
Teropongindonesianews.com
“Nga’ó mea, taku we’e solo re one riwu rege” (Saya malu dan takut berbicara di depan orang banyak), itu kata sri dengan bahasa Rendu yang kental saat teman-temannya memilih dia menjadi ketua forum anak Desa Renduwawo.
Forum anak yang terbentuk setahun yang lalu, di bulan juni, sebulan sebelum palu kepala desa mengetok meja pertemuan untuk menetapkan Peraturan Desa Renduwawo nomor 1 tahun 2023 tentang penyelengaraan perlindungan perempuan dan anak Desa Renduwawo.
Matanya tatap lurus menuju meja Kepala Desanya. Ia malu dan takut, sebuah perasaan alami manusia tetapi jauh dari pada itu ini tentang sebuah ruang dan kesempatan yang membuat mereka masih bisa percaya diri berdiri dihadapan teman-temannya untuk berbicara dan memimpin. Tapi, apakah Sri sekarang tetap berucap dengan kalimat yang sama?
Nah, apa itu Forum anak desa?.
Forum anak desa itu ruang partisipasi anak. Kementerian Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) juga mendorong Forades sebagai wadah partisipasi anak, (Kompas 2021), mendorong keterlibatan Forum anak desa dalam proses pengambilan keputusan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan anak.
Ya, ini untuk semua anak di desa, anak-anak seperti Sri, yang menghabiskan masa-masa kecil di kampung terpencil dengan minimnya fasilitas dan akses. SD di kampung, SMP di Kampung, SMA pun ia habiskan di Kampung. SMKN 1 Aesesa Selatan tepatnya tempat sekarang ia menimba ilmu. Bagi mereka, Forades itu tempat kumpul, untuk dapat duduk omong-omong (diskusi), untuk mengusulkan kegiatan kepada pemerintah.
Maka hal yang sangat positif dan membanggakan ketika anak-anak mulai aktif dan bisa berubah, dari yang malu menjadi tidak malu, rasa percaya diri muncul sebagai bagian perubahan. Tempus Mutantur Et Nos Mutamur In Illid (Waktu berubah dan kitapun berubah didalamnya), supaya, tidak ada lagi kata “Nga’o mea, Nga’o Taku solo” dari mulut polos anak-anak lainnya seperti Sri.
Forum anak desa perlu didorong untuk agar bisa aktif, maka perlu Pemerintahan Desa lebih giat dengan kegiatan-kegiatan yang aktif, inovatif, efektif dan menyenangkan. Kan adanya forum anak desa jadi bagian penting dalam indikator kabupaten layak anak.
Kabupaten Layak Anak adalah program yang bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan layak bagi anak-anak di seluruh kabupaten. Dalam program ini, forum anak desa berfungsi sebagai mitra pemerintah dalam menyelesaikan permasalahan anak dan memastikan hak-hak anak terpenuhi.
Untuk mendukung ruang partisipasi ini, di Nagekeo misalnya, ada Peraturan Daerah Nagekeo nomor 2 tahun 2016 yang mengamanatkan tentang ruang partisipasi ini.
Di Desa Renduwawo pun ada Peraturan Desa nomor 1 tahun 2023 yang secara eksplisit tertuang tanggung jawab pemerintah terkait Forum anak desa, kegiatannya sampai pada penganggarannya. Nah, apa lagi? Su hampir komplit to. Yang dibutuhkan tambahan adalah komitmen bersama agar forum anak desa menjadi ruang yang aman dan nyaman serta partisipatif untuk anak-anak di desa.
Sejak terpilihnya Sri menjadi Ketua, Forum anak Desa Renduwawo mulai giat berkumpul, tidak harus rame-rame, mereka mulai dari kelompok kecil, dari pengurus dan dari dusunnya. Semangat anak-anak ini gayung bersambut dengan dukungan dan lingkungan yang diciptakan oleh Desa dan masyarakat di desanya.
Kepala Sekolah SMKN 1 Aesesa selatan dan para guru mendukung penuh yang dilakukan Sri dan teman-temannya di desa. Pendamping dan Kepala Desa pun demikian, mereka juga mendukung forum anak desanya.
Maka Sri dan teman-temannya di beri anggaran untuk kegiatan forum anak desa di Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 79 tingkat Kecamatan Aesesa Selatan Klaster 3.
Anggaran yang tidak banyak itu dimaksimalkan oleh forum anak Desa Renduwawo. Antusias warga dan anak-anak sungguh luar biasa, Forum anak desa Renduwawo menjadi penggerak kegiatan itu untuk 4 Desa yang mengikuti HUT RI ke 79 itu.
Para pengurus mempersiapkan dengan baik, mulai dari duduk omong-omong bersama, bukan hanya pengurus Forades tapi bersama pendamping, Staf Plan, Kepala Desa, dan para tokoh di desa.
Senangnya, tidak ada intervensi dalam diskusi perancangan kegiatan dan disetujui oleh Kepala Desa. Anggaran desa itu diserahkan kepada Forum anak desa untuk mengelolanya.
Wah, ini sejarah. Kepala Desa mengakui bahwa ini pertama kali Forum anak desa melaksanakan kegiatan yang mereka rancang dan sekaligus anggaran itu mereka kelola sendiri.
Tepuk hebat 3 kali untuk itu. Kemeriahan kegiatan di pimpin oleh anak-anak ini bersama pendamping. Lagi-lagi ini tentang dukungan banyak pihak terutama pemerintahan desa, Kami orang Rendu bilang “ma’e tuga solo, ngusa ne’e da ngo” (Jangan hanya omong, buat juga). Kata lainnya tu ‘tidak hanya sebatas kata-kata to’.
Semua tidak instan, tidak sekali jadi, tidak semudah kasi balik itu telapak tangan. Sebagai Lembaga anak, Yayasan Plan International Indonesia terus mendorong dan mengadvokasi pemerintah sebagai penanggung jawab dan pemangku kepentingan utama.
Maka tidak ada yang mustahil kan, sebuah batu karang yang kokoh pun akan perlahan terkikis karena tetes demi tetes air hujan atau deburan ombak secara terus menerus. Masyarakat perlahan paham dan teredukasi karena kegiatan pendampingan dari rumah tangga sampai dusun, pemerintah mulai mengimplementasikan peran-perannya untuk mewujudkan desa layak anak dengan intervensi kegiatan-kegiatan forum anak desa, ada juga dukungan anggarannya. Sri dan anak-anak lainnya diberi ruang partisipatif, diberi kesempatan berkreasi dan berkegiatan dengan suka cita dan penuh kebanggaan.
Harapannya, komitmen tidak hanya sebentar layar berkembang dan patah lunglai diperjalanan, dukungan demi dukungan perlu tetap ada, apalagi untuk anak-anak desa seperti Sri dan teman-temannya, yang tidak banyak akses tentang informasi, yang tidak ada handphone untuk berkomunikasi, tidak ada jaringan internet, jalan yang masih rusak, air bersih yang hanya mengandalkan air embung di sekitar kampung.
Atau anak-anak seperti Sri yang adalah gadis yatim karena sejak lama ditinggal meninggal mamanya sehingga hanya di asuh oleh bapaknya yang seorang petani musiman.
Kesempatan-kesempatan dan ruang untuk bisa pimpin dan berpartisipasi adalah kebanggaan sekaligus tempat belajar buat anak-anak desa.
Ya, media pemberdayaan bagi anak, ruang pengembangan bakat dan minat anak, tempat Pendidikan informal dan juga jembatan komunikasi antara anak dan pemangku kepentingan.
Maka sangatlah perlu dukungan dari keluarga, dukungan Pemerintahan desa beserta masyarakat, fasilitasi dari pendampingnya dan perlu juga terus didampingi oleh Yayasan Plan Indonesia dalam kerja-kerjanya menjadi fondasi kokoh berlanjut, berkembang menuju kemandirian Forum Anak Desa.
Dengan aktifnya Forum anak desa, Sri dan anak-anak lainya tidak lagi berucap: “Nga’o mona beó” (Saya tidak tau), tetapi kini mereka akan berucap lantang : ”Saleza, Nga’o Mea, bholo ngi ngaó bangga ngeri” (Hari yang lalu saya malu, sekarang saya maju dan bangga sekali).
Tanah Rendu yang kering tidak mengeringkan sumber daya yang sedang tumbuh tunas sehingga berkembang dan berbuah demi masa depan yang baik di masa yang akan datang.
Salam perlindungan anak dari tanah Rendu.Rendu 22 Agustus 2024
John Orlando.
Pewarta: Yohanis Don Bosco.
Editor: Santoso.








