
Teropongindonesianews.com
Bengkulu Tengah – Menanggapi laporan kematian ternak di Desa Kembang Ayun, Tim Puskeswan Bengkulu Tengah langsung bergerak cepat ke lokasi. Tim memberikan desinfektan dan pengarahan kepada para peternak, menindaklanjuti dugaan penyakit Septicemia Haemorrhagica (SE) yang melanda ternak di desa tersebut.
Gejala yang ditemukan di lapangan, seperti leleran pada hidung, bunyi ngorok saat bernapas, pembesaran pada daerah leher, dan jalan yang sempoyongan, menunjukkan indikasi kuat penyakit SE. Kondisi ini diperparah dengan sistem peternakan di desa yang bersifat perkelompok dan adanya ternak jantan dalam masa kawin, yang meningkatkan potensi penyebaran penyakit.
Tim Puskeswan telah melakukan kunjungan ke peternak Bapak Sopiyan, memberikan desinfektan dan edukasi mengenai pencegahan penyakit SE. Sayangnya, tercatat tambahan 1 ekor ternak mati pada pagi hari ini.
Wakil Bupati Bengkulu Tengah, Bapak Tarmizi, S.Sos., menghimbau masyarakat yang beternak kerbau dan sapi agar waspada. “Apabila ada temuan gejala seperti ngorok, leher bengkak dan banyaknya air liur keluar, seperti yang telah terjadi di Desa Kembang Ayun, segera laporkan ke Dinas Peternakan,” tegasnya.

Tim Puskeswan terus memantau perkembangan kasus dan memberikan edukasi kepada para peternak di Desa Kembang Ayun. Langkah-langkah pencegahan dan penanganan serius tengah dilakukan untuk mencegah meluasnya penyebaran penyakit dan melindungi ternak warga.
Langkah selanjutnya:
- Tim Puskeswan akan melakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab kematian ternak.
- Petugas akan terus melakukan penyuluhan kepada para peternak mengenai pencegahan penyakit SE.
- Dinas Peternakan akan membantu para peternak dalam menyediakan vaksin dan obat-obatan.
Diharapkan dengan upaya yang dilakukan, penyebaran penyakit SE dapat dikendalikan dan ternak warga dapat terlindungi.
Tarmizi






