
Teropongundinesuanews.com
SITUBONDO – Proyek pembangunan Bandara Kyai As’ad Syamsul Arifin (KASA) kini berada di bawah radar kritis dua tokoh hukum Situbondo. Dalam sebuah diskusi intens, Ketua DPC LBH CAKRA, Nofika Syaiful Rahman, dan Pembina LBH Mitra Santri, Abd Rahman Saleh S.H., M.H., membedah urgensi proyek strategis ini dengan satu garis besar: Pembangunan tidak boleh hanya menjadi monumen beton, melainkan harus menjadi mesin kesejahteraan yang bersih.
Sebagai representasi suara masyarakat wilayah timur, keduanya melempar tiga poin krusial yang harus dijawab oleh pemerintah daerah dan pelaksana proyek:
1. Efek Domino Ekonomi: Jangan Hanya Jadi Penonton
Bandara KASA bukan sekadar soal pendaratan pesawat. Kedua tokoh hukum ini menegaskan bahwa kemajuan infrastruktur wajib berbanding lurus dengan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan pemberdayaan sektor riil.
• Target Nyata: Petani, nelayan, dan pelaku UMKM lokal harus memiliki akses terhadap rantai pasok bandara.
• Visi: Sektor pariwisata Situbondo harus mampu bertransformasi dari destinasi transit menjadi destinasi tujuan utama (destination of choice).
2. Transparansi Material: Menutup Celah “Main Mata”
Isu yang paling tajam disoroti adalah mekanisme pengadaan material. Mengingat besarnya anggaran, proyek ini rentan terhadap praktik monopoli atau penunjukan pemasok yang tidak akuntabel.
”Setiap rupiah yang mengalir ke proyek ini adalah mandat rakyat. Kami memperingatkan agar tidak ada ruang bagi ‘titipan’ kepentingan segelintir pihak dalam pasokan material. Semua harus berdasarkan kompetisi sehat dan standar teknis yang transparan,” tegas mereka.
LBH Cakra dan LBH Mitra Santri berkomitmen untuk mengawal agar proses pengadaan barang dan jasa tidak menyimpang dari koridor hukum yang berlaku.
3. Keterlibatan Masyarakat: Lebih dari Sekadar Sosialisasi
Partisipasi publik seringkali hanya dijadikan syarat administratif. Namun, bagi Nofika dan Abd Rahman Saleh, masyarakat Situbondo harus menjadi subjek, bukan objek.
• Akses Informasi: Publik berhak tahu dampak lingkungan dan rencana pengembangan jangka panjang secara jujur.
• Rasa Memiliki: Hanya dengan transparansi total, bandara ini akan menjadi kebanggaan kolektif, bukan sumber kecemburuan sosial.
Bandara KASA adalah “peluang emas” yang bisa berubah menjadi beban jika dikelola dengan mentalitas lama yang tertutup. Integritas pemerintah daerah dan pelaksana proyek kini sedang diuji di hadapan publik. Masyarakat Situbondo tidak hanya butuh bandara tapi juga butuh Manfaat Yang Jelas kepada Daerah Juga Masyarakat Situbondo
BiroRIN/STB








