Teropongindonesianews.com
Pewarta: Agus
Bondowoso – Kelangkaan gas LPG bersubsidi ukuran 3 kilogram di Kabupaten Bondowoso kian memprihatinkan. Selain sulit diperoleh, harga di tingkat eceran melonjak jauh di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Kondisi ini memunculkan indikasi adanya permainan dalam distribusi LPG 3 kg yang merugikan masyarakat kecil.

Berdasarkan pantauan jurnalis Teropong Indonesia News, LPG 3 kg yang seharusnya dijual sesuai HET sebesar Rp18.000 per tabung, kini dijual dengan harga bervariasi mulai Rp25.000 hingga Rp26.000 di tingkat pengecer. Lonjakan harga ini terjadi di sejumlah kecamatan dan berlangsung secara masif, bukan kasus sporadis.
Ironisnya, kelangkaan dan kenaikan harga tersebut terjadi hampir bersamaan di banyak titik, sehingga memunculkan dugaan kuat adanya permainan oknum tertentu yang menguasai alur distribusi, mulai dari agen hingga pengecer.
“Kalau cuma telat distribusi, mungkin satu dua tempat. Ini hampir semua mahal dan langka, pasti ada yang main,” ujar salah seorang warga Kecamatan Tlogosari, kamis (29/1/2026).
Warga menilai, situasi ini tidak masuk akal jika hanya disebabkan oleh tingginya permintaan. Pasalnya, LPG 3 kg merupakan barang subsidi dengan kuota dan jalur distribusi yang sudah diatur pemerintah. Namun di lapangan, gas bersubsidi justru mudah ditemukan dengan harga mahal di pengecer, sementara masyarakat kecil kesulitan mendapatkannya.
Kondisi tersebut semakin menguatkan dugaan adanya penimbunan, pengalihan distribusi, hingga praktik jual beli di atas HET yang dibiarkan berlarut-larut. Masyarakat pun menilai pengawasan pemerintah selama ini lemah dan hanya bersifat administratif.
“Kalau tidak ada pembiaran, tidak mungkin mafia gas berani main terang-terangan seperti ini,” tegas warga lainnya.
Atas kondisi ini, warga mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum untuk turun langsung ke lapangan melakukan inspeksi mendadak (sidak), menelusuri jalur distribusi LPG 3 kg, serta menindak tegas oknum yang terbukti bermain di balik kelangkaan dan mahalnya harga gas bersubsidi.
Pelaku usaha mikro juga turut menyuarakan keresahan. Mereka meminta pemerintah tidak hanya menertibkan pengecer, tetapi mengusut hingga ke akar persoalan agar praktik dugaan mafia LPG benar-benar diberantas.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Pertamina maupun Diskoperindag Kabupaten Bondowoso terkait dugaan permainan distribusi LPG 3 kg tersebut. Masyarakat berharap, kasus ini tidak kembali berakhir tanpa kejelasan, sementara rakyat kecil terus menjadi korban.

