
Teropongindonesianews.com
Lampung – Hari Pendidikan Nasional kembali hadir, membawa gelombang sentimen nasionalisme dan komitmen terhadap pendidikan. Namun, di balik seremonial upacara, pidato, dan tagar #MerdekaBelajar yang membahana di media sosial, realita di lapangan justru menyajikan potret ironis: sebuah perpaduan antara niat baik, kebijakan yang seringkali kontraproduktif, dan realitas pahit yang terselubung di balik jargon-jargon motivasi.
Perayaan ketimpangan seolah menjadi tradisi. Di kota-kota besar seperti Jakarta, anak-anak menikmati akses pendidikan yang canggih, belajar AI, coding, dan bahasa Inggris dengan guru-guru berlatar belakang internasional. Sebaliknya, di pedalaman Papua Pegunungan, anak-anak berjuang untuk sekadar mengenyam pendidikan dasar. Mereka harus menempuh perjalanan ekstrem—mendaki bukit, menyeberangi sungai, bahkan berhadapan dengan satwa liar—hanya untuk sampai di sekolah yang fasilitasnya memprihatinkan; papan tulis yang rusak dan rata-rata lama sekolah hanya 5,1 tahun. Kontras yang mencolok ini tergambar jelas: sekolah-sekolah di perkotaan dilengkapi AC, CCTV, dan kantin modern, sementara di daerah terpencil, perjuangan untuk mendapatkan pendidikan saja sudah bagaikan medan perang. Ironisnya, konsep “Pendidikan Inklusif” terdengar begitu indah dari ruang ber-AC yang nyaman, jauh dari realita lapangan.
Literasi digital mungkin tinggi, terlihat dari kemampuan anak-anak membuat caption viral dan berdebat di media sosial. Namun, kemampuan membaca, menulis, dan memahami bacaan masih menjadi tantangan besar. Siswa kesulitan memahami teks pelajaran, sementara kementerian sibuk menyelenggarakan lomba menulis puisi dan pidato dengan penekanan pada hafalan, bukan pemahaman mendalam. Literasi yang sesungguhnya seolah terpinggirkan demi kepentingan dokumentasi kegiatan.
Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), yang seharusnya menjamin pemerataan pendidikan, seringkali disalahgunakan. Laporan keuangan sekolah tampak rapi, namun guru honorer masih menerima gaji yang jauh dari layak, setara dengan biaya parkir bulanan. Proyek pengadaan alat-alat sekolah seperti proyektor seringkali bermasalah, dana cair namun barang tidak kunjung datang, menimbulkan kecurigaan atas pengelolaan dana tersebut.
Pendidikan tinggi pun semakin sulit diakses. Biaya kuliah yang terus meningkat—dengan alasan inflasi, pengembangan kampus, atau “penyesuaian”—membuat pendidikan tinggi menjadi privilese, bukan lagi hak. Mahasiswa yang kritis seringkali dibungkam, sementara yang diam hanya menerima konsekuensi berupa molornya penyelesaian skripsi karena kesibukan dosen pembimbing yang mengikuti pelatihan dan penelitian di luar negeri.

Infrastruktur sekolah juga memprihatinkan. Lebih dari 60% ruang kelas SD mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Siswa belajar dalam kondisi yang tidak layak, bahkan harus menampung air hujan dengan ember saat atap bocor. Kondisi ini disebut sebagai “kurikulum tersembunyi” bernama “adaptasi ekstrem,” sebuah ironi yang menyayat hati.
Kurikulum yang berganti-ganti setiap pergantian menteri pendidikan juga menjadi masalah. Guru terus menerus dituntut untuk belajar ulang, siswa menjadi kelinci percobaan, orang tua kebingungan, dan dunia usaha hanya bisa tertawa karena harus melatih lulusan dari awal. Sistem pendidikan bagaikan sinetron yang tak kunjung usai, dengan plot berputar-putar dan aktor yang silih berganti.
Di Lampung, permasalahan semakin kompleks dengan masih banyaknya sekolah, baik negeri maupun swasta (meski menerima dana BOS), yang menahan ijazah siswa karena belum melunasi iuran komite, meskipun hal ini telah dihimbau oleh Gubernur Lampung.
Di tengah semua absurditas ini, masih ada guru-guru hebat, murid-murid yang gigih, dan orang tua yang tetap percaya pada kekuatan pendidikan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Di Hari Pendidikan Nasional ini, mari kita sampaikan doa agar tahun depan, kita bukan hanya sekadar upacara dan berpuisi, tetapi benar-benar belajar; bukan hanya untuk mendapatkan nilai, tetapi untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermartabat dan bermakna.
Bang Ain







