
Teropingindonesianews.com
Peristiwa – Tahun 2025. Sebuah undangan jumpa pers dari Aktivis ’98 mengejutkan saya. Mereka akan menyampaikan tuntutan, memimpin demonstrasi – hal yang seharusnya menjadi domain aktivis muda. 27 tahun telah berlalu sejak Reformasi ’98; dua abad telah berganti. Pertanyaan besar pun muncul: kemana generasi penerus aktivis Indonesia?
Sebagai seorang Aktivis ’98, saya merasakan kekecewaan yang mendalam. Dulu, kami berjuang keras agar Gerakan ’98 tidak diklaim oleh gerakan-gerakan sebelumnya. Kami bangga dengan identitas kami, tonggak era reformasi yang jauh melampaui dampak Gerakan ’66. Kini, ironisnya, kami seakan-akan kembali memimpin barisan, sedangkan generasi penerus tampak absen. Anak-anak STM yang turun ke jalan, bahkan demonstrasi yang ‘nebeng’ pada isu lain, menunjukkan adanya kekosongan kepemimpinan di kalangan aktivis muda. Di mana semangat idealisme mahasiswa yang dulu murni menggerakkan demonstrasi? Demonstrasi bukan semata-mata unjuk kekuatan, tetapi lebih dari itu, sebuah representasi dari tuntutan suara rakyat.
Saya mengingat perjuangan kami di tahun 1998. Kami berjuang untuk perubahan, untuk demokrasi, untuk keadilan. Namun, apa yang saya saksikan kini menimbulkan pertanyaan: apakah nilai-nilai reformasi masih relevan bagi generasi muda? Apakah mereka mewarisi semangat perjuangan yang sama?
Kritik saya bukan ditujukan untuk menyalahkan, tetapi lebih sebagai bentuk keprihatinan. Saya mendesak para aktivis muda, generasi Abad 21, untuk mengambil peran mereka. Jangan biarkan gerakan kalian diklaim oleh generasi sebelumnya. Bergeraklah secara independen, jangan sampai dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan yang berkepentingan, baik itu dari kalangan aktivis senior maupun kelompok koruptor.
Memang benar, pergantian kepemimpinan negara memerlukan proses. Memberi kesempatan pada Presiden terpilih untuk memimpin adalah hal yang penting. Namun, bukan berarti generasi muda harus diam. Justru sebaliknya, generasi muda harus menjadi pengawas yang kritis terhadap jalannya pemerintahan. Mereka memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan janji-janji reformasi diwujudkan. Mereka harus bersiap membersihkan Indonesia dari para durjana dan memastikan cita-cita Indonesia Emas menjelma di tangan mereka.
Saya, sebagai seorang pengusaha dan Aktivis ’98, menyerukan kepada generasi muda untuk bangkit. Jangan ragu untuk menyuarakan aspirasi kalian. Masa depan Indonesia ada di tangan kalian. Wujudkanlah mimpi Indonesia yang lebih baik, dengan semangat juang yang tak kalah hebatnya dari generasi pendahulu. Kalianlah generasi penerus yang mampu membawa Indonesia menuju keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
BiroTIN/STB







