
Teropongindonesianews.com
Jakarta, 8 Juli 2025 – Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI), Wilson Lalengke, melontarkan kecaman keras terhadap Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, yang disebutnya sebagai “profesor bodrex pengangguran ekstrem”.
Pernyataan pedas ini disampaikan Selasa (8/7/2025) sebagai respon atas pernyataan Komaruddin Hidayat dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan DPR RI baru-baru ini, yang dinilai Lalengke sebagai penghinaan terhadap wartawan Indonesia.
Lalengke menyatakan, “Komaruddin Hidayat saya anggap masuk golongan profesor bodrex, pengangguran tingkat tinggi alias ekstrem. Makanya dia mengemis pekerjaan di lembaga Dewan Pers itu.” Ia menambahkan bahwa profesor sejati seharusnya menciptakan lapangan kerja, bukan malah mencari pekerjaan.
Kritikan Lalengke menyasar pernyataan Komaruddin Hidayat yang menuding wartawan di daerah sebagai “wartawan bodrex” dan pemeras pemerintah daerah (Pemda). Lalengke membantah tuduhan tersebut dan justru balik menyalahkan Dewan Pers sebagai biang keladi permasalahan di dunia pers Indonesia.
“Dia tidak paham dunia kewartawanan dan media massa, namun dengan sembrono mengatakan wartawan bodrex terhadap rekan-rekan media di daerah dan menuduh mereka sebagai pemeras Pemda. Padahal selama ini, Dewan Pers-lah yang jadi biang kerok masalah pers di negeri ini,” tegas Lalengke, alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012.
Lalengke juga mempertanyakan kualitas gelar profesor Komaruddin Hidayat dan menyebut Dewan Pers sebagai sarang koruptor, bahkan menyebutnya bersama organisasi binaannya, PWI, terlibat dalam praktik korupsi.
Ia juga menyinggung masalah UKW (Uji Kompetensi Wartawan) ilegal yang dikeluarkan Dewan Pers, yang seharusnya menjadi ranah Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).
“Komaruddin semestinya mendalami berbagai masalah internal Dewan Pers yang baru dipimpinnya. Pahami tugas Dewan Pers berdasarkan UU No. 40 tahun 1999 tentang Pers. Dia juga harus paham tentang UKW ilegal produk Dewan Pers yang semestinya menjadi ranah BNSP. Jadi, jangan banyak bicara menuding wartawan bodrex pelaku pemerasan. Sebut nama wartawan bodrex yang Anda maksud, jangan main tuding ngawur macam orang kesurupan!” seru Lalengke.
Lebih lanjut, Lalengke menilai Dewan Pers tidak berguna bagi pers Indonesia dan hanya menjadi tempat berlindung bagi para profesor dan doktor pengangguran. “Dewan Pers ini sudah sejak lama tidak berguna bagi pers Indonesia, hanya jadi tempat numpang cari kerja bagi para profesor doktor abal-abal pengangguran, seperti Ninik (mantan Ketua Dewan Pers) dan si Komaruddin itu,” pungkas Lalengke, yang dikenal sebagai aktivis yang gigih memperjuangkan hak-hak wartawan dan warga terzholimi. Pernyataan Lalengke ini dipastikan akan memicu kontroversi dan debat publik yang lebih luas mengenai kinerja dan peran Dewan Pers di Indonesia.
Sadek








