Oleh: John Orlando. S.fil
Teropong Indonesia News
Bencana alam tidak hanya mengguncang tanah, merobohkan rumah, memutus jalan, dan menghancurkan fasilitas. Bencana juga mengguncang sesuatu yang lebih dalam: rasa aman manusia. Ketika gempa tiba-tiba mengguncang bumi, manusia berlari. Ada yang berteriak, menangis, memeluk anaknya, mencari orang tua, menelepon keluarga, atau sekadar berdiri terpaku tanpa tahu harus melakukan apa. Dalam beberapa detik, manusia yang selama ini merasa menguasai kehidupannya tiba-tiba berhadapan dengan kenyataan bahwa hidup dapat berubah tanpa izin.
Di sinilah fenomena kepanikan dalam bencana menjadi menarik untuk dibaca bukan hanya dari perspektif psikologi, tetapi juga dari perspektif filsafat.
Mengapa manusia panik ketika menghadapi bencana?
Jawaban sederhananya adalah karena manusia takut mati. Tetapi persoalannya jauh lebih dalam dari itu.Kepanikan dan runtuhnya ilusi kendali
Dalam kehidupan sehari-hari, manusia hidup dengan berbagai ilusi tentang kendali. Kita merasa dapat mengatur kapan bekerja, kapan makan, kapan bepergian, kapan pulang, bahkan merencanakan masa depan bertahun-tahun ke depan. Namun bencana datang tanpa melakukan negosiasi.
Gempa tidak bertanya apakah kita sedang siap. Tsunami tidak menunggu kita menyelesaikan pekerjaan. Tanah longsor tidak peduli apakah rumah yang tertimbun merupakan hasil kerja keras puluhan tahun. Dalam hitungan detik, ilusi manusia tentang kendali atas kehidupan dapat runtuh.
Filsafat eksistensialisme melihat pengalaman seperti ini sebagai perjumpaan manusia dengan absurditas dan keterbatasan eksistensinya. Manusia menyadari bahwa dirinya tidak sepenuhnya berkuasa atas kehidupan.
Kepanikan, dengan demikian, bukan sekadar reaksi tubuh. Ia adalah ekspresi dari kesadaran eksistensial:
“Saya tidak tahu apa yang akan terjadi satu menit dari sekarang.”
Dan ketidakpastian adalah salah satu sumber kecemasan terbesar manusia.
Dalam kondisi normal, manusia mempertimbangkan banyak hal sebelum mengambil keputusan. Tetapi dalam situasi bencana, waktu berpikir menjadi sangat pendek.
Tubuh mengambil alih.
Manusia berlari sebelum sempat berpikir. Tangan menarik anak sebelum sempat bertanya. Seseorang berteriak sebelum memahami apa yang sedang terjadi.
Apakah itu berarti manusia menjadi tidak rasional?
Tidak selalu.
Kepanikan merupakan bagian dari mekanisme bertahan hidup. Dalam kondisi ancaman, tubuh mengaktifkan respons fight, flight, atau freeze. Persoalannya, ketika kepanikan menyebar secara kolektif, perilaku manusia dapat menjadi semakin tidak terarah.
Satu orang berlari, yang lain ikut berlari.
Satu orang berteriak bahwa bangunan akan roboh, orang lain mempercayainya.
Satu informasi yang belum tentu benar dapat berubah menjadi kepanikan massal.
Di sini kita melihat bahwa manusia bukan hanya makhluk rasional. Manusia juga merupakan makhluk emosional dan sosial.
Kita tidak hanya bereaksi terhadap ancaman yang kita lihat sendiri, tetapi juga terhadap ketakutan orang lain.
Filsafat Thomas Hobbes: ketika rasa takut menjadi kekuatan sosial. Thomas Hobbes pernah menempatkan rasa takut sebagai salah satu unsur penting dalam kehidupan manusia. Dalam kondisi ketika tidak ada kepastian dan perlindungan, manusia cenderung memikirkan keselamatan dirinya.
Dalam bencana, gambaran itu menjadi sangat nyata.
Ketika struktur sosial terguncang, manusia dapat kembali kepada kebutuhan paling dasar: bertahan hidup.
Makanan, air, tempat berlindung, keselamatan keluarga dan informasi menjadi jauh lebih penting daripada banyak persoalan yang sebelumnya dianggap penting.
Namun menariknya, bencana juga memperlihatkan sisi lain manusia.
Tidak semua orang menjadi egois.
Ada yang justru berlari kembali ke dalam bangunan untuk menyelamatkan orang lain. Ada yang membagikan makanan. Ada yang menggendong anak yang bukan anaknya. Ada yang membuka rumah untuk tetangga. Ada yang mengorbankan waktunya untuk membantu orang yang bahkan tidak dikenalnya.
Artinya, bencana tidak hanya memperlihatkan ketakutan manusia. Bencana juga memperlihatkan kemanusiaan manusia.
Jean-Paul Sartre dan kebebasan di tengah kekacauan Perspektif eksistensialisme
Sartre memberi pertanyaan yang menarik: ketika situasi tidak dapat kita kendalikan, apakah kita masih memiliki kebebasan?
Jawabannya: kita mungkin tidak dapat memilih bencana, tetapi kita masih dapat memilih respons kita terhadap bencana.
Kita tidak memilih gempa.
Kita tidak memilih kehilangan rumah.
Kita tidak memilih berada di pengungsian.
Tetapi setelah bencana terjadi, manusia masih memiliki ruang untuk menentukan apa yang akan dilakukan.
Apakah kita menyebarkan kepanikan atau menyebarkan informasi yang menenangkan?
Apakah kita berebut bantuan atau memastikan kelompok rentan mendapatkan bagian?
Apakah kita hanya menyelamatkan diri sendiri atau membantu orang lain?
Di sinilah kebebasan manusia menemukan maknanya. Kebebasan bukan selalu kemampuan memilih keadaan. Kadang-kadang kebebasan adalah kemampuan memilih sikap terhadap keadaan yang tidak dapat kita ubah.
Nietzsche: manusia diuji ketika dunia tidak lagi nyaman.
Friedrich Nietzsche pernah berbicara tentang kemampuan manusia untuk menghadapi penderitaan dan menemukan makna di dalamnya.
Bencana adalah salah satu bentuk pengalaman ekstrem yang memaksa manusia bertanya:
Untuk apa saya hidup?
Apa yang benar-benar penting?
Siapa yang akan saya selamatkan terlebih dahulu?
Apa arti rumah ketika rumah sudah tidak ada?
Apa arti kekayaan ketika seluruh harta hilang dalam beberapa menit?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jarang muncul ketika kehidupan berjalan normal.
Namun bencana memaksa manusia melihat kembali prioritas hidupnya.
Barangkali setelah bencana, seseorang menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting.
Barangkali seseorang baru memahami nilai keluarga setelah kehilangan rumah.
Barangkali masyarakat baru menyadari pentingnya solidaritas setelah semua orang berada dalam posisi yang sama-sama rentan.
Panik bukan tanda kelemahan
Ada kecenderungan untuk menghakimi orang yang panik.
“Kenapa dia berteriak?”
“Kenapa tidak tenang?”
“Kenapa malah lari tanpa arah?”
Pertanyaan seperti itu sering muncul dari orang yang melihat peristiwa setelah keadaan mulai aman.
Padahal, manusia yang berada di tengah ancaman tidak memiliki kemewahan untuk berpikir seperti manusia yang sudah berada di tempat aman.
Karena itu, orang yang panik tidak selalu lemah. Ia sedang berhadapan dengan ancaman yang dipersepsikan sangat besar oleh tubuh dan pikirannya.
Yang diperlukan bukan celaan, melainkan kehadiran orang lain yang lebih tenang.
Dalam kondisi bencana, ketenangan satu orang dapat menjadi jangkar bagi banyak orang.
Suara yang berkata, “Tenang, kita di sini. Mari keluar bersama-sama,” dapat jauh lebih berarti daripada seribu teori.
Dari kepanikan menuju solidaritas
Pada akhirnya, filsafat bencana tidak hanya berbicara tentang ketakutan. Ia berbicara tentang bagaimana manusia menemukan kembali dirinya ketika dunia yang selama ini dianggap stabil tiba-tiba runtuh.
Bencana mengingatkan kita bahwa manusia sebenarnya rapuh. Tetapi justru karena rapuh, manusia membutuhkan manusia lain.
Di pengungsian, batas antara kaya dan miskin menjadi kabur. Jabatan tidak membuat seseorang kebal terhadap gempa. Gelar pendidikan tidak membuat seseorang kebal terhadap kehilangan. Rumah besar maupun rumah sederhana sama-sama dapat runtuh.
Dalam situasi seperti itu, muncul sebuah kesadaran yang sangat mendasar:
kita semua sama-sama manusia. Mungkin inilah salah satu pelajaran terbesar dari bencana.
Bumi dapat mengguncang rumah kita, tetapi jangan sampai ia mengguncang kemanusiaan kita.
Kepanikan adalah respons manusia terhadap ketidakpastian. Ia tidak selalu dapat dihindari. Tetapi masyarakat dapat belajar mengelolanya melalui pengetahuan, kesiapsiagaan, komunikasi yang benar, kepemimpinan yang tenang, dan solidaritas. Karena pada akhirnya, ukuran sebuah masyarakat bukan hanya bagaimana ia membangun gedung yang kokoh sebelum bencana. Ukuran peradaban adalah bagaimana manusia memperlakukan manusia lain ketika semuanya sedang runtuh.
Dan mungkin, di tengah tanah yang berguncang, manusia justru menemukan satu kebenaran filosofis yang paling sederhana:
kita tidak pernah benar-benar mampu mengendalikan kehidupan. Yang dapat kita kendalikan adalah bagaimana kita hadir bagi sesama ketika kehidupan sedang tidak terkendali.
Tabe.

