
Teropongindonesianews.com
(Memperingati Santa Dymphna Pelindung Panti, 15 Mei 2025)
Oleh Dionisius Ngeta
Koordinator Panti/Yayasan
Sikka – Sosok Santa Dymphna adalah personifikasi dari pribadi yang memiliki Komitmen, Totalitas dan Konsistensi sikap iman kepada Tuhan. Dia tak tergiur oleh hal-hal duniawi walaupun hidup dalam kemewahan sebagai anak raja (Damon) di Kerajaan sekitar abad ketujuh. Sejak kecil Dymphna dididik dalam Iman Katolik oleh ibunya.

Ia justeru memilih meninggalkan Kerajaan dan hidup dalam pertapaan/biara. Ia menolak ajakan sang ayah menikah dengan ayahnya ketika para pembantu raja tidak menemukan sosok perempuan yang mirip ibundanya yang telah meninggal. Dymphna yang baru berusia 15 tahun saat itu adalah satu-satunya memiliki begitu banyak kesamaan dengan ibundanya.
Karena itu, Damon, sang raja kafir itu memaksa Dymphna untuk menikah dengannya walau Dymphna adalah anak kandungnya sendiri. Dymphna yang baru berusia 14 tahun justeru memilih konsisten pada pilihan dan total untuk Tuhan. Dia memilih tetap dalam biara, setia dalam kemurnian, bersatu dalam kepasrahan kepada Tuhan walaupun beresiko kamatian.
Dymphna dibunuh pada tahun 620 saat ia berusia 15 tahun. Kepalanya dipenggal bersama pastor pengakuannya: Gerebernus. Kesetiaan dan konsistensi sikap yang teguh pada pilihan hidupnya adalah kebahagiaan baginya walaupun berakibat kematian. Imannya yang teguh adalah warisan ibundanya yang selalu taat dan setia pada iman Katolik. Karena itu dia menjadi Santa, Pelindung Orang Dengan Gangguan Jiwa dan Epilepsi.
Bagi Santa Dymphna, kematian karena kesetiaan dan konsistensi dengan nilai-nilai yang diajarkan Kristus serta memiliki sikap iman yang senantiasa teguh bersatu dengan Tuhan adalah sebuah kebahagiaan. Karena itu darahnya yang tertumpah di tanah Gheel, Belgia adalah berkah bagi banyak orang.
Banyak orang sakit jiwa mengalami kesembuhan ketika mengunjungi makamnya. Gheel, Belgia, di mana Santa Dymphna dimakamkan menjadi pusat dan tempat Rehabilitasi orang dengan sakit jiwa terbesar di dunia saat ini.
Pada 15 Mei 2025, Komunitas Panti Santa Dymphna Yayasan Bina Daya Santo Vinsensius Cabang Sikka (YASBIDA) merayakan pesta pelindungnya. Hari tersebut merupakan suatu keberbahagiaan dan Syukur tak terhingga. Santa Dymphna bukan hanya telah menjadi Pelindung dan Pendoa bagi Panti ini. Tapi keteladanan dan spiritualitasnya adalah roh menyemangati seluruh karya pelayanan terhadap ODGJ di panti.
Panti yang sedang merehabilitasi 132 Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) ini memilih pelindungnya adalah Santa Dymphna. Pilihan terhadap Santa Dymphna merupakan rekomendasi dan kesepakatan bersama Pimpinan Umum CIJ kala itu: Sr. Mediatrix, CIJ.
Ketika Sr. Lucia, CIJ berkonsultasi tentang pelindung panti tahun 2004, saat itu juga Pimpinan Umum sedang membaca riwayat dan spiritualitas Santa Dymphna. Santa Dymphna akhirnya terkonfirmasi dan disepakati menjadi Pelindung Panti.
Spiritualitasnya menjadi api yang membakar semangat kerja-kerja pelayanan para pegawai, perawat, tenaga psikologi dan karyawan-karyawati. Doa Santa Dymphna dan berbagai pendekatan Psiko-spiritual, Medis-Herbal, psikologi, Sosial, Kenistetis dan Perhatian terhadap gizi-nutrisi membuahkan hasil.
Kurang lebih 215 Penyandang Masalah Sosial (PMS) termasuk pasien dengan sakit jiwa sudah dikembalikan ke tengah keluarga sejak panti ini didirikan. Hal ini terjadi karena para pekerja di Panti Santa Dymphna memiliki komitmen dan konsistensi sikap iman untuk melayani Tuhan dan sesama terutama sama saudara yang alami sakit jiwa.
“Kita adalah orang-orang yang berbahagia karena telah melayani Tuhan dalam diri mereka. Dan melayani mereka yang kecil dan menderita adalah juga melayani Tuhan. Tuhan Yesus sendiri telah mengatakannya. “Segala sesuatu yang kamu lakukan terhadap saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku”, demikian Sr. Lucia, CIJ dalam sambutannya saat apel pembukaan kegiataan dalam rangka merameriahkan pesta pelindung panti selam sebulan.
Sejak didirikan, 26 Januari 2004 bahkan sebelumnya (2003), Panti Santa Dymphna dan Sr. Lucia, CIJ sudah memilih Orang Dengan Sakit Jiwa sebagai fokus keberpihakannya. Opsi keberpihakan CIJ terhadap orang kecil dan menderita diterjemahkan secara kontekstual dalam diri mereka yang sakit jiwa.
Banyak Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) terlantar di jalan ditanggapi oleh Sr. Lucia, CIJ dengan aksi social karitatifnya sejak tahun 2003. Memandikan, memberi mereka makan, mengobati lukanya di jalan sekitar kota Maumere bukan sekedar aksi biasa.
Hal yang dilakukan Sr. Lucia, CIJ merupakan kontekstualitasi teologi keberpihakan terhadap orang miskin dan menderita yang merupakan opsi gereja dan visi-misi Kongregasinya. Teologi bukan ilmu abstrak semata tapi memiliki implikasi praktis dalam kehidupan manusia. Ia memiliki kaitan erat dengan konteks sosial. Teologi tidak hanya membahas konsep-konsep teoritis tapi juga berurusan dengan pengalam iman atau pengalaman rohani.
Ketika Sr. Lucia, CIJ selesai membangun Panti Rehabilitasi Penyandang Cacat Santa Dymphna, ia terus membangun komunikasi dengan ODGJ jalanan untuk menjalin keakraban dan terus mengajak mereka tinggal di panti.
Bagi Sr. Lucia, CIJ beriman tidak saja memandang Allah yang di atas sebagai tujuan perziarahan Manusia dan berdoa kepadanya tanpa perduli dan berbuat kasih kepada sesama terutama yang miskin dan menderita, seperti ODGJ. Beriman tidak saja memahami Allah secara konseptual tanpa berbelas kasih dengan sesama terutama yang menderita. “Iman tanpa perbuatan adalah mati”, demikian Rasul Santo Yakobus
“Ibadah yang sejati adalah berbuat kasih. Dan kita mencintai atau berbuat kasih itu tidak hanya kepada Allah tapi juga kepada sesama terutama mereka yang mendirita seperti orang dengan gangguan jiwa,” demikian Sr. Lucia, CI yang pernah mendatangkan Delon bekerja sama dengan Pemda Sikka untuk promosi Panti Santa Dymphnadalam sebuah wawancara belum lama ini.
Sebagaimana pelindungnya: Santa Dymphna, Sr. Lucia, CIJ, Pimpinan Panti/Yayasan sangat komit dan konsisten dengan Visi dan Misi Kongregasi dan Panti khususnya. Komitmen dan konsistensi sikap dan pilihan pelayanan terhadap orang kecil-miskin papa dalam diri ODGJ itu adalah sejalan dengan Visi-Misi Kongregasi dan Gereja Universal.
Bagi Sr. Lucia, CIJ komitmen dan konsistensi adalah keteguhan dan kesetiaan terhadap nila-nilai (kebenaran, keadilan, kejujuran, kesetiaan, tanggungjawab) yang diyakini dan dihayati sebagai sebuah kebenaran dengan mendermakan seluruh waktu, tenaga, pikiran dan perhatian untuk kepentingan orang lain. Karena itu komitmen dan konsistensi membutuhkan pengorbanan dan keberanian, selain kepasrahan, keyakinan dan keteguhan iman kepada Tuhan.
“Melayani ODGJ juga bukan tanpa tantangan dan kesulitan. Memang berat! Banyak air mata yang tertumpah. Mungkin sudah penuh bak. Tapi komitmen dan konsistensi sikap dibutuhkan untuk menghidupi nilai-nilai dan Visi-Misi yang diusung Kongregasi/CIJ, Yayasan dan Panti, demikian Sr. Lucai, CIJ dalam sambutannya pada Apel Pembukaan Pesta Pelindung Panti, 15 April 2025.
“Hal itu adalah keniscayaan sebagai konsekuensi dari pilihan pekerjaan dan sebagai seorang yang diutus dan percayakan CIJ. Kesetiaan dan keteguhan mendermakan seluruh hidup (waktu, tenaga, perhatian dan pikiran) untuk Panti dan mereka yang dilayani adalah tanda bahwa seorang terutus memiliki komitmen, totalitas dan konsistensi sikap selain memiliki iman yang kuat dan teguh”, lanjut Sr. Lucia, CIJ dalam sambutannya itu.
Sr. Lucia, CIJ juga menggarisbawahi bahwa ada kebahagian dan sukacita yang dialami dalam melayani ODGJ. Bagi Sr. Lucia,CIJ, kebahagiaan itu bukan terletak pada apa dan berapa banyak yang dimiliki. Tapi pada pelayanan dan perbuatan kasih yang nyata.
“Saya tidak punya apa-apa. Ini semua milik Kongregasi, milik mereka yang dilayani. Kebahagiaan itu justeru ketika kita melayani sesama, melepaskan segalanya dan menyatu dengan Allah. Atau mencintai Allah dan sesama tanpa syarat, terutama mereka yang miskin papa dan menderita seperti Orang Dengan Gangguan/Sakit Jiwa. Bukan pada seberapa banyak kita memiliki barang atau uang”, lanjut Sr. Lucia, CIJ dalam sambutannya itu.








