
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta. S. Fil.
Komsos Paroki Nangahure Maumere Flores
Natal memang identik dengan cahaya penuh warna. Tapi tidak sekadar cahaya dengan warna-warni menyilaukan tanpa makna dan pesan. Natal adalah Cahaya Ilahi yang tidak bisa direduksi oleh perkembangan zaman dan kemajuan teknologi. Dialah Yesus Kristus, Cahaya kehidupan. Lahir dan datang dalam kesederhanaan. Dia, Cahaya yang menerangi, menyejukan, bukan menyilaukan. Cahaya keselamatan.
Dia, Cahaya di kala kehidupan sering direduksi menjadi kompetisi yang menyilaukan. Siapa lebih bercahaya-unggul dan bertahan. Siapa kaya dan punya segalanya. Siapa yang memiliki jabatan dan status sosial lainnya. Siapa yang paling viral-bersinar alias tenar dan terkenal. Dia adalah Cahaya yang memilih lahir di antara kaum periferi di tengah dunia yang sering abai dan memilih kaum priyayi.
Hidup ini sesungguhnya bukan tentang siapa yang paling terang bercahaya alias bersinar. Melainkan siapa bisa memberi cahaya di tengah kegelapan dunia. Hidup yang baik bukanlah tentang siapa yang paling kelihatan terang dan cahaya sinarnya. Tapi siapa yang paling mampu tetap bercahaya, konsisten menerangi sesama dan sekitar di tengah kegelapan dunia. Kehadiran dan keberadaan yang bermakna, berdampak dan berdaya guna bagi sesama dan dunia sekitar adalah cahaya yang dibutuhkan.
YESUS LAHIR DENGAN CAHAYA YANG SEDERHANA
Beda dengan loigika modern yang mendewakan soratan lampu kamera dan media untuk popularitas dan pencitraan. Atau lampu mewah-menyilaukan lainnya ala klab-klab malam dan pesta pora. Yesus lahir dalam kandang dan dengan cahaya kesederhanaan. Cahaya redup, berkedip tapi menyejukan dan menyelamatkan – Bintang, Rembulan dan Kunang-kunang.
Cahaya yang terlalu terang bersinar sering menyilaukan bahkan membutakan mata. Kelahiran Yesus dengan cahaya sederhana di malam gelap menekankan kemanfaatan yang hening dan esensial tanpa pencitraan dan viral di media sosial. Kontribusi yang tidak selalu membutuhkan sorotan kamera dan pengakuan dunia. Dalam konteks ini, hidup tidak diukur oleh seberapa kuat kita viral-bersinar, tapi seberapa dalam dan luas dampak dirasakan oleh sesama dan alam lingkungan sekitarnya.
Yesus lahir dengan cahaya sinarnya tidak menyilaukan. Sebuah kritik implisit terhadap budaya performative dan showing yang kian mendominasi di ruang publik. Kebaikan dipamerkan. Empati dikapitalisasi. Solidaritas dijadikan konten untuk diviralkan. Media sosial dan kamera HP (hand phone) selalu on dengan aneka gaya dan sensasi bahkan untuk hal-hal yang bertentangan dengan ajaran moral. Yesus datang justeru berseberangan dengan kecenderungan ini kendatipun Dia miliki segala dan dapat melakukannya.
YESUS LAHIR DI KANDANG MILIK PARA GEMBALA
Yesus Anak Allah, pemilik segalanya. Tapi Dia lahir di kandang ternak milik para gembala. Kepemilikan harta dan sebagainya atau pun kemewahan bukan segalanya untuk kebahagian. Apalagi untuk bekal ke surga. Kebahagiaan tidak bertumpu semata pada harta dan kepemilikan.
Manusia bertahan bukan karena kenyamanan dan punya segalanya, tapi karena makna hidup yang diamalkan. Dan makna itu ditemukan ketika seseorang merasa hidupnya berguna, dibaktikan untuk sesame terutama yang menderita dan tidak bergantung pada dan mendewakan harta dunia.
Pada titik ini kelahiran Yesus di kendang hina milik para gembala menemukan relevansi lintas zaman. Bahwa hidup yang bercahaya adalah hidup yang melampau dan mengorbankan diri. Yesus Anak Allah menunjukkan itu. Ia meninggalkan ke-Allah-an-Nya dan menjadi sama seperti manusia dalam segala hal kecuali dalam hal dosa (inkarnasi). Ia lahir di kandang hina agar citra manusia dipulihkan akibat dosa.
YESUS LAHIR DENGAN CAHAYA DI TENGAH KRISIS GLOBAL
Dunia menghadapi krisis dan kerusakan lingkungan akibat penebangan liar, sampah berserakan, pembabatan hutan, suburnya para mafia, keserakahan, kebijakan yang tidak memihak pada kepentingan rakyat, kong-kalikong antar pengusaha lokal, stake holder dan pengusaha nasional. Mereka banyak hidup dalam terang bercahaya bahkan sinar-berkilau hidupnya, tapi gelap bagi dunia, lingkungan alam sekitar dan sesama manusia. Bahkan jadi petaka bagi sesama dan ciptaan lainnya.
Hidup sesungguhnya selalu memiliki konsekuensi. Setiap pilihan, gaya hidup, sikap dan kebijakan selalu beresiko membawa dampak sosial dan ekologis selain pribadi. Karena itu hidup yang menyala dan bercahaya bukanlah hidup yang merusak dan menghabiskan sumber daya alam, melainkan menjaga keberlanjutan ekosistimnya. Bukan pula yang menguasai dengan serakah, tetapi merawat dengan penuh tanggung jawab alam ciptaan sebagai sesama ciptaan.
Hidup yang menyala dan bercahaya selalu melihat ciptaan sebagai saudara dalam satu rumah. Sebagai saudara serumah, alam ciptaan memiliki kesamaan hak dihargai, tanpa memperlakukannya sebagai objek; tempat pembuangan sampah, tempat meraup dan menumpuk kekayaan dengan keserakahan. Sesama ciptaan adalah saudara, lahir dari rahim Pencipta yang satu dan sama. Bukan tempat eksploitasi berlebihan tanpa perduli keberlanjutan ekosistimnya.
Memiliki tanggung jawab moral dan etis terhadap keberlangsungan ekosistim tanpa bekerja sama dan tunduk terhadap mafia dan penebangan liar adalah cahaya keselamatan yang berdampak dan berdayaguna. Sebagai saudara serahim dan serumah, keberanian menolak dan bersuara keras terhadap kebijakan dan peraturan yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat dan keselamatan alam ciptaan adalah keniscayaan.
YESUS LAHIR DENGAN CAHAYA DI TENGAH GEMBALA
Para gembala yang dianggap rendah dan terpinggirkan pada masanya, justeru menjadi saksi pertama dan pembawa kabar sukacita. Hal ini menujukkan kebahagiaan dan rencana Allah tersedia untuk semua orang, termasuk kaum periferi yang terpinggirkan. Rencana dan karya agung Allah terlaksana melalui orang-orang dan hal-hal sederhana (para gembala dan kendang ternak), bukan di tengah priyayi dengan penuh kemewahan.
Itu berarti Natal dan pesannya bukan hanya untuk kaum priyasi dan elitis, tapi untuk semua termasuk yang tersisihkan seperti para gembala. Justeru mereka menjadi pewarta pertama kabar sukacita dari Allah. Hal ini mengingatkan bahwa setiap orang mengalami dan terpanggil untuk membagikan sukacita dan damai Kristus.
Kendatipun penggembala dan gembala dianggap status dan pekerjaan yang rendah pada zamannya, tapi Allah hadir pertama di tengah mereka dan para gembalalah diundang pertama bertemu dan menyembah Mesias. Ada prioritas dari Allah untuk kaum periferi ketika dunia lebih prifer pada kaum priyayi berduit.
MENYALAKAN KEMBALI MAKNA NATAL
Suasana dan Natal itu akan berakhir. Menyalakan kembali makna dan pesan Natal bukan soal romantisme koor dan dekorasi natal, warna-warni cahaya dan hadiah-hadiah lainnya. Ini soal tawaran etis dan tanggung jawab moral di tengah dunia yang sering alami kebingungan makna dan arti hidiup yang sesungguhnya.
Ketika dunia terlalu bising dengan persaingan dan sibuk dengan klaim keberhasilan, menyalakan kembali makna natal adalah sebuah tawaran dengan sebuah pertanyaan: “Apakah kita benar-benar cahaya yang konsisten menerangi sesama dan dunia sekitarnya? Atau cahaya yang menyilaukan dan membutakan?
Di tengah dunia penuh dengan penuh dengan cahaya palsu, mungkin yang paling dibutuhkan justeru nyala dan cahaya kecil yang konsisten laksana Bintang, Rembulan dan Kunang-kunang untuk terus berguna bagi sesama dan dunia sekitar. Tidak menyilaukan, tidak mencolok sinarnya. Tetapi cukup untuk membuat sesama melihat jalan dan menemukan makna hidupnya yang sesungguhnya.
Inkarnasi justeru adalah jalan penjelmaan cahaya entitas Allah menjadi manusia seutuhnya tanpa kehilangan keilahian-Nya. Sebuah cara/jalan Allah agar manusia terentas dari dosa, hidup dalam kebenaran dan relasi kasih dengan alam lingkungan, sesama dan Allah yang cacat akibat dosa dipulihkan. Cahaya kemuliaan Allah dalam diri Putera-Nya memungkinkan kita menemukan kembali makna hidup yang sesungguhnya dan hidup dalam terang kebenaran Ilahi.








