
Teropongindonesianews.com
Gresik – Laut Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, semakin terancam kerusakan parah akibat maraknya aktivitas penangkapan ikan ilegal menggunakan pukat harimau , Alat tangkap yang sudah lama dilarang pemerintah ini beroperasi secara terang-terangan hanya lima mil dari bibir pantai Sangkapura, menghancurkan ekosistem laut dan mengancam mata pencaharian nelayan tradisional.
Junaidi, Ketua Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) KSM Sangkapura, mengungkapkan keprihatinan mendalam atas pembiaran aktivitas ilegal tersebut , Ia secara tegas menuding aparat penegak hukum, termasuk Polairud, TNI AL, dan Dinas Kelautan dan Perikanan, telah gagal menjalankan tugas dan diduga terlibat dalam pembiaran tersebut.
“Ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan pembantaian ekosistem laut secara sistematis,” tegas Junaidi. “Aparat seakan menutup mata terhadap praktik ilegal ini yang telah berlangsung bertahun-tahun.”
Junaidi mengatakan ia menyaksikan langsung sebuah kapal Trawl menggunakan pukat harimau untuk mengeruk dasar laut Bawean pada Jumat, 9 Mei 2025, pukul 16.00 WIB. “Saya melihat sendiri kapal itu menarik jaring besar dengan pemberat di depan mata , Ini bukan cerita, saya saksi langsung,” tegasnya.

Pukat harimau, yang dikenal sebagai alat tangkap yang sangat merusak, menyapu bersih dasar laut, menghancurkan terumbu karang, dan memusnahkan telur-telur ikan serta biota laut lainnya. Akibatnya, nelayan tradisional Bawean mengalami kerugian besar, sementara kapal trawl ilegal terus beroperasi tanpa hambatan.
“Ini adalah bentuk penjajahan gaya baru,” ujar Junaidi dengan nada geram. “Nelayan lokal kelaparan di lautnya sendiri sementara aparat diam saja ,Ada apa ini? Siapa yang bermain di balik ini semua?”
Junaidi mempertanyakan kinerja aparat penegak hukum yang terkesan pilih kasih , Nelayan kecil yang melakukan kesalahan sedikit saja langsung ditindak tegas, sementara kapal Trawl ilegal dibiarkan beroperasi selama bertahun-tahun , Ia mendesak agar pemerintah pusat turun tangan jika aparat lokal tidak mampu menindak tegas para pelaku.
“Ini bukan hanya tentang ikan, ini tentang masa depan Laut Bawean dan ribuan keluarga yang menggantungkan hidupnya dari laut,” seru Junaidi. “Jika laut rusak, siapa yang bertanggung jawab?”
GMBI Sangkapura mendesak aparat penegak hukum untuk segera bertindak tegas dan menindak para pelaku penangkapan ikan ilegal ini ,Mereka juga meminta pemerintah untuk meningkatkan pengawasan dan perlindungan terhadap ekosistem laut Bawean serta kesejahteraan nelayan tradisional , Kegagalan dalam menangani masalah ini akan berdampak sangat serius terhadap kelestarian lingkungan dan perekonomian masyarakat Bawean.
©©©







