Teropong Indonesia News
Pasuruan – Warga Desa Palangsari, Kecamatan Tegalampel, Kabupaten Bondowoso, kini tengah menghadapi krisis air bersih yang memprihatinkan. Dalam beberapa bulan terakhir, sumber mata air yang selama ini menjadi tumpuan hidup warga terus mengecil, bahkan ada yang nyaris kering sama sekali.
Kondisi ini terjadi di wilayah pengelolaan KPH Sugro dan KPH Puspo. Warga menuding gundulnya hutan lindung dan hutan produksi sebagai penyebab utama hilangnya sumber air tersebut. Terbukti, banyak pohon di kawasan itu yang mati berdiri, sementara penegakan dan pengawasan dari pihak pengelola dinilai sangat lemah.
“Hutan gundul, pohon banyak yang mati. Di musim kemarau mata air mengecil sampai nyaris hilang. Sebaliknya, air yang tersisa justru dipakai untuk menyiram kebun sayur — mbayer — sehingga kami yang butuh minum dan mandi kesulitan mendapatkannya,” ungkap seorang warga kepada media.
Kekhawatiran warga tak berhenti soal kekeringan. Saat musim hujan tiba, kondisi hutan yang gundul itu menjelma menjadi ancaman baru: tanah longsor dan banjir yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan rumah dan nyawa warga.
Yang lebih menyakitkan bagi warga, hingga saat ini belum terlihat langkah tegas dari pihak Perhutani maupun pemerintah daerah terkait kerusakan hutan tersebut. Tidak ada peringatan keras, tidak ada tindakan korektif. Pengelola hutan seolah membiarkan kerusakan berjalan terus.
“Apa harus kami masyarakat yang harus turun tangan sendiri? Mengapa pihak berwenang baru bertindak setelah hutan rusak dan gundul terlebih dahulu?” tegas warga lainnya dengan nada kecewa.
Warga meminta agar pihak berwenang segera meninjau lokasi, menghentikan kerusakan hutan, dan mencari solusi jangka panjang. Air bersih adalah hak hidup seluruh warga, bukan sebuah kemewahan yang harus diperebutkan.
M.Abd Asim

