Oplus_131072
Teropong Indonesia news
BANYUWANGI – Ironi menyelimuti pelaksanaan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Dusun Badolan, Desa Bajulmati, Kecamatan Wongsorejo. Alih-alih membawa kesehatan, operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bajulmati justru dikeluhkan warga karena menimbulkan pencemaran udara akibat bau limbah organik yang sangat menyengat. Penyebab utamanya diduga kuat adalah kerusakan pada Instalasi Pengelolaan Air Limbah (IPAL) yang tidak mampu menampung beban produksi harian.
Pengakuan mengejutkan datang dari pihak pengelola saat dikonfirmasi terkait keluhan tersebut. Melalui Asisten Lapangan (Aslap), Diah Ayu, Kepala SPPG Bajulmati, Hamzah, secara terbuka mengakui bahwa sistem pengolahan limbah mereka bocor.
“Kami sudah mendengar keluhan dari masyarakat dan berupaya mengurangi serta menghilangkan bau yang ada disini. Kami sadar IPAL yang kami gunakan masih mengeluarkan cairan ke selokan,” ujar Diah Ayu. Pengakuan ini menegaskan bahwa limbah cair dari dapur produksi tetap dibuang langsung ke saluran umum tanpa melalui proses filtrasi yang memadai.
Solusi Darurat Gagal, Ketegangan dengan Media Muncul
Upaya penanganan yang dilakukan SPPG Bajulmati dinilai warga sekadar “tambal sulam”. Diah Ayu menjelaskan bahwa mereka rutin menaburkan kaporit dan batu gamping setiap kali ada protes warga. “Tapi masih tetap memunculkan bau ini,” akunya. Mitra SPPG, H. Erna, juga membenarkan bahwa upaya penyedotan dan pembuangan ke tempat lain belum mampu menghilangkan aroma busuk sepenuhnya.
Ketegangan sempat terjadi ketika tim VIVA News mencoba mendokumentasikan kondisi selokan di depan lokasi SPPG yang menjadi sumber bau. Diah Ayu terlihat menghalangi pengambilan gambar, memicu gesekan singkat antara awak media dan petugas lapangan yang tampak gugup menutupi fakta sanitasi yang buruk.
Beban Produksi 2.300 Paket vs Infrastruktur Minim
Setiap hari, SPPG Bajulmati memproduksi 2.326 paket makanan untuk 17 sekolah dan 22 posyandu di 39 titik. Dengan dukungan 51 staf dan relawan, volume sisa makanan dan air cucian yang dihasilkan sangatlah besar. Namun, infrastruktur IPAL yang ada tampaknya tidak dirancang untuk skala produksi masif ini, menyebabkan limbah meluap dan mencemari udara warga sekitar.
Masyarakat menuntut perbaikan segera. Program strategis nasional seperti MBG tidak boleh dijalankan dengan mengorbankan kualitas hidup warga lokal. Perbaikan IPAL dan standar pengelolaan limbah yang ketat mutlak diperlukan sebelum isu kesehatan yang lebih serius muncul di tengah komunitas. (Adi)

