
Teropongindonesianews.com
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil
Tinggal di Nangahure Bukit, RT/RW 018/005
Kelurahan Wuring Kecamatan Alok Kabupaten Sikka
Tentu warga masyarakat Indonesia mengharapkan narasi yang berbeda (strategis) sebagai hadiah terindah dibawa Wakil Presiden Indonesia Gibran Rakabuming Raka. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 di Afrika Selatan belum lama ini (November 2025 lalu) harus menjadi panggung kontrubusi dan solusi strategis yang ditawarkan Wapres Gibran sebagai hadiah untuk masyarakat Indonesia. Panggung bergengsi itu tidak sekadar tempat untuk gagah-gagah dan berwibawa sampaikan perspektif dan orasi. Apalagi demi naiki reting politik dan popularitas agar viral di berbagai media sosial.
Tapi hemat saya Wapres Gimbran Rakabuming Raka membawa pulang hadiah terindah untuk masyarakat Indonesia yakni kebijakan diplomatik yang strategis. Diplomasi politik tidak sekedar fomalitas-simbolis apalagi pencitraan politik diri.
Selain Gibran tidak saja mempercantik tapi juga mempertegas citra Negara Indonesia di mata dunia. Kebijakan diplomatik itu juga mempermudah hidup warga negara Indonesi selain memperjuangkan ekonomi bagi negara-negara berkembang.
Kesepakatan bilateral kedua negara: Afrika Selatan – Indonesia tentang bebas visa bagi pemegang paspor Indonesia ke Afrika Selatan adalah bukti kebijakan diplomatik yang strategis. Tidak sekedar diplomasi formal dan simbolik semata. Apalagi hanya untuk naikan reting politik dan popularitas.
Sebagai mitra dagang terbesar Indonesia, Afrika Selatan sangat strategis untuk membangun diplomasi politik dan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan. Perlu diakui bahwa birokrasi visa sering kali menjadi hal yang krusial. Hal ini dapat menjadi hambatan dalam perdagangan dan mobilitas barang.
Kesepakatan strategis ini tentu akan mempermudah dan saling menguntungkan bagi kedua negara, terutama bagi para pengusaha dan wisatawan. Bagi para pengusaha kebijakan strategis tersebut mempermudah mereka melakukan ekspansi pasar atau bisnis, yang mungkin selama ini terkendala dan mengalami hambatan.
Pada sesi tentang ekonomi berkelanjutan, Wapres Gibran Rakabumin Raka tampil memukau, membawa suara dan mewakili negara-negara berkembang (Global Sotuh) dengan tegas dan lantang. Quick Reponse Code Indonesian Standard (QRIS) dipamerkannya di hadapan para pemimpin negara dan utusan. Di sini sesungguhnya yang mau ditekankan Wapres Gibran adalah bahwa teknologi harus jadi jembatan kesetaraan.
Dan sesungguhnya Wapres Gibran mau menunjukan kepada dunia bahwa Indonesia kini juga hadir sebagai negara yang memiliki kontribusi dan menawarkan solusi. QRIS diangkat sebagai contoh dan model inklusi keuangan yang telah terbukti membantu jutaan UMKM di Indonesia.
Selain itu keberanian Wapres Gibran Rakabuming Raka menyoroti isu keuangan berkelanjutan (Sustainable finance). Wapres mengingatkan dunia: transisi ekonomi tidak boleh meninggalkan siapa pun. Karena itu dia mendesak adanya pembiayaan yang lebih adil, terprediksi dan setara. Terutama terkait dengan keringanan utang dan pembiayaan campuran (Blended finance). Upaya menyelamatkan iklim jangan sampai mematikan ekonomi negara-negara yang sedang bangkit dan berkembang.
Tapi apakah hadiah terindah buah dari diplomasi politik Gibran tanpa kendala dan tantangan. Tentu tidak! Tantangan pada tataran implementasi selalu terjadi. Konektivitas penerbangan langsung yang dapat dijangkau adalah pekerjaan yang harus diselesaikan. Tantangan teknis interkoneksi antar negara adalah hal lain mesti dikerjakan agar mulus di lapangan.
Wapres Gibran Rakabuming Raka tidak sekadar ada pada pertemuan negara-negara G20 di Afrika Selatan. Panggung bergengsi itu dimanfaatkan Gibran yang dipercayakan Presiden Republik Indoensia (Prabowo Subianto) sebagai momen pembuktian. Bahwa Indonesia turut berkontribusi memberi solusi konkret. Semoga hadiah istimewa yang dibawa Wapres Gibran benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Indonesia, tidak sekadar viral di berbagai platform media dan jadi head line berita.







