
Oleh Dionisius Ngeta, S. Fil
Koordinator Panti Santa Dymphna Maumere
Teropong Indonesia News
Saya cukup mengenal CIJ, Kongregasi Pengikut Yesus. Dua puluhan tahun saya bekerja di salah satu unit pelayanan dan rehabilitasi difabel mental, Panti Santa Dymphna milik CIJ hingga saat ini. Salah satu unit pelayanan dan rehabilitasi yang menegaskan identitasnya sebagai hamba Allah yang terlibat dengan penderitaan orang kecil dan pendosa karena mereka adalah sesama CIJ (Konstitusi, 7). CIJ keluar dari dirinya (rutinitas kebiaraan) dan masuk dalam realitas problematika kehidupan umat terutama orang kecil, miskin dan menderita. Karena itu, tidak berlebihan jika saya menyebut CIJ yang didirikan Misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), Mgr. Heinrich Leven, SVD ini sebagai Komunitas Religius Organik dan Membumi.
Komunitas religius organik dan membumi tidak pernah merasa netral dan otonom dari penderitaan, konflik dan permasalahan sosial kemasyarakatan lainnya di tengah umat. Komunitas religius organik dan membumi tidak saja melayani umat dengan doa, kontemplasi dan ekaristi. Apalagi menjaga jarak dengan persolan dan penderitaan umat. Para anggotanya tidak pernah merasa nyaman dan netral terhadap persoalan masyarakat. Mereka memilih terlibat, berjuang dan berpihak terhadap Penyandang Masalah Sosial (PMS) seperti difabel mental. Mereka tidak betah di balik tembok biara dan kenyamanan rutinitasnya. Tapi turun menyatu dan terlibat merasakan denyut kehidupan dan penderitaan umat. Kongregasi religius organik dan anggotanya sadar bahwa dia didirikan dari dan mereka ada untuk diutus ke tengah-tengah dunia dengan pergulatan kehidupan sosialnya.
Bagi CIJ, iman akan Allah tidak sebatas keyakinan, tapi diekspresikan melalui keterlibatan, perjuangan, kesediaan berbagi, mencari solusi, hidup dalam kesalehan dan ketaatan pada konstitusi, pesan pendiri, perintah dan terutama Sabda Tuhan di antaranya: “Segala sesuatu yang kamu perbuat terhadap saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan terhadap Aku” (Mat, 25:40). Pesan pendiri: “Orang kecil selalu ada padamu”, merupakan aura yang selalu membakar semangat solidaritas dan keterlibatannya sebagai hamba Allah untuk mereka (orang kecil dan pendosa) dalam seluruh karya pelayanan dan tugas perutusan.
Konsistensi sikap iman akan keberpihakan dan keterlibatan terhadap orang kecil sebagaimana pesan pendirinya di atas dan terutama Sabda Tuhan adalah identitas yang meyakinkan bahwa CIJ tidak sekadar komunitas religius pribumi tapi organik dan membumi. Artinya CIJ mengintegrasikan doa, kontemplasi dan ekaristi (iman) dalam komunitas dengan aktivisme (perbuatan/keterlibatan) nyata untuk sebuah perubahan sosial terkait dengan permasalahan umat terutama kaum disabilitas dan mereka yang miskin dan menderita.
Hemat saya, doa, kontemplasi dan ekaristi kehilangan buah dan iman kehilangan perbuatan nyata jika berhenti di balik tembok biara-biara atau ruang-ruang doa umat dan gereja. Keterlibatan dalam permasalahan sosial kemanusiaan adalah harga yang harus dibayar sebagai buah dari iman dan tanggung jawab etis-moral seorang beriman. “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati”, demikian rasul Santo Yakobus (Yak, 2:26).
Keterlibatan langsung (organik dan membumi)
“Kita adalah orang kecil, pendosa dan hamba”, demikian rumusan semangat dasar CIJ (K. 7). Rumusan ini tidak sekadar penyemangat tapi merupakan jati diri, indentitas CIJ sebagai orang kecil, pendosa dan hamba Allah. Sebutan orang kecil identik pula dengan orang miskin. Karena itu berhadapan dengan orang miskin, mereka adalah sesama, bagian integral bagi CIJ.
Kehadiran dan keberadaan beberapa yayasan dengan unit-unit pelayanan dalam berbagai bidang (Pendidikan, Kesehatan, Pastoral dan Sosial-Kemanusiaan) merupakan pengejahwantahan pesan pendirinya: “Orang kecil harus ada padamu” dan kesadaran etis-moral akan identasnya. CIJ tidak saja hidup dalam klausura dan fokus pada kehidupan doa, kontemplatif dan ekaristi dengan kesederhanaan hidup berkomunitas tapi terlibat dan hadir di tengah hiruk-pikuk pergumulan dan pergulatan hidup umat.
Keterlibatan berarti keluar dari diri dan masuk dalam realitas sosial kehidupan umat terutama orang kecil, miskin dan menderita. CIJ tidak hanya dekat dengan umat, tapi ada dan terlibat dengan tindakan nyata dalam setiap penderitaan dan pergulatan hidup umat terutama kaum disailitas, miskin dan menderita. Tindakan keterlibatan CIJ didorong oleh keyakinan bahwa dia (CIJ) tidak akan pernah berkekurangan, melainkan terus diperkaya oleh belaskasih Allah dan CIJ pun hadir dan ada karena belaskasih-Nya (K, 5).
Keterlibatan langsung dalam pelayanan dapat dilihat seperti merawat orang-orang sakit baik fisik pun kejiwaan di rumah sakit atau klinik dan di panti-panti. Demikian juga pendampingan terhadap peserta didik di sekolah-sekolah mulai dari level Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) hingga SMA/SMK bahkan jenjang pendidikan tinggi. Keterlibatan ini didorong oleh karisma belaskasih Allah melalui pendirinya, Mgr. Heinrich Leven, SVD.
Pendampingan terhadap para penyandang masalah sosial di panti-panti seperti anak-anak yatim piatu, kaum disabilitas (fisik dan mental-kejiwaan), korban kekerasan, dan sebagainya menunjukkan CIJ dekat dengan persoalan dan terlibat dalam pergumulan sosial serta penderitaan umat. Mereka ditempa dalam tradisi kebiaraannya, tapi tidak pernah jauh apalagi alergi dengan pergulatan masyarakat pinggiran seperti kaum miskin dan para disabilitas.
CIJ tidak saja hadir dalam ruang keheningan doa dan kontemplasi, tapi juga terlibat bersama mereka di ruang-ruang perawatan dan rehabilitasi, memberi waktu dan ruang untuk mereka. Anggota CIJ fasih dan tekun dalam doa, ekaristi dan kontemplasi, tapi tidak gagap berhadapan dengan persoalan dan penderitaan umat. Doa, kontemplasi dan Ekaristi tidak hanya momentum bertemu dan memuji Tuhan, tapi juga sarana dan kekuatan untuk terus berbuah dan berbagi dalam keseharian melalui tindakan nyata seperti perjuangan dan pelayanan untuk mereka yang disabilitas, miskin dan menderita.
Hal-hal yang diutarakan di atas adalah beberapa indikator yang memastikan bahwa CIJ tidak saja sekadar kongregasi pribumi tapi organik/modern yang membumi. CIJ mendedikasikan hidup dan pengabdiannya kepada Tuhan dan sesama dengan menerapkan kesederhanaan dalam hidup dan keterlibatan dalam pelbagai pelayanannya.
Konsisten terhadap visi dan pesan pendiri
Keteguhan akan Sabda Tuhan dan Visi dan Misi Kongregasi serta pesan pendiri merupakan konsistensi sikap yang selalu berpihak pada kepentingan orang-orang kecil dan miskin. Keberpihakan itu tampak jelas dalam aksi-aksi nyata dalam pelayanan di beberapa bidang dan unit pelayanan sosial.
CIJ hadir dan merupakan salah satu contoh nyata Komunitas Religius Organik dan Membumi. Ia bukan biara yang sekadar ada dan para anggotanya betah di dalamnya, melainkan terlibat langsung dalam kerja-kerja kemanusiaan melalui lembaga-lebaga dan unit-unit pelayanan sosial. CIJ tidak saja sebagai pengamat akan perosalan masyarakat lalu membawanya dalam doa dan ekristi kepada Tuhan, tapi hadir dan terlibat dalam aksi-aksi solidaritas nyata. Pesan pendiri CIJ, Mgr. Heinrich Leven, SVD, “Orang Kecil Harus Ada Padamu”, tidak sekadar inspirasi tanpa konsistensi dan aksi, tapi sungguh-sungguh menjadi aura yang membakar semangat keterlibatan dalam seluruh karya pelayanan mereka untuk terus bersedia berbagi.
Karena itu tugas sebuah Komunitas Organik tidak berhenti pada doa dan kontemplasi, ekaristi dan membaca Kitab Suci, melainkan mendorong pembebasan dan terlibat langsung untuk terus berbagi dan berjuang melawan diskriminasi melalui aksi-aksi solidaritas dan pembebasan umat dari belenggu penindasan dan ketidakadilan dan menawarkan solusi.
Iman yang hidup dan membumi
Doa, kontemplasi dan ekaristi yang hanya berhenti di balik tembok kebiaraan, ruang doa keluarga dan gereja akan melahirkan anggota kongregasi dan umat yang saleh secara spiritual, tapi gagap akan permasalahan umat. Mereka merasakan keheningan dan kehadiran Allah, tapi tidak bisa merasakan penderitaan umat. Doa, kontemplasi dan ekaristi kehilangan buah dan iman kehilangan perbuatan nyata jika berhenti di dalam tembok biara. Dan pada titik ini sesungguhnya seseorang sedang mengalami “kematian iman” secara rohani. “Iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus, 2:26)
Di sini letak tanggung jawab moral, tanggung jawab iman dan religus sebuah Kongregasi Organik dan para pengikutnya atau umat pada umumnya. Label kebiaraan atau identitas umat beriman tidak menjadi symbol kenyamanan dan kesalehan, tapi beban etis dan tanggung jawab moral akan penderitaan dan permasalahan umat, yang menuntut keberanian bersuara untuk mereka yang tak bisa bersuara (the voice of the voiceless) dan berpihak kepada mereka yang tidak diuntungkan karena mengalami penderitaan akibat disabilitas dan kemiskinan.
CIJ sebagai Kongregasi Organik dan anggotanya tampak konsisten menghidupi tanggung jawab iman dan moral itu. Ia tidak memandang dirinya hanya sekadar lembaga untuk keteguhan iman dan kesalehan spiritual belaka, tetapi sebagai alat yang dipakai Tuhan untuk berpihak, terlibat dan berbelaskasih pada orang-orang kecil dan memperjuangkan nasib mereka di tengah dinamika dunia yang tidak baik-baik saja. Pesan pendiri CIJ, Mgr. Heinrich Leven, SVD: “Orang kecil selalu ada padamu” akan selalu relevan dan hidup jika CIJ terus konsisten menghidupi tanggung jawab itu sepanjang karya pelayanannya.
Kongregasi Organik/Modern tidak pernah memilih netral akan diskriminasi, ketidakadilan dan penderitaan umat apalagi mati suri. Pilihan yang paling etis-moral adalah berdiri di sisi dan berada di antara korban dan mereka yang menderita dan tertindas. Dan itulah kesejatian doa, kontemplasi dan ekaristi sebuah kongregasi dan kesejatian iman para pengikutnya serta umat pada umumnya. CIJ bukan kongregasi yang merasa nyaman dengan runtinitas di balik tembok biara. Tapi hadir dan terlibat dalam setiap derap langkah pergumulan hidup umat manusia terutama para disabilitas dan mereka yang miskin dan menderita.






