Teropong Indonesia News
Oleh Dionisius Ngeta
Teropong Indonesia News
Senin, 24 Agustus 2026 Komunitas Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Panti Santa Dymphna menggelar Apel Pembukaan menyosong peringatan 40 tahun Yayasan Bina Daya St. Vinsensius (YASBIDA).

Apel dengan Komandan Upacara, pak Krispinus Riwu, D3 Kep dan ke-4 komandan regu tampak rapih mendampingi anggota regunya masing-masing yang nota bene adalah pasien dengan gangguan jiwa. Para pasien dibagi dalam 4 kelompok yaitu Kelompok St. Vinsensius, Kelompok Santa Dymph, Kelompok Bapak Hendrikus Leven dan Kelompok Bapak Engelbertus Khunne.

Ketua Panitia, pak Fransiskus Arifin Betok, S.Psi dalam sambutannya menyampaikan riwayat singkat Yayasan Bina Daya St. Vinsensius. Disampaikan bahwa YASBIDA sesungguhnya bermula dari Kegiatan Sosial Karitatif (SOKAR) di Watubala Kecamatan Waigete Maumere Flores.

“Pada tanggal 24 Februari 1983 para suster CIJ melakukan Aksi Sosial yang disebut SOKAR (Kegiatan Sosial Karitatif). Kegiatan ini bertujuan untuk membantu anak-anak putus sekolah sebagai akibat dari rendahnya pendapatan keluarga, kesempatan mendapatkan Pendidikan yang rendah, minimnya akses kesehatan dan rendahnya upah kerja wanita. Ini adalah cikal bakal terbentuknya YASBIDA, demikian pak Arif, tenaga psikologi panti Santa Dymphna.
SOKAR ini akhirnya berkembang pesat dengan berbagai kegiatan sosial karitatifnya sampai di Watubala Kecamatan Waigete Maumere Sikka. Di Watubala ini akhirnya dijadikan pusat SOKAR. Karena itu di tempat ini dibangun beberapa ruangan untuk kegiatan pemberdayaan seperti kursus menjahit, poliklin dan rumah biara CIJ yang disebut Komunitas Anjo Da Guarda. Dari rumah ini anggota CIJ berkarya, melakukan karya-karya pastoral dan pemberdayaan bagi umat.
“Pada tanggal 29 Juni 1984, SOKAR termondifikasi menjadi Pusat Pengembangan Masyarakat (PPM) dengan sebutan PPM Santo Vinsensius. Tujuannya adalah memberdayakan dan mendidik masyarakat untuk dapat meningkatkan pendapatannya dengan memanfaatkan potensi lokal yang ada”, lanjut pak Arif yang hari-hari selalu mendampingi pasien ODGJ di Panti dengan berbagai kegiatan psikologi.
“Pada tanggal 24 September 1986, PPM St. Vinsensius akhirnya menjadi sebuah Lembaga formal dangan nama Yayasan Bina Daya St. Vinsensius (YASBIDA). YASBIDA memiliki AD/ART dengan Akta pendirian No. 331 dan terdaftar di Dinsos dengan nomor: 30/BOBC/NNT/51987. Sesuai dengan tuntutan pemerintah yang tertuang dalam UU No. 16 Thn, 2001, maka sejak tahun 2002 akta pendirian Yayasan telah diperbaharui dan disahkan oleh Deperteman Kehakiman Republik Indonesia”, tambah pak Arif, tenaga psikologi senior panti.
Ketua panitia menyampaikan beberapa jenis perlombaan antar pasien ODGJ yang akan dilangsungkan selama kurang lebih 1 bulan ke depan hinga hari puncak 24 September 2026 di antaranya: Lomba Estafet Pimpon, Estafet Kartu Bibir, Tarik Tambang, Estafet Bola Laba-laba, Estafet Tepung Kartu, Balap Sarung, Balap Karung Tim, Lompat Warna Warni, Bola Voli Kain, dan Balap Bola Tali.
Pembina Upacara, pak Dionisius Ngeta, S. Fil dalam sambutannya menggarisbawahi bahwa YASBIDA bukan sebuah Lembaga sosial yang sekali jadi. YASBIDA berekembang selara zaman dan merupakan kehendak Allah. Baginya SOKAR adalah aktifitas pemberdayaan perdana dan Watubala adalah tempat peberdayaan pertama.
“SOKAR dan Watubala adalah Cikal Bakal YASBIDA. SOKAR adalah aktivitas perdana pemeberdayaan yang dilakukan dan Watubala adalah tempat pertama sebelum YASBIDA menjadi sebuah lembaga formal. Semua perkembangan dan kemajuan yang dialami hingga hari ini, bukan hanya ikhtiar manusia (CIJ) semata tapi juga kehendak Allah”, demikian pak Dion.
Selanjutnya ia menegaskan bahwa sebagai sebuah Lembaga Pemberdayaan, YASBIDA memiliki Visi dan Misi yang jelas. Visi dan Misi itu adalah panduan bagi kerja-kerja pemberdayaan terhadap masyarakat dampingan atau anggota sasaran. “Semua kelompok sasaran atau masyarakat dampingan YASBIDA memiliki dan menikmati hak-haknya secara integrative, rohani dan jasmani. Ini adalah Visi YASBIDA. Karena itu kerja-kerja pelayanan kita terhadap ODGJ di Panti Santa Dymphna yang merupakan salah satu unit pelayanan CIJ adalah kerja-kerja pemberdayaan. Dan hal itu dimaksudkan agar mereka (ODGJ) sebagai sasaran pendampingan memiliki dan menikmati hak-haknya secara integrati (Rohani – Jasmani)”, demikian pak Dion yang sudah 23 tahun mengabdi di panti.
Pembina upacara menegaskan bahwa misi YASBIDA adalah pemberdayaan sesuai dengan namanya: “Bina Daya”. “YASBIDA memiliki misi pemberdayaan bagi anggota dampingan/sasaran agar mandiri dalam berpikir dan berusaha melalui pemberdayaan segenap potensi yang ada secara efekti dan efisien demi terwujudnya kesejahteraan. Ini adalah misi yang diusung oleh YASBIDA. Dan kita semua yang bekerja di Panti Santa Dymphna telah mengambil bagian mewujudkan misi ini. Kita bangga telah dipercayakan untuk membantu ODGJ sebagai sasaran pendampingan menjadi pribadi yang berdayaguna. Begitu banyak yang sembuh sejak panti ini didirikan”, tegas pak Dion.
Sementara Pimpinan Yayasan sekaligus Pimpian Panti Santa Dympha, Sr. Lucia, CIJ dalam sambutannya secara spiritual menegaskan bahwa keberadaan YASBIDA adalah penyelenggaraan Allah. “YASBIDA ada dan berkembang hingga saat ini bukan usaha manusia atau CIJ semata. YASBIDA ada pertama-tama karena penyelenggaraan Allah. Allah menghendaki agar banyak orang yang terbuang, tersisih, terlantar dan tersalib bisa dibantu, bisa ditolong atau diberdayakan”, demikian Sr. Lucia, CIJ.
Karena itu menurut Sr. Lucia, CIJ YASBIDA adalah nafas CIJ. “Sebenarnya YASBIDA adalah nafas CIJ. Karena itu orang kecil harus menjadi prioritas dan diperhitungkan bukan dipinggirkan. Mereka harus menjadi perhatian utama kita. Yesus datang pertama-tama untuk orang kecil”, tegas Sr. Lucia, yang sudah 23 tahun lebih membaktikan dirinya di Panti Santa Dymphna.
Menurut Sr. Lucia, CIJ semua yang mengambil bagian dalam pelayanan terhadap ODGJ di Panti Santa Dymphna adalah orang-orang yang memiliki hati untuk orang kecil. “Kita-kita ini adalah orang-orang yang mempunyai hati untuk melihat mereka itu (orang kecil/ODGJ)”, demikian tegas Pimpinan Panti Santa Dymphna.
Karena itu sebelum akhiri sambutan dan melakukan pengguntingan pita, symbol dimulainya kegiatan dalam rangka memperingati 40 tahun YASBIDA, Sr. Lucia, CIJ mengharapkan kepada semua pekerja; pegawai, perawat, tenaga psikologi, karyawan-karyawati agar bekerja dengan tekun, setia, jujur dan bertanggung jawab terhadap Tuhan, sesama dan diri sendiri.
Apel pembukaan tersebut akhirnya ditutup dengan menyanyikan lagu Mars Santa Dymphna, Himne St. Vinsensius Pelindung YASBIDA dan Rumah hati oleh kelompok Paduan suara para perawat dan tenaga psikologi panti, pertandingan Bola Voley antar kelompok dan foto bersama.

