
Oleh : Azis Chemoth
Situbondo, 14 Juli 2025
Opini – Meski malam berganti dan musim berlalu, satu hal tetap bertahan di jalanan kota Situbondo balap liar. Di tengah himbauan keselamatan dan perubahan zaman, kebut-kebutan di jalan umum tetap menjadi “ritual malam” yang tak kunjung reda.
Banyak yang menyebutnya kenakalan. Sebagian lagi menyebutnya pelampiasan. Tapi di balik asap knalpot dan tikungan tajam itu, ada narasi lama yang masih berulang: ketika kota tak menyediakan ruang, jalanan akan menampung semua kegelisahan.
Jalan Argopuro, Basuki Rahmat, hingga jalur pantura, semua pernah menjadi saksi. Setiap akhir pekan, deru mesin dan sorak penonton menyatu dalam irama malam. Puluhan motor modifikasi melaju tanpa rambu, tanpa helm, tanpa surat. Tapi yang hadir tak hanya pembalap,ada penonton,penjaga waktu,bahkan pengagum senyap.
Mereka datang bukan untuk menang, tapi untuk merasa hidup , Bagi sebagian pelaku, balap liar bukan sekadar uji nyali. Itu gaya hidup. Itu satu-satunya tempat mereka merasa dilihat. Ketika siang tak memberi ruang, malam jadi satu-satunya panggung.
Banyak cara sudah ditempuh. Tapi balap liar punya daya regenerasi sendiri. Dilarang? Muncul lagi. Dicegah? Pindah lokasi. Ditertibkan? Muncul gelombang baru. Seolah ia bukan sekadar masalah lalu lintas, tapi warisan sosial yang menolak padam.
Situbondo boleh berubah, tetapi selama anak muda tak diberi arah, mereka akan terus mencari kecepatan sebagai jawaban.
Sementara siang hari sibuk dengan wacana pembangunan, malam justru menunjukkan wajah asli kota bising, gelisah, dan penuh tanda tanya.Balap liar bukan hanya soal siapa yang tercepat, tapi juga siapa yang paling merasa tak punya tempat.
Balap liar mungkin bisa dibubarkan malam ini. Tapi selama akar persoalan tak diselesaikan, selama ruang ekspresi anak muda tak dibuka, dan selama kota hanya hidup di siang hari,balap liar tak akan sirna dari Situbondo
***








