
Teropongindonesianews.com
Tapanuli selatan SUMUT – Kepala Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia (MAN IC) Tapanuli Selatan, Abdul Hakim Siregar mengatakan pendidikan seharusnya memperhatikan tujuan pengembangan jasmani dan rohani. Dalam hal ini disampaikan humas MAN IC kepada awak media teropong indonesia news pada selasa (25/03/2025)
Dulu pada zaman Spartian, pendidikan mengutamakan jasmani (fisik), sedangkan sebelahnya Athena mengedepankan tujuan pendidikan untuk menjadi warga negara yang baik atau demokrasi. Sementara itu, Mesir kuno menomorsatukan keagamaan atau spritualitas. Dan masih banyak lagi tujuan pendidikan.
Kini, saya mengamati salah satu persoalan pelik dalam pendidikan Indonesia, kecenderungan mengubah-ubah tujuan pendidikan. Ketika pengubahan terjadi, tujuan yang lama dihapus dan ditimpa rumusan tujuan baru. Ini mengkhawatirkan.
Kita mengerti pendidikan di MAN IC Tapanuli Selatan, karena itu kita menggandeng Batalyon C Brimob Polda Sumatera Utara untuk membina siswa baru MAN IC Tapanuli Selatan dan ini sudah kita lakukan sejak tahun 2022, 2023, 2024, dan 2025 nantinya. Ujar Hakim.
Secara teologis, kepaduan pembinaan jasmani dan rohani ada landasan Qur’ani dalam Al-Quran. Sebagai contoh kisah pengakatan (panglima) Thalut. Ia dipilih Tuhan, karena dua kriteria: kuat ilmu dan fisik. (Qs. Al-Baqarah: 247). Nah, sekarang banyak pendidikan di Indonesia dari SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/SMK/MA, hanya fokus akademik. Kadang hal itu pun kurang maksimal. Karena banyak hal terkait pendidikan, misalnya sarpras yang terbatas.
Lanjut “Hakim yang juga wakil ketua DPW PGMI Sumatera Utara meyakinkan kekuatan ilmu dan jasmani (fisik) ada kombinasi yang sangat dibutuhkan umat Islam, terutama sekolah berasrama (boarding school) dan pondok pesantren. Kalau hal itu, kurang dibenahi, kita tidak bisa jadi pemain dalam kehidupan nyata ini. Kecuali sekadar penonton yang membuat umat termaginalisasi.
Sebagai penganut dan pengikut Tarekat Sunan Anbia, Hakim (Sunan Tapanuli) sebagaimana diajarkan gurunya, Prof KH. Yudian Wahyudi mendoakan muridnya agar mencapai ilmu sampai Harvard (contoh saja), rezki serupa konglomerat, dan kuasa menjadi presiden- setidaknya menteri. Untuk pencapaian itulah, shalat hajat dan pembacaan ayat kursi menjadi adat istiadat bagi murid MAN IC Tapsel sebagai kekuatan tambahan calon pemimpin masa depan.
Selaku Komandan Batalyon C Brimob Polda Sumut, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Dr. Buala Zega, S.H., S.Th., M.H. yang memberikan sertifikat apresiasi kepada Abdul Hakim Siregar. Sekaligus sang Komandan menyampaikan nasihat kepada Hakim. Sebagai leader, kekuatan pemimpin terletak pada manajemen. Karena itu, pertama, pemimpin harus membuat tujuan dan perencanaan. Kemudian, mengorganisasikan tugas-tugas. Selanjutnya, melaksanakan. Seterusnya, melakukan pengawasan dan pengendalian. Lalu, membuat evaluasi atau pengevaluasian.
Ibaratnya, kita berencana mendaki (menuju) gunung tinggi. Lalu, pemimpin membagi tugas masing-masing. Melakukan pekerjaan sebagaimana diinstruksikan. Pemimpin melakukan pengawasan dan pengendalian pendakian anggota. Sambil mengarahkan sesuai tujuan. Dan sesampai di puncak, melakukan evaluasi. Untuk masukan dan perbaikan masa depan.
Tentu saja banyak sisi lain yang perlu diperhatikan leader, misalnya, pemimpin memiliki kualitas majemuk (kombinatif), komunikasi dan wawasan yang luas menyangkut hubungan antarmanusia dan berbagai stakeholder yang dipimpin. Ini menyangkut manusia. Intinya, menguasai diri dan melawan diri dalam segala bentuk keinginan, hasrat, nafsu, motif, niat, tantangan, yakni mampu memimpin diri dulu sebelum memimpin orang lain. Ujar Komandan Brimob C, Dr. Buala Zega. Turut hadir dalam dalam pertemuan itu, Dpp Pasi Ops AKP H. Martoga Siagian, S.Pd dan Selamet Purwanto, SH.
Ali Hrp korwil Sumut







