
Teropongindonesianews.com
Pesawaran, Lampung – Masyarakat Desa Tamansari, Kabupaten Pesawaran, Lampung, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Menggugat dan Paguyuban Tanjung Kemala, menggelar upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi di Kebun Tanjung Kemala pada Minggu, 17 Agustus 2025
Upacara yang berlangsung khidmat tersebut dipimpin oleh Saprudin Tanjung selaku inspektur upacara, yang juga menjabat sebagai Ketua Aliansi Masyarakat Pesawaran dan Ketua Perjuangan Aliansi Masyarakat Menggugat.
Hadir pula Feri Darmawan, Ketua Forum Komunikasi Wartawan Kabupaten Pesawaran (FKWKP), masyarakat adat setempat, serta para anggota perjuangan Tanah Tanjung Kemala.
Dalam amanatnya, Saprudin Tanjung menekankan makna kemerdekaan sebagai momentum untuk memperkuat semangat dan persatuan dalam perjuangan merebut hak atas tanah ulayat Tanjung Kemala. Beliau menyampaikan,
“Hari ini kita berdiri di tanah perjuangan, Tanah Tanjung Kemala, memperingati hari bersejarah bagi bangsa Indonesia. Kemerdekaan bukan hanya seremonial semata, melainkan semangat untuk terus berjuang mempertahankan hak-hak kita. Perjuangan kita telah berjalan panjang, penuh suka dan duka, namun kita tetap tegak karena ini bukan perjuangan individu, melainkan perjuangan bersama. Tujuan kita jelas: tanah ini harus kembali sepenuhnya kepada kita, dibuktikan dengan Sertifikat Hak Milik yang sah.”Ujar Saprudin

Saprudin Tanjung melanjutkan, “Jangan sampai kita goyah karena hal-hal kecil atau kepentingan sesaat yang bernilai ekonomi, seperti perselisihan masalah garapan, Masalah-masalah ini mudah diselesaikan jika kita bermusyawarah. Persatuan adalah kekuatan kita. ,Jika kita rapatkan barisan, tak ada yang bisa mengalahkan kita , Kemerdekaan bangsa Indonesia diraih karena persatuan, demikian pula perjuangan Tanah Tanjung Kemala hanya akan berhasil jika kita tetap bersatu dan tidak terpecah belah. Mari kita fokus pada tujuan awal, jangan tergoda, jangan mudah diadu domba. Perjuangan ini bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk masa depan anak cucu kita.”Imbuhnya
Senada dengan Saprudin, Feri Darmawan, Ketua FKWKP dan tokoh perjuangan Tanah Tanjung Kemala, menegaskan pentingnya kekompakan dan gotong royong. “Jangan ada yang merasa paling berjasa. Perjuangan di depan tak ada artinya tanpa dukungan di belakang, begitu pula sebaliknya. Gotong royong adalah kunci. Kita sudah berada di puncak perjuangan, jangan biarkan siapa pun memecah belah kita. Dalam setiap perjuangan, pengkhianat dan pengadu domba tidak memiliki tempat terhormat, tempatnya hanya di bawah kaki kita,” tegas Feri.
Upacara peringatan HUT RI ke-80 di Tanjung Kemala menjadi simbol kuat nasionalisme dan sekaligus meneguhkan komitmen para pejuang Tanah Tanjung Kemala untuk menyelesaikan perjuangan hingga titik akhir, yaitu pengakuan sah atas tanah mereka berupa Sertifikat Hak Milik.
Rangkaian acara HUT RI ke-80 di Tanah Tanjung Kemala juga dimeriahkan oleh kegiatan jalan sehat, pertunjukan kuda kepang, dan hiburan rakyat lainnya.
Bang Ain








