
Teropongidonesianews.com
PASURUAN, – Jenazah laki-laki yang ditemukan dalam kondisi tulang belulang di kawasan hutan Keciri, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS), Kabupaten Pasuruan, berhasil diidentifikasi sebagai Kushadi (37-38 tahun), warga Desa Ngadirejo, Kecamatan Tutur, Kabupaten Pasuruan.

Tim patroli TN BTS menemukan sisa-sisa jenazah pada hari Kamis (26/2) sekitar pukul 10.00 WIB saat melakukan pengawasan kawasan konservasi. Namun, proses evakuasi baru dapat dilakukan pada hari Jumat (27/2) karena medan yang terjal, berbatu, dan kondisi cuaca yang tidak mendukung dengan kabut tebal serta suhu yang dingin di lokasi kejadian yang berada pada ketinggian sekitar 2.000 meter di atas permukaan laut.

“Dalam perjalanan evakuasi, tim harus melalui jalur yang tidak dapat dijangkau kendaraan, sehingga seluruh proses dilakukan secara manual dengan membawa jenazah menggunakan tenda pengangkut dan dibantu oleh relawan lokal. Perjalanan yang biasanya memakan waktu 2-3 jam menjadi sekitar 7 jam akibat kondisi medan yang berat,” ujar Kepala Seksi Perlindungan Sumber Daya Alam TN BTS, dalam keterangan resmi yang diterima Redaksi Teropong Indonesia News.
Setelah tiba di Desa Mororejo, Kecamatan Tosari, jenazah segera diperiksa oleh petugas kesehatan dari Puskesmas Tosari dan pihak kepolisian untuk proses identifikasi. Berdasarkan data pelaporan hilang dari keluarga dan pemeriksaan terhadap barang bukti yang ditemukan bersama jenazah (seperti baju dan alat komunikasi yang masih utuh), pihak berwenang memastikan identitas korban adalah Kushadi.
Keluarga menyampaikan bahwa korban meninggalkan rumah sekitar 40 hari yang lalu dan pernah menyatakan niat untuk mencari pekerjaan di kawasan Ranu Pane atau Desa Ngadas, yang keduanya berada di sekitar TN BTS. Menurut keterangan saudara kandung korban, Kushadi sempat menghadapi tantangan masalah keuangan dan sedikit konflik dalam lingkaran keluarga sebelum pergi.
“Pemeriksaan awal terhadap kondisi jenazah tidak menemukan tanda-tanda kekerasan fisik yang jelas. Dugaan utama penyebab kematian adalah tersesat dan terpapar kondisi alam yang ekstrem di kawasan pegunungan,” jelas Kapolsek Tutur yang menangani kasus ini.
Meskipun pihak berwenang menyarankan untuk melakukan otopsi untuk mengetahui penyebab kematian secara pasti, keluarga telah secara tegas menolak dengan alasan menghormati tradisi dan kepercayaan lokal. Saat ini, proses pengurusan administrasi telah selesai dan jenazah telah diantar pulang untuk segera dimakamkan sesuai dengan keinginan keluarga pada hari Sabtu (28/2) pagi.
Pihak TN BTS juga mengimbau kepada masyarakat yang ingin beraktivitas di kawasan Taman Nasional untuk selalu mendaftarkan diri terlebih dahulu, membawa perlengkapan yang memadai, dan tidak menjelajahi area yang tidak diperbolehkan guna menghindari risiko yang tidak diinginkan. Irawan – Kabiro








