
Teropongindonesianews.com
BENGKULU TENGAH – Akses vital yang menghubungkan Kota Bengkulu dengan Kabupaten Bengkulu Utara kini berada dalam kondisi kritis. Ruas jalan kabupaten di Desa Air Napal, Kecamatan Bang Haji, Kabupaten Bengkulu Tengah, dilaporkan mengalami retak hebat dan terancam amblas total.
Kerusakan ini diduga kuat merupakan dampak langsung dari aktivitas penggalian drainase besar atau “siring gajah” oleh pihak perusahaan perkebunan.
Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (23/04/2026), kerusakan telah merambah hampir ke seluruh badan jalan. Yang paling mengkhawatirkan, lebar bahu jalan yang tersisa kini kurang dari satu meter.,Kondisi ini memaksa pengendara ekstra waspada karena tanah di bawah aspal mulai labil.
Jalan ini merupakan urat nadi bagi warga di beberapa desa, termasuk Desa Air Napal dan Pematang Tiga. Warga menuding aktivitas pengerukan siring gajah oleh PT BIO (yang dikelola oleh PT SIL) untuk keperluan replanting kelapa sawit sebagai biang keladi amblasnya struktur tanah.
Masyarakat setempat dihantui ketakutan, terutama saat intensitas hujan meningkat. Struktur tanah yang berpasir dan lembut membuat risiko longsor susulan kian nyata.
“Kami sangat khawatir jika jalan ini putus total. Distribusi hasil kebun akan lumpuh, dan anak-anak akan kesulitan pergi ke sekolah. Kami mohon Pj Bupati Bengkulu Tengah segera turun tangan,” ujar salah satu warga di lokasi.

Kepala Desa Air Napal pun angkat bicara dengan nada tegas. Ia menyatakan bahwa pihak perusahaan sama sekali tidak melakukan koordinasi atau sosialisasi sebelum memulai penggalian di area sensitif tersebut.
Pihak Perusahaan baru merespons setelah kerusakan terjadi dan memicu kemarahan publik ,Aktivitas penggalian diduga melanggar Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2010 terkait Ruang Manfaat Jalan (RuMaJa) dan Ruang Pengawasan Jalan, Galian dibuat terlalu dekat dengan aspal, sehingga aliran air hujan langsung menggerus fondasi jalan.
Hingga berita ini dirilis, belum ada pernyataan resmi dari pihak manajemen PT SIL maupun Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Bengkulu Tengah.
Masyarakat menuntut agar perusahaan tidak hanya sekadar melakukan upaya “peredaman suasana”, melainkan melakukan perbaikan infrastruktur secara permanen sebelum akses satu-satunya ini benar-benar terputus dan mengisolasi wilayah mereka.
Tarmizi






