
Teropongindonesianews.com
Pewarta: Agus
Bondowoso, 4 Maret 2026 – Atap Gedung Serbaguna Gereja Kristen Jawi Wetan (GKJW) Jemaat Bondowoso ambruk secara total pada Rabu (4/3/2026) sekitar pukul 08.20 WIB. Peristiwa tersebut terjadi setelah wilayah setempat diguyur hujan deras secara berkelanjutan sejak malam sebelumnya, dengan dugaan konstruksi atap tidak mampu menahan beban air hujan yang menumpuk.


Gedung yang dibangun dan diresmikan pada 11 Desember 2013 tersebut tidak sedang digunakan saat kejadian berlangsung, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa.
Komentar Pihak Gereja
Pdt. Kristianti, pengurus gereja, menyampaikan rasa syukur karena tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini. “Kami sangat bersyukur Tuhan melindungi kita semua, karena biasanya pada pagi hari ada kegiatan persembahan anak-anak yang rutin dilakukan,” ujarnya. Menurutnya, pihak gereja akan bekerja sama dengan BPBD dan ahli konstruksi untuk merencanakan perbaikan atau pembangunan ulang gedung serbaguna tersebut sesuai dengan standar keamanan yang lebih baik.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso bersama warga sekitar segera melakukan evakuasi puing-puing reruntuhan atap secara gotong royong. Petugas juga langsung melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat kerusakan serta penyebab pasti ambruknya bangunan.
Data Curah Hujan Resmi
Dari data yang diterima dari Stasiun Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bondowoso, curah hujan di wilayah Bondowoso pada malam hari tanggal 3 hingga pagi tanggal 4 Maret 2026 mencapai 185 milimeter, termasuk dalam kategori curah hujan sangat lebat. Kondisi ini diperkirakan menjadi faktor pendorong beban ekstra pada atap gedung.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Bondowoso Kristianto Putro Prasojo menyampaikan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan awal bersama sejumlah pihak terkait. “Kita bersama-sama melakukan asesmen melihat sejauh mana kejadian dan penyebabnya,” ujarnya.

Hasil pemeriksaan sementara menunjukkan bahwa usia konstruksi rangka atap yang sudah mencapai 13 tahun menjadi salah satu faktor penyebab. Selain itu, kondisi rangka atap juga ditemukan mulai mengalami karat. “Sementara kita sepakat bahwasannya umur dari konstruksi rangka atapnya sudah berusia 13 tahun dan kami lihat juga ada yang sudah berkarat, mungkin itu menjadi salah satu faktor penyebabnya. Ditambah dengan cuaca ekstrem dari malam memang menurut data yang kami terima curah hujan sangat lebat,” jelasnya.
Kristianto memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Hingga saat ini, pendataan kerugian material masih sedang dilakukan oleh petugas terkait. “Kalau korban jiwa kami bersyukur tidak ada,” pungkasnya.







