
Musibah Terjadi Saat Jam Belajar sudah selesai, tak ada korban jiwa, tapi keamanan bangunan dan aktivitas belajar mengajar jadi SOROTAN UTAMA
Teropong Indonesia News
PASURUAN – Ancaman bencana alam kembali menghantam Kabupaten Pasuruan. Curah hujan tinggi yang turun terus-menerus selama beberapa hari terakhir membuat kondisi tanah menjadi jenuh air, hingga akhirnya memicu peristiwa tanah longsor di Dusun Mucangan, Kecamatan Tutur. Salah satu lokasi yang terkena dampak langsung adalah lingkungan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 3 Kalipucang, di mana tebing tinggi yang berada tepat di atas area sekolah mengalami keruntuhan parah.
Peristiwa nahas ini terjadi pada Kamis, 30 April 2026 sekitar pukul 16.00 WIB. Saat itu, massa tanah bercampur bebatuan dan material keras lainnya meluncur deras dari ketinggian, langsung menimpa lahan dan bagian bangunan di lingkungan sekolah. Suara gemuruh runtuhan terdengar cukup keras, sempat memicu kepanikan warga dan pihak sekolah yang masih berada di lokasi.
Berdasarkan keterangan warga dan pengamatan lapangan, penyebab utama runtuhnya tebing tersebut adalah kondisi tanah yang sudah tidak lagi stabil akibat diguyur hujan tanpa henti dalam waktu lama. Air hujan meresap hingga ke lapisan tanah terdalam, sehingga bobot tanah bertambah dan daya ikat antar partikel tanah melemah, akhirnya tak mampu lagi menahan beban hingga longsor tak terelakkan.
Kejadian ini sekali lagi membuktikan bahwa wilayah Kecamatan Tutur merupakan salah satu daerah yang sangat rentan terhadap bencana tanah longsor, terutama saat memasuki musim hujan dengan intensitas curah hujan yang tinggi.
Namun, di balik musibah yang menimbulkan kerusakan tersebut, ada kabar baik yang patut disyukuri. Saat longsor terjadi, seluruh aktivitas belajar mengajar sudah selesai dan para siswa serta guru sudah pulang ke rumah masing-masing. Kondisi ini menjadi penyelamat, sehingga tidak ada korban jiwa maupun orang yang mengalami luka-luka dalam peristiwa ini.
“Alhamdulillah kalau saja kejadiannya satu atau dua jam lebih awal, dampaknya pasti sangat parah, karena saat itu sekolah masih penuh dengan siswa. Ini benar-benar keajaiban dan karunia Allah SWT,” ujar salah satu warga setempat dengan nada lega.
Meskipun nyawa terselamatkan, kondisi pasca longsor tetap menimbulkan kekhawatiran besar. Tebing yang masih terlihat labil serta sisa material longsor yang masih mengancam membuat lingkungan sekolah dinilai tidak lagi aman untuk digunakan dalam jangka waktu dekat. Warga, orang tua murid, serta pihak sekolah kini menaruh harapan besar kepada pemerintah dan instansi terkait agar segera turun tangan.
Mereka mendesak dilakukan penanganan serius, mulai dari pengecekan struktur lereng, pemasangan pengaman tebing, hingga perbaikan area yang rusak, agar risiko longsor susulan dapat diantisipasi dan aktivitas pendidikan dapat berjalan kembali dengan aman dan nyaman tanpa rasa takut.
Hingga berita ini diturunkan, warga bersama tenaga pendidik masih terus melakukan pemantauan rutin terhadap kondisi lingkungan sekitar sekolah, guna memastikan tidak ada pergerakan tanah yang berpotensi membahayakan keselamatan siapa pun.
(Abdl Hasyim)







