HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy
Teropongindonesianews.com – Panggung politik jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 yang dijadwalkan Agustus 2026 semakin memanas. Dinamika internal yang ditandai manuver para elite kini mengarah pada pola “paslon” (pasangan calon) Ketua Umum dan Rais Aam, memperebutkan pengaruh dan suara mayoritas dalam forum akbar organisasi Islam terbesar di Indonesia ini.
Analisis mendalam HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy Yang Akrab Disapa Gus Lilur, menyoroti berbagai poros kekuatan yang mulai terbentuk dan perhitungan suara yang diperkirakan mewarnai kontestasi mendatang.
Mengidentifikasi setidaknya enam poros kekuatan utama yang patut diperhitungkan:
1. Ketua Umum Petahana: Yahya Cholil Staquf (Yenny) dikabarkan sedang mencari pasangan Rais Aam yang dapat memperkuat basis dukungan.
2. Rais Aam Petahana: Miftachul Akhyar berkonfigurasi dengan Sekjen petahana Saifullah Yusuf, keduanya berburu calon Ketua Umum potensial.
3. Dukungan Penguasa: Menteri Agama Nazaruddin Umar muncul sebagai figur yang didukung kekuatan penguasa dan sedang mencari pasangan Rais Aam.
4. Poros PKB–IKA PMII: Jaringan ini diperkirakan menguasai suara terbanyak (sekitar 250 suara) dan relatif solid mengusung KH. Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam, meski calon Ketua Umum masih dalam kontestasi internal (KH. Abdussalam Shohib, KH. Yusuf Chudhori, KH. Imam Jazuli, KH. Abdul Ghoffar Rozin).
5. Jejaring PWNU Jatim (1): Mendorong figur KH. Abdul Hakim Mahfuz dan sedang mencari pasangan Rais Aam.
6. Jejaring NU Jatim (Alternatif): KH. Marzuki Mustamar hadir sebagai calon alternatif dengan basis yang kuat dari Jawa Timur dan juga mendukung Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam.
Analisis peta kontestasi didasarkan pada perkiraan kekuatan suara:
•Jaringan PKB–IKA PMII: Sekitar 250 suara.
• Jaringan Kementerian Agama: Sekitar 130 suara.
• Jaringan Petahana Ketua Umum: Sekitar 100 suara (20%).
• Jaringan Petahana Rais Aam & Sekjen: Sekitar 100 suara.
• Suara Mengambang: Sekitar 70-80 suara.
Menurut analisis tersebut, peluang terbesar berada pada koalisi antara Jaringan PKB–IKA PMII dan Jaringan Kementerian Agama, yang diprediksi dapat mengumpulkan suara monumental mencapai 400 suara. Namun, tantangan kompromi tetap krusial: apakah PKB–PMII akan merelakan posisi Ketua Umum demi koalisi, atau justru memaksakan skenario mereka sendiri.
Di tengah manuver politik yang kian menghangat, penulis memberikan peringatan keras agar NU tidak larut dalam intervensi kekuasaan. “Belajar dari Muktamar sebelumnya, bahwa ketika intervensi penguasa masuk, maka kepemimpinan NU hancur lebur,” tulisnya. Ia menekankan pentingnya menjaga kemandirian NU sebagai fondasi bangsa yang harus berdaulat, bermartabat, dan bebas dari kepentingan politik jangka pendek.
Muktamar ke-35 dinilai sebagai momentum krusial untuk menegaskan kembali posisi NU sebagai organisasi yang berdikari dan menjadi kekuatan moral bangsa yang kokoh. Arah NU ke depan akan sangat ditentukan oleh keputusan dalam forum ini, di mana pertarungan antara kepentingan, jaringan, dan nilai menjadi penentu utama.
BiroTIN/STB




