
Teropongindonesianews.com
OPINI – Di tengah hiruk-pikuk lalu lalang lalu lintas, kita terbiasa dengan suara klakson, deru mesin dan kelap-kelip lampu kendaraan. Namun siapa sangka, satu lampu kecil yang terus menyala tanpa makna bisa menjadi ancaman besar bagi keselamatan seseorang?
Hari itu, seperti biasa, bersepeda motor dengan memboncengkan anak saya melewati persimpangan pertigaantak jalan tak jauh dari rumah. Jalanan tampak tidak begitu ramai, cukup lengang. Dari kejauhan, saya melihat sebuah sepeda motor melaju tidak begitu cepat dengan lampu sein kirinya menyala. Saya memperlambat dan menghentikan motor sejenak, lalu memutuskan menyeberang, yakin bahwa pengendara itu akan berbelok ke kiri.
Namun terdengar decit rem dan klakson panjang, saya terhenti mendadak saat motor itu justru terus melaju lurus—tepat ke arah saya. Dalam sepersekian detik nyaris terserempet dan terjadi kecelakaan. Jantung saya berdebar keras. Saya hanya bisa terpaku lalu mengumpat ringan, menyadari bahwa pengendara itu tidak benar-benar berniat belok. Dia hanya lupa mematikan lampu sein.
Kejadian itu berlangsung tak lama, tapi membekas lama. Bukan karena saya marah, melainkan karena sadar bahwa saya tadi nyaris celaka. Bukan karena kecepatan tinggi, bukan karena ugal-ugalan, bukan karena pelanggaran besar, tapi karena satu kelalaian kecil yang kerap diabaikan; sein yang tak dimatikan , Dan itu bukan pengalaman pertama.
Sebagai pengguna jalan, saya telah beberapa kali menghadapi situasi serupa. Seorang pengendara yang sein-nya menyala ke kiri, namun justru melaju lurus. Mobil yang tampak hendak menepi, namun tetap berada di lajur. Kesalahan-kesalahan kecil ini bisa menyesatkan pengguna jalan lainnya dan dalam situasi tertentu, bisa berakibat fatal.
Padahal, sein bukan hanya hiasan berkedip di sisi kiri dan kanan kendaraan. Ia adalah bahasa. Ia adalah isyarat. Ia adalah tanda. Sebuah bentuk komunikasi antar pengguna jalan. Ketika “bahasa” ini digunakan secara Tidak Benar baik karena lupa, lalai, atau tak peduli , maka yang terjadi bukan sekadar kebingungan, tapi juga potensi kecelakaan.
Semisal bukan kIta yang mengalaminya, bayangkan seorang anak kecil yang menyeberang dengan percaya diri karena melihat sein menyala ke kiri. Atau seorang pengendara lain yang bermanuver karena percaya kendaraan di depannya akan berbelok. Dalam hitungan detik, nyawa bisa melayang, hanya karena kedap-kedip lampu yang tak sesuai arah.
Sebagai masyarakat yang hidup di tengah lalu lintas dan beragam karakter penggunanya, kita dituntut untuk lebih dari sekadar bisa mengemudi. Kita perlu memiliki kesadaran, empati dan rasa tanggungjawab. Mengendarai kendaraan adalah tentang keselamatan bukan hanya keselamatan diri sendiri, tapi juga orang lain.
Tidak ada hal yang benar-benar sepele dalam berkendara,Mulailah dari hal-hal kecil. Jangan lalai, periksa sein. Matikan saat tak digunakan. Karena kadang, satu kelalaian sederhana bisa menjadi penyesalan seumur hidup.
Oleh : Gatut Witardiya, S.S,








