Teropong Indonesia News
PASURUAN, 8 November 2026 — Bayangkan: di lereng Gunung Arjuno yang masih menyisakan jejak luka hangus terbakar, di musim kemarau yang kini terasa makin panjang dan menyengat panasnya, ratusan keluarga di Dusun Tambak Watu, Desa Tambak Sari, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan, kini tak hanya berjuang melawan panas, tapi berjuang untuk mendapatkan setetes air yang layak.

Di bawah pimpinan Ketua RT 25, warga bergerak sendiri. Uang iuran dikumpulkan secara sukarela, tenaga disumbangkan dengan suka rela, saluran air dibersihkan dan diperbaiki — sepenuhnya atas kekuatan warga, tanpa menunggu ulur waktu dari pihak manapun. Bahkan warga dari RT 24 pun turut turun ke lokasi, tanda bahwa rasa haus itu dirasakan bersama, dan kepedulian tetap hidup di tengah keterbatasan.
Namun yang memprihatinkan: kegiatan krusial ini berjalan seakan tak terlihat oleh pemerintahan di atasnya. Diduga, hingga saat ini belum ada dukungan materiil maupun teknis dari Kepala Dusun, Pemerintah Desa Tambak Sari, maupun instansi terkait.
“Untuk mendatangkan sound horeg biaya puluhan juta rupiah mereka tak ragu keluarkan. Tapi saat kami butuh bantuan untuk air — kebutuhan yang menyambung nyawa setiap hari — justru seakan kami tak terlihat,” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya, dengan nada kecewa yang mendalam.
Kondisi ini terasa makin ironis jika dilihat dari situasi lingkungan kita saat ini. Kebakaran hutan di kawasan Gunung Arjuno belum lama berlalu. Hutan yang berfungsi menyimpan dan melepaskan air perlahan lenyap disambar api. Sumber-sumber air makin menipis, musim kemarau terasa makin gersang, dan dampak perubahan iklim itu dirasakan paling nyata oleh warga di desa-desa sekitar kaki gunung.
Di saat dunia berbicara soal krisis air dan kerusakan lingkungan, justru warga yang paling merasakan dampaknya dibiarkan mencari solusi sendiri. Seharusnya kebakaran Gunung Arjuno menjadi peringatan keras: menjaga sumber air bukan sekadar urusan warga, melainkan tanggung jawab bersama, terutama pemerintah yang diberi amanah mengelola kepentingan publik.
Prioritas mana yang lebih mendesak? Pesta suara atau setetes air untuk warga yang mulai kesulitan memenuhi kebutuhan minum dan mandi? Jawabannya seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi.
Kepada Pemerintah Desa Tambak Sari dan pihak terkait: Jangan tunggu sampai sumur warga benar-benar kering baru tergerak. Jangan tunggu krisis air menjadi bencana kemanusiaan baru di lereng Arjuno baru membuka mata. Warga sudah menunjukkan gotong royongnya, kini giliran pemerintahan menunjukkan tanggung jawabnya.
Air bukan kemewahan. Air adalah hak setiap warga negara. Apalagi di tengah dampak pasca-kebakaran hutan yang masih terasa hingga saat ini.
Irawan – Kabiro


