memberikan pemahaman kepada umat beragama khususnya umat Kristen apa makna serta manfaat moderasi beragama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Keberagaman yang ada pada masyarakat Indonesial khususnya agama seringkali menimbulkan gesekan akibat sikap eksklusif yang hanya mengakui kebenaran dan keselamatan secara sepihak suatu agama. Konflik keagamaan yang banyak terjadi di Indonesia, umumnya dipicu adanya sikap keberagamaan yang eksklusif serta adanya kontestasi antar kelompok agama dalam meraih dukungan umat yang tidak dilandasi sikap toleran. Masing-masing menggunakan kekuatannya untuk menang sehingga memicu konflik yang mengancam keutuhan bangsa dan negara Indonesia.
“Untuk menghindari perpecahan bangsa maka Kementerian Agama hadir melalui program moderasi beragama dengan tujuan membangun sikap moderat, tenggang rasa, toleransi, saling menghargai antarumat beragama serta menghargai keberagaman yang kita miliki,” awal Anselmus.
Dengan kata lain moderasi beragama merupakan usaha kreatif untuk mengembangkan suatu sikap keberagamaan di tengah berbagai desakan ketegangan, seperti antara klaim kebenaran absolut dan subjektivitas, antara interpretasi literal dan penolakan yang arogan atas ajaran agama, juga antara radikalisme dan sekularisme,” lanjut Kakankemenag Matim.
Menurutnya jika moderasi beragama dipahami dan dilaksanakan dengan baik maka toleransi akan baik. Kekerasan tidak akan terjadi, komitmen kebangsaan akan semakin meningkat; sebab moderasi beragama menjunjung tinggi harkat martabat manusia serta berperan penting dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Darimana kita harus memulai moderasi beragama, Anselmus menegaskan bahwa moderasi beragama harus dimulai dari internal suatu agama. Bila umat masing-masing agama sudah memiliki nilai itu maka interaksi sosial dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara akan berjalan baik.
Mantan Kepala Sub Bagian Tata Usaha Kantor Kemenag Kabupaten Alor dan Manggarai Barat tersebut menitipkan pesan agar umat Kristen memaknai nilai-nilai moderasi beragama serta menjaga hubungan lintas agama di Kecamatan Kota Komba khususnya maupun Kabupaten Manggarai Timur umumnya yang sudah terjalin baik selama ini.
“Menghancurkan suatu hubungan baik itu sangat mudah, namun untuk membangun kembali sangat sulit. Mari dalam suasana tahun toleransi 2022 ini kita bergandengan tangan menjaga keutuhan bangsa dan negara tercinta,’ tutup Anselmus.
Selanjutnya Ketua Majelis Klasis Flores Barat Pendeta (Pdt) Merkury Deltario sine, S.Th sebagai pembicara berikutnya menyampaikan bahwa nilai moderasi beragama sudah tercermin dalam ajaran Kristiani. Salah satunya adalah perintah untuk saling mengasihi sesama umat manusia. Perintah ini menurut Pdt. Merkury dimaknai sebagai mengasihi sesama manusia tanpa memandang batas atau sekat suatu agama, karena semua manusia sama di mata Tuhan.
“Mari kita amalkan ajaran saling mengasihi dalam kehidupan beragama maupun berbangsa yang majemuk. Hargai perbedaan yang kita miliki dan bersikap moderat dalam interaksi sosial kemanusiaan,” pesan Pdt. Merkury.
“Umat Kristen harus hadir sebagai pembawa kasih dan damai bagi sesama dimanapun kita berada. Kitab suci telah mengatur prinsip-prinsip relasi kehidupan kita, baik hubungan manusia dengan Tuhan ataupun hubungan manusia dengan sesamanya dalam kehidupan bermasyarakat. Laksanakan perintah kitab suci kita dengan baik,” pungkasnya.
Usai paparan materi, dilanjutkan dengan dialog dipandu Penyelenggara Kristen Heronimus Radja, S.Th. Perwakilan peserta antusias dengan kehadiran Kantor Kemenag Matim serta berharap kegiatan sosialisasi moderasi beragama diadakan rutin agar seluruh umat beragama memiliki pemahaman serta kesadaran yang sama hal pentingnya moderasi beragama.***(Wempy)







